Target Uji Sistem Undian untuk Kartu Pokémon, Akhiri Perang Bot Tengah Malam?
Baca dalam 60 detik
- Target dikabarkan tengah mengembangkan sistem undian tertutup untuk pembelian produk Pokémon TCG, menggantikan metode drop mendadak yang selama ini dinilai merugikan kolektor.
- Berbeda dari Walmart, sistem ini memungkinkan partisipasi otomatis tanpa perlu login, dengan batas satu unit per akun guna menekan dominasi bot dan calo.
- Jika terwujud, kebijakan ini berpotensi menjadi standar baru distribusi barang hype di ritel global, termasuk memengaruhi pasar kolektor di Indonesia.

Target dikabarkan sedang mengembangkan sistem undian untuk penjualan kartu Pokémon Trading Card Game (TCG) dalam upaya mengatasi masalah klasik: pembelian oleh bot dan calo yang merugikan kolektor biasa. Meski belum ada pengumuman resmi, temuan sejumlah pengguna di backend situs Target mengungkap adanya teks-teks baru yang mengindikasikan mekanisme drawing atau raffle akan segera diterapkan.
Selama ini, metode drop mendadak yang dilakukan Target—sering kali pada dini hari—memaksa pembeli begadang dan tetap pulang dengan tangan kosong karena stok habis dalam hitungan detik. Sistem baru ini diyakini meniru skema undian yang lebih dulu diterapkan Walmart pada awal 2026, yang diklaim berhasil meningkatkan peluang pembeli riil untuk mendapatkan produk edisi terbatas seperti set Pokémon 30th Anniversary.
Menurut temuan yang dibagikan oleh pakar keamanan siber sekaligus pengguna bot Pokémon, @themacint0sh, sistem undian Target akan bekerja dengan memberi jendela waktu bagi konsumen untuk menyatakan minat pada produk tertentu. Setelah periode pendaftaran berakhir, Target akan memilih pemenang secara acak. Pemenang kemudian memiliki waktu 24 jam untuk menyelesaikan transaksi; jika gagal, kesempatan dialihkan ke pendaftar berikutnya.
Perbedaan signifikan dengan Walmart terletak pada mekanisme pendaftaran otomatis. Jika pada Walmart pengguna harus masuk ke akun terlebih dahulu, Target disebut akan memungkinkan entri otomatis sehingga tidak ada lagi keharusan terjaga pada jam-jam sepi hanya untuk mengikuti drop. Batas satu unit per akun juga lebih ketat dibandingkan kebijakan lama Target yang mengizinkan dua unit per transaksi hingga dua kali pembelian untuk produk yang sama.
"Anda telah mencapai batas maksimum untuk undian ini (satu per akun)," demikian bunyi salah satu teks yang ditemukan di backend Target, seperti dikutip dari temuan @themacint0sh.
Meski sistem undian bukan solusi sempurna—bot dengan banyak akun masih bisa mendaftar berkali-kali—laporan dari Walmart menunjukkan bahwa pendekatan ini secara umum lebih adil. Kolektor di Amerika Serikat melaporkan peningkatan peluang mendapatkan produk hype tanpa harus bersaing dengan skrip otomatis yang menyelesaikan puluhan checkout dalam sekejap.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi sinyal penting. Distribusi resmi kartu Pokémon TCG di Tanah Air masih terbatas, dan banyak kolektor mengandalkan jalur impor atau pembelian dari luar negeri. Jika sistem undian semacam ini diadopsi oleh ritel global, harga di pasar sekunder Indonesia berpotensi lebih stabil karena pasokan tidak lagi dikuasai segelintir pembeli besar. Di sisi lain, kolektor lokal yang biasa memburu produk lewat jasa titip atau pembelian langsung dari situs luar negeri mungkin perlu menyesuaikan strategi, terutama dengan adanya batas satu unit per akun.
Hingga berita ini diturunkan, Target belum memberikan pernyataan resmi. Namun, jika benar diterapkan, langkah ini bisa menjadi preseden bagi ritel lain di seluruh dunia dalam menangani distribusi barang edisi terbatas—bukan hanya kartu Pokémon, tetapi juga sneaker, konsol, dan tiket konser. Pertanyaannya, akankah sistem undian benar-benar mematikan dominasi bot, atau justru memunculkan taktik baru dari para calo?



