Starship SpaceX Cetak Sejarah Orbit, Meski Satu Mesin Raptor Mati di Tengah Jalan
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan ke-14 Starship berhasil menempatkan 26 satelit Starlink V3 di orbit, menandai debut orbital pertama roket raksasa tersebut.
- Kendala teknis pada satu dari tiga mesin Raptor memaksa misi dipangkas dari 10 jam menjadi 3 jam, namun kru berhasil mengaktifkan kembali mesin untuk koreksi lintasan.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi operasi rutin Starship akhir tahun, dengan target peluncuran 60 satelit V3 per misi yang berpotensi menambah pendapatan Starlink hingga ratusan juta dolar.

SpaceX menorehkan tonggak baru dalam sejarah antariksa komersial. Roket Starship akhirnya mencapai orbit Bumi untuk pertama kalinya pada Senin (14/4), kendati harus melewati insiden matinya salah satu mesin Raptor saat menembus batas atmosfer. Misi yang semula dijadwalkan berlangsung 10 jam itu dipangkas menjadi tiga jam, namun tetap sukses menggelar 26 satelit Starlink V3 ke lintasan orbit.
Insiden terjadi tak lama setelah Starship memasuki ruang hampa. Satu dari tiga mesin Raptor utama mati mendadak, memaksa juru bicara SpaceX, Dan Huot, mengumumkan kepada penonton siaran langsung bahwa wahana tidak akan sampai ke orbit. Namun beberapa menit berselang, tim rekayasa memverifikasi bahwa mesin masih bisa dinyalakan ulang. Pembakaran ulang itu berhasil mendorong Starship ke orbit yang dituju—sebuah pembalikan dramatis yang menggarisbawahi kompleksitas sistem propulsi roket generasi baru ini.
Setelah berada di orbit, Starship melepaskan seluruh 26 satelit. CEO SpaceX, Elon Musk, menyatakan bahwa satelit-satelit tersebut beroperasi secara nominal. Meski demikian, gangguan mesin tadi turut meningkatkan risiko pada tahap deorbit, karena satu mesin Raptor harus dinyalakan di ruang hampa untuk memposisikan wahana secara presisi sebelum masuk kembali ke atmosfer. Keberhasilan deorbit menjadi krusial agar Starship tidak berakhir sebagai sampah antariksa yang membahayakan.
Bagi pasar Indonesia, capaian ini bukan sekadar berita teknologi. Starlink telah beroperasi di Tanah Air sejak 2024 dan menjadi tulang punggung konektivitas di daerah terpencil, terutama di kawasan timur Indonesia. Kapasitas V3 yang jauh lebih besar berpotensi menekan biaya layanan internet satelit, membuka peluang bagi penyedia lokal untuk bermitra atau bersaing. Namun, dominasi SpaceX dalam konstelasi orbit rendah juga memunculkan kekhawatiran soal kedaulatan data dan ketergantungan pada infrastruktur asing—isu yang semakin sering dibahas di forum kebijakan telekomunikasi ASEAN.
"Ini adalah langkah besar menuju operasi rutin Starship. Kami akan meningkatkan tempo peluncuran secara signifikan tahun ini," ujar Musk dalam konferensi pers pasca-misi, seperti dikutip dari siaran resmi SpaceX.
SpaceX berencana memulai operasi rutin Starship pada akhir tahun ini, dengan target meluncurkan 60 satelit V3 per misi—dua kali lipat dari kapasitas saat ini. Jika terwujud, frekuensi peluncuran yang lebih tinggi akan mempercepat perluasan jaringan Starlink global, termasuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri tengah menyiapkan regulasi baru terkait tata kelola orbit rendah dan kerja sama penyedia satelit asing, yang akan menentukan seberapa besar manfaat teknologi ini bisa dinikmati tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
Ke depan, tantangan terbesar SpaceX bukan lagi mencapai orbit, melainkan membuktikan keandalan Starship untuk misi berulang. Dengan satu mesin yang sempat mati, pertanyaan tentang redundansi sistem dan keselamatan peluncuran berawak akan semakin mengemuka. Bagi Indonesia, pilihan ada di tangan regulator: mempercepat adopsi untuk pemerataan digital, atau memperketat seleksi demi menjaga kedaulatan teknologi.



