TPA Jatibarang Semarang Terbakar 24 Jam, 10 Hektare Lahan Hangus
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda area TPA Jatibarang, Semarang, sejak Rabu petang dan belum sepenuhnya padam hingga Kamis, dengan estimasi 10 hektare terdampak.
- Tim gabungan lintas instansi dikerahkan untuk memadamkan dan mendinginkan titik api, namun akses sempit dan penyebaran cepat menjadi kendala utama.
- BNPB mengimbau warga waspada terhadap kebakaran lahan selama cuaca kering dan melarang pembakaran terbuka di kawasan rawan.

Kebakaran besar melanda kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang di Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, sejak Rabu (30/9) sore. Hingga Kamis (1/10), api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan, meski laporan lapangan menyebut intensitas titik api mulai menurun. Peristiwa ini menjadi alarm bagi pengelolaan sampah dan kesiapsiagaan bencana di kawasan padat aktivitas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah memperkirakan luas area yang terbakar mencapai sekitar 10 hektare. Data tersebut masih dalam proses verifikasi. Tidak ada laporan korban jiwa, namun penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah pemadaman, pendinginan, dan pengendalian titik api agar tidak merembet ke zona lain.
Operasi pemadaman melibatkan banyak pihak. Selain BPBD dari tiga wilayah, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mengerahkan 11 unit truk pemadam. Dukungan logistik dan pasokan air datang dari PDAM, Dinas Pekerjaan Umum, Perkim, serta PMI. Alat berat seperti ekskavator, loader, dan dozer dari Dinas Lingkungan Hidup dikerahkan untuk membuka akses dan memisahkan material yang masih membara. Pemerintah daerah juga menyiapkan dapur umum bagi personel yang bertugas.
Namun, upaya pemadaman menghadapi sejumlah hambatan. Menurut Berton, titik api sulit dijangkau, akses jalan sempit, dan api cepat menyebar. Kondisi ini memaksa tim gabungan menyusun strategi khusus agar pemadaman tidak membahayakan petugas dan warga sekitar. Hingga Kamis, tim masih memprioritaskan pendinginan untuk mencegah kebakaran kembali menyala.
"Kondisi tersebut menjadi perhatian tim gabungan dalam menentukan strategi pemadaman dan pengendalian di lapangan," ujar Berton.
Kebakaran di TPA bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Tumpukan sampah yang menghasilkan gas metana mudah terbakar, terutama saat musim kemarau. Di TPA Jatibarang, yang menjadi salah satu tempat pembuangan utama bagi warga Semarang, insiden ini mengungkap kerentanan infrastruktur pengelolaan sampah. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan warga yang terpapar asap, serta potensi gangguan operasional TPA dalam beberapa hari ke depan.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, khususnya selama cuaca kering. Warga di sekitar kawasan rawan diminta tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melaporkan jika menemukan titik api. Imbauan ini sejalan dengan pola kebakaran lahan yang kerap meningkat pada periode kemarau.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pengelolaan TPA di kota-kota besar akan dibenahi untuk mencegah kejadian serupa. Dengan volume sampah yang terus bertambah, risiko kebakaran di fasilitas pemrosesan akhir menjadi ancaman yang tak bisa diabaikan. Penanganan cepat memang krusial, tetapi tanpa perbaikan sistemik, kebakaran lahan di TPA berpotensi menjadi bencana musiman yang berulang.



