Netflix Ubah Strategi Rilis: 'KPop Demon Hunters 2' Akan Tayang Luas di Bioskop
Baca dalam 60 detik
- Netflix mengonfirmasi sekuel 'KPop Demon Hunters' akan mendapat rilis teatrikal luas, menandai pergeseran kebijakan distribusi perusahaan.
- Keputusan ini diambil setelah rilis terbatas film pertama meraup pendapatan signifikan dan menunjukkan permintaan pasar yang kuat.
- Langkah tersebut berpotensi mengubah lanskap industri streaming dan distribusi film global, termasuk dampaknya bagi pasar Indonesia.

Netflix secara resmi mengumumkan bahwa sekuel film animasi terpopuler mereka, KPop Demon Hunters 2, akan mendapatkan perilisan teatrikal yang luas. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, dalam sebuah acara industri di Los Angeles, menandai perubahan signifikan dalam strategi distribusi raksasa streaming tersebut.
Keputusan ini muncul setelah kesuksesan tak terduga dari perilisan terbatas film pertamanya. Meskipun awalnya hanya tayang selama dua hari pada Agustus 2025, antusiasme penonton memaksa Netflix untuk menggelar kembali pemutaran di bioskop pada akhir Oktober hingga awal November. Langkah tersebut terbukti menguntungkan, dengan pendapatan kotor mencapai US$18 juta hingga US$20 juta dari 1.700 layar di Amerika Utara.
Bagi Netflix, yang selama ini identik dengan model menonton di rumah, langkah ini merupakan sebuah eksperimen berani. Namun, data menunjukkan bahwa penonton paling loyal—mereka yang biasanya langsung menonton saat perilisan—justru lebih memilih pengalaman menonton di bioskop. Hal ini mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan kembali strategi mereka, terutama untuk waralaba besar yang memiliki basis penggemar luas.
Sarandos menekankan bahwa pihaknya sedang mengkaji model bisnis ini dengan hati-hati. "Kami ingin melayani penonton yang ingin menonton di bioskop, tetapi juga tidak boleh merusak nilai bagi Netflix," ujarnya. Ia menambahkan bahwa penonton yang paling bersemangat cenderung menonton di bioskop terlebih dahulu, sehingga ketika film tersedia di platform streaming, mereka yang menonton adalah audiens yang berbeda.
"Ketika sekuel KPop Demon Hunters datang, Anda bisa mengharapkan perilisan teatrikal yang sangat luas," kata Ted Sarandos.
Langkah ini bukan tanpa risiko. Netflix harus menyeimbangkan antara menarik penonton bioskop dan menjaga basis pelanggan streaming mereka. Namun, dengan semakin banyaknya judul yang mendapatkan perilisan teatrikal—seperti Narnia karya Greta Gerwig dan adaptasi animasi Charlie vs. The Chocolate Factory—Netflix tampaknya serius menggarap pasar ini.
Bagi Indonesia, perubahan strategi Netflix ini bisa berdampak pada ekosistem bioskop nasional. Jika film-film Netflix mulai tayang secara luas di bioskop, hal ini dapat meningkatkan jumlah penonton dan pendapatan bagi jaringan bioskop lokal. Namun, tantangannya adalah memastikan ketersediaan jadwal dan distribusi yang merata, terutama di luar kota-kota besar. Selain itu, harga tiket yang terjangkau menjadi kunci agar tidak terjadi kesenjangan akses.
Ke depan, apakah model hibrida ini akan menjadi standar baru bagi Netflix? Ataukah ini hanya strategi sementara untuk judul-judul tertentu? Yang jelas, industri film global sedang menyaksikan babak baru dalam pertarungan antara streaming dan bioskop, dan Netflix tampaknya siap untuk mengambil peran lebih besar di layar lebar.



