5.250 Personel Dikerahkan Amankan Indonesia vs Malaysia di ASEAN Cup 2026, Gas Air Mata Dilarang di Dalam Stadion
Baca dalam 60 detik
- Polri menggelar Operasi Garuda Bhakti 2026 dengan 5.250 personel untuk laga Indonesia vs Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, terbagi antara Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat.
- Pengamanan didukung lebih dari 6.000 kamera CCTV dan tiga drone, sementara setiap kontingen peserta mendapat pengawalan melekat oleh Liaison Officer dari Divhubinter Polri.
- Wakapolri menekankan pendekatan persuasif dan melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion, dengan pembagian tanggung jawab jelas antara penyelenggara dan aparat keamanan.

JAKARTA โ Kepolisian Negara Republik Indonesia mengerahkan 5.250 personel untuk mengamankan pertandingan Indonesia melawan Malaysia dalam ajang ASEAN Cup 2026. Jumlah itu terbagi ke dalam dua wilayah hukum: 3.834 personel di Polda Metro Jaya dan 1.705 personel di Polda Jawa Barat. Peninjauan langsung terhadap Posko Utama Operasi Garuda Bhakti 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, dilakukan oleh Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo pada Senin (28/9/2026).
Selain kekuatan personel, Polri menyiapkan infrastruktur pengawasan yang masif: lebih dari 6.000 titik kamera CCTV dan tiga unit drone yang akan memantau pergerakan penonton serta area sekitar stadion. Kombinasi ini menandai pendekatan pengamanan yang lebih terukur dibandingkan sekadar penempatan massa aparat. Dedi menegaskan bahwa tugas kepolisian bukan hanya mengamankan pertandingan, melainkan juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat serta pihak yang hadir.
Dalam arahannya, Dedi meminta jajarannya mengedepankan komunikasi, imbauan, pencegahan, dan tindakan persuasif. Setiap tindakan di lapangan harus sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku. Ia juga melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion dalam situasi kontingensi. "Pembagian kewenangan antara penyelenggara dan aparat keamanan. Area dalam stadion menjadi tanggung jawab penyelenggara, sedangkan aparat mengamankan area luar sesuai pembagian tugas," ujar Dedi melalui keterangan tertulis.
Pengamanan terhadap kontingen peserta ASEAN Cup juga menjadi perhatian. Setiap kontingen akan mendapat pengawalan melekat dengan didampingi satu Liaison Officer (LO) dari Divhubinter Polri. LO tersebut bertugas mendukung keamanan kontingen, termasuk selama berada di akomodasi, selama 24 jam. Langkah ini menunjukkan bahwa aspek diplomatik dan protokoler internasional turut diperhitungkan, bukan hanya ketertiban di dalam stadion.
Dedi menekankan bahwa setiap pertandingan dan event besar harus meninggalkan pengetahuan. "Catat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki," ujarnya. Evaluasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas operasi pada pertandingan atau kegiatan berikutnya. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang kerap menjadi tuan rumah agenda olahraga regional dan internasional.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya para investor dan pelaku industri pariwisata, pengamanan skala besar ini menimbulkan efek berganda. Kehadiran ribuan personel dan penonton berpotensi menggerakkan sektor akomodasi, transportasi, dan UMKM di sekitar Senayan. Namun, biaya operasional yang tidak kecil juga menjadi catatan tersendiri. Keberhasilan pengamanan akan menjadi tolok ukur kepercayaan publik dan internasional terhadap kemampuan Indonesia mengelola event berskala besar, yang pada gilirannya memengaruhi peluang menjadi tuan rumah turnamen bergengsi lainnya.
Ke depan, publik akan menantikan apakah pendekatan persuasif dan pembagian tanggung jawab yang jelas mampu mencegah insiden seperti kerusuhan atau penggunaan gas air mata yang pernah terjadi di masa lalu. Jika berhasil, model Operasi Garuda Bhakti 2026 bisa menjadi rujukan bagi pengamanan event olahraga nasional maupun internasional di Indonesia. Namun, jika terjadi gesekan, evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan untuk menjaga reputasi Indonesia sebagai tuan rumah yang aman dan profesional.



