Bayar Bitcoin Tanpa Internet? Eksperimen Jaringan "Find My" Apple Picu Perdebatan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengembang Cashu mengirim token ecash melalui jaringan Find My Apple tanpa koneksi internet, memanfaatkan ponsel sekitar sebagai perantara.
- Metode ini menyoroti potensi celah privasi dan keamanan karena token dikirim tanpa enkripsi dan dapat diambil siapa pun yang menangkap sinyal.
- Meski masih sebatas eksperimen, inovasi ini membuka diskusi tentang pembayaran Bitcoin offline dan implikasinya bagi adopsi di Indonesia.

Seorang pengembang perangkat lunak berhasil mengirim Bitcoin melalui jaringan pelacakan "Find My" milik Apple tanpa memerlukan koneksi internet pada perangkat pengirim. Eksperimen ini menggunakan papan ESP32 murah yang memancarkan sinyal Bluetooth menyerupai beacon barang hilang, lalu diteruskan oleh iPhone di sekitarnya. Token Cashu—protokol ecash yang menjaga privasi pembayaran Bitcoin—dipindahkan sedikit demi sedikit hingga diterima penerima. Prestasi teknis ini sontak menjadi perbincangan di komunitas kripto karena dianggap sebagai salah satu cara paling tidak lazim untuk mentransfer nilai.
Dalam unggahan di platform X, pengembang Cashu yang dikenal dengan nama calle menyebut eksperimen ini sebagai "medium paling absurd untuk mengirim Bitcoin". Kode sumber terbuka yang dipublikasikan di GitHub menunjukkan bahwa perangkat hanya mengirimkan dua bit data per sinyal. Akibatnya, satu token utuh membutuhkan lebih dari seribu siaran Bluetooth. Penerima kemudian mengumpulkan laporan dari jaringan Find My melalui akun Apple dan merakit ulang token menggunakan skrip Python. Proses ini memakan waktu dan tidak praktis untuk transaksi sehari-hari.
Meski terkesan revolusioner, eksperimen ini menyimpan risiko besar. Karena token tidak dienkripsi, siapa pun yang menangkap sinyal Bluetooth dapat mengambil token tersebut. Dokumentasi proyek secara eksplisit memperingatkan agar hanya mengirim jumlah kecil—seperti hadiah atau uji coba—dan menegaskan bahwa pengiriman bersifat lambat, tidak resmi, serta tanpa jaminan. Selain itu, penerima mengakses jaringan Find My melalui antarmuka tidak resmi, sehingga fungsionalitas dapat hilang jika Apple mengubah kebijakan atau teknisnya.
"Ini mungkin cara paling absurd untuk mengirim Bitcoin, tapi menunjukkan bahwa batas antara jaringan komunikasi dan pembayaran semakin kabur," tulis pengembang tersebut di X.
Eksperimen ini bukanlah produk pembayaran, melainkan sebuah proof-of-concept yang menggabungkan teknologi pelacakan barang dengan protokol ecash. Cashu sendiri dirancang untuk transaksi Bitcoin yang lebih privat melalui token yang diterbitkan oleh mint. Sementara itu, pengembang lain tengah mengejar transfer Bitcoin privat di lapisan dasar (base layer) dengan pendekatan berbeda. Kehadiran eksperimen ini menandai bahwa inovasi di ruang kripto terus mencari celah di luar infrastruktur internet konvensional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan perspektif baru. Dengan penetrasi smartphone yang tinggi—terutama iPhone—dan wilayah terpencil yang masih minim koneksi internet, metode semacam ini bisa menjadi alternatif untuk pengiriman nilai di daerah terpencil. Namun, risiko keamanan dan ketidakpastian regulasi menjadi penghalang utama. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia belum mengatur secara spesifik transaksi Bitcoin, apalagi yang memanfaatkan jaringan pihak ketiga seperti Find My. Jika diadopsi, diperlukan pengawasan ketat untuk mencegah penyalahgunaan, misalnya pencucian uang atau pendanaan ilegal.
Ke depan, pertanyaannya bukan apakah metode ini akan menjadi standar, melainkan seberapa jauh pengembang akan mendorong batas infrastruktur yang ada. Apple bisa saja menutup celah ini, tetapi semangat open-source dan kebutuhan akan pembayaran tanpa internet akan terus memicu eksperimen serupa. Apakah regulator di Indonesia siap mengantisipasi gelombang inovasi semacam ini, atau justru tertinggal dari perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat dari regulasi?



