Lima Warga London Ditangkap di Pangkalan Udara RAF Fairford, Polisi Antiteror Selidiki Dugaan Rencana Bom
Baca dalam 60 detik
- Lima pemuda asal London ditahan polisi antiteror Inggris setelah tiga kendaraan terdeteksi mendekati Pangkalan RAF Fairford, Gloucestershire, yang dipakai Angkatan Udara AS untuk operasi terhadap Iran.
- Otoritas memperpanjang masa penahanan hingga Senin malam, mengevakuasi 85 rumah di desa Whelford, dan mengerahkan aset militer untuk mengamankan lokasi.
- Kedutaan Iran di London membantah keras spekulasi keterlibatan Teheran, sementara penyidik masih menelusuri motif dan kemungkinan kaitan geopolitik.

Polisi antiteror Inggris menahan lima warga negara Britania berusia 20-an asal London atas dugaan persiapan aksi teror di Pangkalan Udara RAF Fairford, Gloucestershire โ pangkalan yang menjadi titik operasi Angkatan Udara Amerika Serikat terhadap Iran. Penangkapan berlangsung Minggu dini hari setelah tiga kendaraan dilaporkan bergerak menuju kompleks militer tersebut sekitar pukul 00.45.
Kelima pria itu ditangkap di Whelford, desa kecil di sekitar pangkalan. Tiga di antaranya berusia 24 tahun, satu 25 tahun, dan satu lagi 23 tahun. Tiga orang berdomisili di Westminster, satu di Camden, dan satu di Willesden. Penyidik menjerat mereka dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Bahan Peledak serta persiapan tindak terorisme menurut Pasal 5 Undang-Undang Terorisme. Masa penahanan diperpanjang hingga Senin malam waktu setempat.
Sejak penangkapan, 85 rumah tangga di desa itu dievakuasi. Kepolisian menyatakan mengerahkan "sejumlah besar sumber daya, termasuk aset militer" untuk mengamankan lokasi. Kordon masih dipasang dan akan ditinjau ulang pada Senin. Investigasi semalam menghasilkan beberapa jalur penyelidikan baru, menurut pernyataan Kepolisian Antiteror.
Wakil Asisten Komisaris Vicki Evans, koordinator nasional senior Kepolisian Antiteror, menyebut operasi ini "sangat kompleks dan berskala besar", melibatkan kepolisian lokal dan nasional, Kementerian Pertahanan, serta lembaga daerah. Ia mengakui gangguan besar bagi warga sekitar, namun menegaskan aktivitas itu demi keamanan nasional dan keselamatan publik. Evans juga meminta publik menahan diri dari spekulasi soal motif, seraya memberi ruang bagi penyidik untuk bekerja secara cermat.
Perhatian publik langsung mengarah pada kemungkinan keterlibatan Iran. Pada Juli, Korps Garda Revolusi Islam Iran secara terbuka menyoroti penggunaan RAF Fairford oleh pembom AS dan memperingatkan Inggris bahwa "pangkalan apa pun yang digunakan untuk agresi terhadap wilayah Iran merupakan target sah bagi pasukan kami". Pernyataan itu kini menjadi salah satu fokus penyelidikan, meski belum ada konfirmasi resmi soal kaitan langsung.
"Kedutaan Republik Islam Iran di London dengan tegas menolak dan mengutuk keras spekulasi tak berdasar dan berniat buruk yang dipublikasikan sejumlah pihak dan media Inggris yang berupaya mengaitkan Iran dengan penangkapan lima tersangka di sekitar Pangkalan RAF Fairford," demikian pernyataan Kedutaan Iran di London melalui media sosial pada Senin.
Kedutaan menilai narasi tersebut hanya akan menyuburkan propaganda Islamofobia di Inggris, terutama setelah apa yang disebutnya sebagai "tindakan agresi kriminal" AS dan Israel terhadap rakyat Iran. Teheran juga menyatakan berhak menempuh langkah hukum untuk melindungi kepentingan negara dan rakyatnya dari pemberitaan yang dianggap menyesatkan.
Bagi Indonesia, insiden ini memperlihatkan bagaimana ketegangan ASโIran dapat merembet ke wilayah sekutu dan mengganggu stabilitas kawasan. Pangkalan seperti RAF Fairford merupakan simpul logistik dalam operasi militer yang berdampak pada harga energi global, termasuk minyak mentah yang menjadi acuan APBN. Ketika eskalasi menyentuh infrastruktur militer di Eropa, risiko volatilitas pasar dan biaya logistik pelayaran ikut meningkat โ faktor yang perlu dicermati pelaku usaha dan pembuat kebijakan di Jakarta.
Pertanyaan besarnya kini: apakah penyelidikan akan mengarah pada jaringan terorganisasi dengan sponsor negara, atau justru mengungkap sel mandiri yang memanfaatkan retorika geopolitik? Jawaban atasnya tidak hanya menentukan arah kebijakan keamanan Inggris, tetapi juga seberapa jauh ketegangan dengan Teheran akan membentuk ulang peta aliansi militer di Eropa dan Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang.



