Goldman Sachs Buka Akses Dana Treasury US$100 Miliar ke Perusahaan Kripto Tanpa Tokenisasi
Baca dalam 60 detik
- Goldman Sachs menyalurkan dana Treasury senilai sekitar US$100 miliar ke perusahaan aset digital melalui jaringan penyelesaian Lynq, bukan dengan membuat versi token.
- Langkah ini berbeda dari strategi BlackRock dan Franklin Templeton yang memilih tokenisasi, dan menandai masuknya infrastruktur keuangan tradisional ke alur kerja kripto institusional.
- Ke depan, model distribusi tanpa tokenisasi ini dapat menjadi cetak biru bagi bank lain yang ingin melayani klien kripto tanpa membangun produk blockchain baru.

Goldman Sachs resmi membuka akses salah satu dana Treasury terbesarnya, FTIXX, kepada perusahaan aset digital melalui jaringan penyelesaian Lynq. Dana kelolaan sekitar US$100 miliar itu tidak diubah menjadi token, melainkan tetap sebagai produk tradisional yang kini dapat dijangkau oleh firma kripto institusional.
Langkah ini menandai perbedaan arah dengan sebagian besar inisiatif Wall Street lain yang memilih tokenisasi. BlackRock membangun BUIDL sebagai dana token, sementara Franklin Templeton menawarkan saham token dari dana pasar uangnya lewat BENJI. Goldman memilih jalur berbeda: tidak membuat produk blockchain baru, tetapi membawa dana yang sudah mapan ke dalam alur kerja yang selama ini dipakai perusahaan aset digital untuk memindahkan uang.
Lynq, jaringan penyelesaian yang digunakan perusahaan kripto, menjadi saluran distribusi baru bagi FTIXX. Transaksi ditangani oleh tZERO Securities, broker-dealer terdaftar SEC. Ini adalah dana eksternal pertama yang tersedia di Lynq, yang sebelumnya hanya memiliki satu produk investasi. Bagi klien Lynq, FTIXX memberi tempat untuk menempatkan kas di antara transaksi agar tidak menganggur, dengan potensi imbal hasil yang bisa ditarik kembali saat dibutuhkan.
CEO Lynq Jerald David menyatakan bahwa langkah ini merespons permintaan klien yang menginginkan aset treasury dengan profil imbal hasil berbeda dari instrumen yang sudah ada. "Kami perlu menunjukkan bahwa ada permintaan klien," ujarnya dalam wawancara dengan CoinDesk TV. Ia menambahkan bahwa platform Lynq kini mampu menangani berbagai aset dan FTIXX menjadi aset kedua yang tersedia bagi klien institusional.
"Ada konvergensi yang sekarang terlihat antara pelaku pasar tradisional dan pelaku pasar aset digital," kata Jerald David, CEO Lynq.
Untuk mengintegrasikan FTIXX, Lynq harus menyesuaikan teknologinya, membatasi akses hanya untuk klien Amerika Serikat, dan terhubung dengan Mosaic. Pelanggan juga perlu memiliki hubungan dengan tZERO Securities serta memenuhi syarat onboarding dan kelayakan. Langkah ini menunjukkan bahwa adopsi institusional tidak selalu berarti tokenisasi, tetapi bisa berupa penyediaan akses ke produk tradisional melalui infrastruktur yang sudah ada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dapat menjadi sinyal bahwa infrastruktur keuangan global semakin terbuka bagi aset digital. Perusahaan kripto lokal yang ingin menarik dana institusional mungkin perlu menjajaki kemitraan dengan jaringan penyelesaian serupa atau broker-dealer terdaftar. Regulator dalam negeri, seperti OJK dan Bappebti, dapat mempertimbangkan kerangka kerja yang memungkinkan produk Treasury tradisional diakses melalui platform aset digital tanpa harus menciptakan token baru. Ini berpotensi memperluas basis investor institusional di pasar kripto Indonesia yang selama ini didominasi ritel.
Ke depan, pertanyaannya apakah bank-bank besar lain akan mengikuti jejak Goldman dengan memanfaatkan jaringan penyelesaian yang sudah ada, atau tetap memilih tokenisasi sebagai standar. Jika model Lynq berhasil, lanskap distribusi dana institusional bisa bergeser tanpa perlu revolusi blockchain.



