Starship Akhirnya Sentuh Orbit, tapi Mesin Mati dan Ledakan di Laut Jadi Alarm bagi Ambisi Bulan NASA
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan ke-14 Starship mencatat rekor sebagai misi pertama yang mencapai orbit, meski satu dari 33 mesin mati tak lama setelah lepas landas.
- Kegagalan mesin memaksa SpaceX memangkas durasi misi dari 10 jam menjadi 3 jam 8 menit, berakhir dengan ledakan terkendali di Samudra Pasifik.
- Insiden ini memunculkan keraguan baru terhadap kesiapan Starship sebagai pendarat bulan untuk misi Artemis NASA pada 2028.

SpaceX mencetak tonggak sejarah sekaligus menerima pukulan telak dalam satu hari. Roket Starship untuk pertama kalinya berhasil menembus orbit Bumi pada Senin (28/9), tetapi kehilangan satu mesin di fase kritis membuat misi ke-14 itu berakhir lebih cepat dari rencana dan berujung ledakan saat mendarat di Samudra Pasifik.
Peluncuran berlangsung dari Starbase di Boca Chica, Texas, pukul 08.49 waktu setempat. Sekitar 33 mesin Raptor mendorong roket terbesar dan terkuat yang pernah dibangun manusia itu meninggalkan landasan. Namun tak lama setelah lepas landas, salah satu mesin mati. Tim misi sempat ragu apakah melanjutkan ke orbit atau membatalkan. Setelah beberapa menit menegangkan, perintah "Go for orbit" akhirnya diucapkan, dan Starship melesat hingga ketinggian 275 kilometer di atas permukaan Bumi.
Di orbit, Starship sempat menuntaskan salah satu tugas utamanya: melepaskan 26 satelit Starlink V3 yang dirancang mempercepat dan memperkuat layanan internet konstelasi satelit SpaceX. Namun karena kehilangan mesin, SpaceX memutuskan tidak membiarkan roket bertahan di angkasa selama 10 jam seperti rencana awal. Starship dipulangkan setelah 3 jam 8 menit, lalu meledak saat menghantam laut โ sebuah prosedur yang memang diantisipasi, meski SpaceX jelas lebih berharap roketnya utuh seperti pada penerbangan ke-13.
Bagi SpaceX, capaian orbit ini bukan sekadar simbol. Selama ini Starship hanya terbang suborbital, dan perusahaan menyebut orbit sebagai "fase berikutnya" menuju roket yang sepenuhnya dapat digunakan ulang. Namun rekam jejak Starship belum sepenuhnya mulus. Penerbangan ke-7 dan ke-8 meledak dan menghujani langit dengan puing membara. Penerbangan ke-9 gagal mencapai target, dan sebuah prototipe meledak di landasan saat uji rutin menjelang misi ke-10. Baru pada Agustus 2025 Starship mencatat penerbangan sukses meski sempat rusak, disusul penerbangan ke-11 yang bersih pada Oktober. Dua penerbangan terakhir, Maret dan Juli 2026, sukses lepas landas dan mendarat terkendali, tetapi bermasalah pada booster.
"Ini adalah peluncuran paling ambisius yang pernah kami lakukan," ujar tim SpaceX dalam siaran langsung misi tersebut, seraya menegaskan bahwa orbit adalah langkah krusial menuju roket yang bisa dipakai berulang kali.
Yang membuat misi ini kian krusial adalah taruhannya bagi NASA. Badan antariksa Amerika Serikat itu menggantungkan rencana kembali ke Bulan pada awal 2028 melalui program Artemis IV, yang membutuhkan pendarat komersial untuk mengangkut astronot dari orbit Bulan ke permukaan. SpaceX sedang mengembangkan varian Starship khusus pendarat Bulan. Sementara itu, rivalnya, Blue Origin, masih tertinggal โ roket New Glenn-nya bahkan meledak hebat pada Mei lalu. Artinya, keberhasilan Artemis sangat bergantung pada kesiapan Starship.
Pada Artemis III tahun depan, NASA akan menguji docking antara kapsul Orion dan satu atau dua pendarat komersial di orbit rendah Bumi. Lembaga itu sudah menegaskan bahwa kesiapan pendarat akan menentukan siapa penyedia komersial yang mendapat hak mengantar astronot ke permukaan Bulan pada 2028. Namun masalah mesin yang baru saja terjadi memunculkan pertanyaan besar: mampukah SpaceX mengejar tenggat yang sangat ketat itu?
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika Starship dan Artemis bukan sekadar tontonan teknologi. Program Starlink yang dioperasikan SpaceX telah beroperasi di Tanah Air dan menjadi tulang punggung konektivitas di daerah terpencil, termasuk sektor maritim dan pendidikan. Keberhasilan peluncuran satelit V3 akan berdampak langsung pada peningkatan kecepatan dan keandalan internet yang dinikmati pengguna di Indonesia. Di sisi lain, keterlambatan Artemis dapat menggeser peta kerja sama antariksa global, termasuk peluang Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok komponen atau riset bersama. Jika Starship tersendat, negara-negara yang menggantungkan ambisi antariksa pada kemitraan dengan NASA dan SpaceX perlu menyiapkan skenario alternatif.
Pertanyaannya kini, apakah SpaceX mampu memperbaiki masalah mesin sebelum jadwal Artemis III tahun depan, atau justru tenggat 2028 yang harus bergeser? Publik Indonesia yang bergantung pada layanan satelit pun berkepentingan mengikuti perkembangan ini, karena setiap penundaan di Texas bisa berdampak pada kualitas sinyal di pelosok Nusantara.



