Dedi Prasetyo Pastikan Serah Terima Pataka dan Pelepasan Digelar Jumat di Mabes Polri
Baca dalam 60 detik
- Mantan Wakapolri Jenderal Dedi Prasetyo memastikan seluruh rangkaian serah terima jabatan, penyerahan pataka, hingga pelepasan akan berlangsung di Mabes Polri, Jumat (2/10/2026).
- Dedi akan menempati posisi Kepala Badan Reforma Agraria Nasional, sementara mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dipercaya sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
- Estafet kepemimpinan Polri kini dipegang Kapolri Suyudi Ario Seto dan Wakapolri Wahyu Hadiningrat, dengan dukungan penuh dari para senior untuk memperbaiki institusi.

Jenderal Dedi Prasetyo memastikan rangkaian upacara pergantian kepemimpinan di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia akan digelar pada Jumat (2/10/2026). Agenda tersebut mencakup serah terima pataka, acara pisah sambut, serta pelepasan jabatan yang akan dipusatkan di Mabes Polri, Jakarta Selatan.
Mantan Wakapolri itu mengungkapkan bahwa persiapan telah dimatangkan sejak Kamis. "Persiapan, nanti ada acara penyerahan pataka, kemudian ada acara pisah sambut, dan ada acara pelepasan. Insya Allah akan dilaksanakan semuanya besok," ujar Dedi saat ditemui di Rupatama Mabes Polri, Kamis (1/10/2026).
Rotasi ini menandai babak baru dalam tubuh Polri. Dedi, yang sebelumnya menduduki kursi Wakapolri, akan mengemban tugas sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional. Sementara itu, mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dipercaya mengisi posisi Kepala Staf Kepresidenan. Kedua penunjukan tersebut mencerminkan pola rekrutmen pejabat lintas sektor yang kian cair di era pemerintahan saat ini.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi menyampaikan harapannya agar Polri di bawah komando Kapolri Suyudi Ario Seto dan Wakapolri Wahyu Hadiningrat mampu meningkatkan kinerja. "Insya Allah di bawah kepemimpinan Pak Suyudi, Pak Kapolri, dan Pak Wakapolri Pak Wahyu, insya Allah ya Polri akan menjadi semakin lebih baik," tuturnya.
"Kami sebagai senior-senior tetap akan memberikan support kepada beliau-beliau. Kami selalu akan dukung beliau-beliau untuk memimpin Polri pasti akan menjadi lebih baik ke depannya."
โ Jenderal Dedi Prasetyo, Mantan Wakapolri
Dukungan dari para senior menjadi sinyal penting stabilitas internal. Transisi kepemimpinan di institusi penegak hukum kerap menjadi momen rawan gesekan, terutama ketika sejumlah perwira tinggi harus menyesuaikan diri dengan struktur baru. Pernyataan Dedi setidaknya meredam spekulasi soal potensi friksi di internal korps Bhayangkara.
Lebih dari sekadar seremonial, pergantian ini menyangkut arah kebijakan Polri ke depan. Kapolri Suyudi Ario Seto mewarisi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari penanganan kasus menonjol, reformasi birokrasi, hingga penguatan pengawasan internal. Publik menanti apakah estafet kepemimpinan ini akan mempercepat pembenahan yang selama ini ditunggu.
Sejumlah pengamat kepolisian menilai bahwa komposisi pimpinan anyar perlu segera menetapkan prioritas. Isu seperti profesionalisme penyidikan, transparansi penanganan perkara, dan perlindungan hak asasi manusia menjadi ujian awal. Tanpa langkah konkret, momentum transisi hanya akan berlalu tanpa perubahan berarti.
Di sisi lain, penempatan Dedi di Badan Reforma Agraria Nasional dan Listyo Sigit di Kantor Staf Kepresidenan menunjukkan bahwa pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman kepolisian untuk sektor-sektor strategis. Reforma agraria dan koordinasi kebijakan presiden membutuhkan figur dengan rekam jejak kepemimpinan kuat, terutama dalam menghadapi potensi konflik sosial di daerah.
Rangkaian upacara Jumat nanti akan menjadi penanda resmi berakhirnya tugas Dedi sebagai Wakapolri. Setelah pataka diserahkan, tongkat komando kepolisian sepenuhnya berada di tangan Suyudi dan Wahyu. Masyarakat kini menunggu gebrakan awal: apakah janji perbaikan institusi akan terwujud dalam 100 hari pertama, ataukah pergantian ini sekadar rotasi rutin tanpa dampak signifikan bagi penegakan hukum di Indonesia?



