KRI Sriwijaya-100: Kapal Induk untuk Perang dan Penanganan Bencana, Ini Kata Bakom
Baca dalam 60 detik
- Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyatakan KRI Sriwijaya-100 tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
- Kapal induk eks Giuseppe Garibaldi ini resmi masuk jajaran TNI AL pada 24 September 2026 dan diprioritaskan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
- Dengan geografi kepulauan yang rawan bencana, kehadiran kapal induk dinilai menjadi tulang punggung respons darurat nasional dan proyeksi kekuatan maritim Indonesia.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan bahwa kehadiran kapal induk KRI Sriwijaya-100 memperkuat pertahanan Indonesia sekaligus menjadi instrumen strategis untuk penanganan bencana. Pernyataan itu disampaikan Qodari pada Senin (28/9/2026), merespons serah terima kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia yang resmi berganti nama dan bendera pada 24 September 2026.
Qodari menjelaskan, kemampuan KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan. Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas dan kondisi geografis beragam membutuhkan kemampuan bergerak cepat menjangkau berbagai wilayah. "Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang semakin kuat, mandiri, tangguh, dan siap melindungi rakyat dalam setiap keadaan," ujar Qodari.
Lebih dari sekadar modernisasi alutsista, Qodari menilai kehadiran kapal induk ini menjawab tantangan distribusi bantuan saat bencana. Ia menyoroti risiko gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga keadaan darurat lain yang kerap menghambat akses darat. "Tantangan berikutnya adalah bagaimana bantuan, personel, dan kebutuhan pokok dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama ketika jalan, jembatan, pelabuhan, atau fasilitas lainnya mengalami gangguan. Di sinilah KRI Sriwijaya-100 dapat memberikan manfaat nyata," imbuhnya.
Kepala Bakom RI menambahkan, KRI Sriwijaya-100 memiliki kemampuan mendukung pergerakan helikopter serta mengangkut dan menyalurkan logistik dalam jumlah besar. Fleksibilitas ini memungkinkan kapal menjangkau wilayah terisolasi yang sulit diakses jalur darat. "Kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berbicara mengenai bertambahnya kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal ini juga dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat dan membantu masyarakat ketika mereka membutuhkan," tutup Qodari.
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Kamis, 24 September 2026. Saya, Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI, dengan ini saya resmikan KRI Sriwijaya-100 masuk dalam jajaran TNI Angkatan Laut." โ Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI
Serah terima berlangsung di Jakarta dengan prosesi penurunan bendera Italia dan pengibaran Merah Putih di geladak kapal. Momen itu menandai resminya Giuseppe Garibaldi menjadi bagian TNI Angkatan Laut dengan nama KRI Sriwijaya-100. Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar penambahan armada, melainkan lompatan kemampuan proyeksi maritim yang selama ini belum dimiliki.
Dari perspektif pertahanan, kapal induk memberi Indonesia kemampuan operasi laut yang lebih jauh dan lama, termasuk untuk misi kemanusiaan di kawasan. Namun, pengoperasian kapal sebesar ini menuntut kesiapan infrastruktur, personel terlatih, dan anggaran pemeliharaan yang tidak kecil. Pemerintah perlu memastikan bahwa pengadaan alutsista ini diikuti dengan perencanaan logistik dan pelatihan berkelanjutan agar tidak menjadi beban fiskal di kemudian hari.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional, kehadiran KRI Sriwijaya-100 membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kapal ini dapat mempercepat respons bencana yang selama ini menjadi titik lemah distribusi bantuan. Di sisi lain, biaya operasional dan pemeliharaan kapal induk berpotensi menggerus anggaran pertahanan jika tidak dikelola transparan. Publik berhak mengetahui skema pembiayaan dan target kesiapan operasional kapal ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya: akankah KRI Sriwijaya-100 benar-benar menjadi tulang punggung penanganan bencana, atau justru simbol kekuatan yang jarang digunakan? Ujiannya terletak pada kesiapan misi kemanusiaan pertama dan seberapa cepat kapal ini dapat dikerahkan saat darurat. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga tangguh dalam melindungi rakyat dari ancaman bencana.



