Crew-13 SpaceX Cetak Rekor Perjalanan Tercepat ke ISS, Rusia-AS Tetap Bersatu di Orbit
Baca dalam 60 detik
- Empat astronot Crew-13 tiba di ISS dengan waktu tempuh 7 jam 55 menit, memecahkan rekor kecepatan misi AS ke stasiun luar angkasa.
- Peluncuran sempat tertunda karena kebocoran kapsul Dragon, sementara Crew-12 bersiap kembali ke Bumi dalam hitungan hari.
- Kolaborasi AS-Rusia di ISS terus berjalan meski hubungan diplomatik memburuk pasca-invasi Ukraina, dan stasiun akan dipensiunkan sekitar 2030.

Empat anggota kru baru International Space Station (ISS) resmi menambatkan kapsul mereka di laboratorium orbit tersebut pada Kamis, setelah menempuh perjalanan yang memecahkan rekor sebagai misi tercepat dari Amerika Serikat menuju stasiun luar angkasa. Roket SpaceX Falcon 9 yang membawa tim Crew-13 lepas landas pukul 11.10 waktu setempat dari Cape Canaveral, Florida, dan hanya berselang 7 jam 55 menit kemudian kapsul Dragon bernama "Grace" merapat di salah satu port ISS.
Rekor kecepatan ini menjadi sorotan karena misi sebelumnya dari wilayah AS membutuhkan waktu lebih dari 30 jam untuk mencapai stasiun. Durasi penerbangan memang sangat bergantung pada posisi relatif antara ISS dan kapsul saat peluncuran. Dalam siaran langsung NASA TV, kapsul terlihat meluncur perlahan mendekati ISS yang bergerak dengan kecepatan sekitar 28.163 km per jam. "Dragon SpaceX on the big loop. Hard capture is complete," ujar seorang petugas kontrol darat, menandai selesainya proses penambatan.
Setelah proses penambatan, para astronot akan memasuki stasiun melalui vestibul bertekanan. Crew-13 menggantikan Crew-12 yang terdiri dari Jessica Meir, Jack Hathaway (AS), Sophie Adenot (Prancis), dan Andrey Fedyaev (Rusia). Crew-12 dijadwalkan kembali ke Bumi paling cepat Senin, meski jadwalnya masih bergantung pada kondisi cuaca.
Misi ini sempat mengalami penundaan. Peluncuran awalnya dijadwalkan pada pertengahan September, namun ditunda akibat kebocoran pada kapsul Dragon. Penundaan tersebut menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi antariksa semakin maju, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Bagi Kanada, misi ini menghadirkan cerita personal: astronot Joshua Kutryk akan menyambut kelahiran anaknya saat ia berada di orbit, karena istrinya diperkirakan melahirkan selama masa tinggalnya di ISS.
"Dragon SpaceX on the big loop. Hard capture is complete." โ Petugas kontrol darat NASA, menandai selesainya penambatan.
ISS sendiri telah dihuni secara terus-menerus selama seperempat abad terakhir. Namun, stasiun yang menua ini dijadwalkan keluar dari orbit dan jatuh ke salah satu samudra Bumi sekitar tahun 2030. Meski banyak perjanjian kerja sama internasional runtuh setelah Moskow menginvasi Ukraina pada 2022, Amerika Serikat dan mitra ISS lainnya tetap melanjutkan kolaborasi dengan Rusia di stasiun tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah ketegangan geopolitik, kerja sama antariksa masih menjadi ruang netral yang dipertahankan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menegaskan bahwa akses ke luar angkasa semakin kompetitif dan bergantung pada aliansi strategis. Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, perlu memperkuat kapasitas teknologi antariksa jika ingin berperan dalam ekonomi orbit yang diproyeksikan tumbuh pesat. Kerja sama multilateral di ISS bisa menjadi model bagi inisiatif serupa di kawasan, terutama dalam menghadapi tantangan iklim dan komunikasi satelit.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal siapa yang bisa mencapai orbit tercepat, tetapi bagaimana stasiun luar angkasa generasi berikutnya akan dikelola setelah ISS pensiun. Apakah negara-negara akan mampu mempertahankan semangat kolaborasi yang sama, atau justru terpecah oleh rivalitas geopolitik yang semakin tajam?



