Beban Mental Rumah Tangga: Ketika Satu Pihak Menanggung Segalanya, Hubungan Bisa Retak
Baca dalam 60 detik
- Pembagian tugas domestik yang timpang membuat satu pasangan menanggung beban kognitif dan emosional berlebih, memicu kelelahan hingga depresi.
- Pola ini diperparah kebijakan cuti ayah yang minim dan norma sosial yang menganggap waktu perempuan tak terbatas.
- Solusinya bukan sekadar bagi rata 50-50, melainkan menciptakan keadilan berbasis kesepakatan dan komunikasi rutin.

Ketimpangan pembagian kerja rumah tangga masih menjadi sumber konflik senyap di banyak keluarga. Bukan hanya soal siapa yang mencuci piring atau menyapu, melainkan beban mental—yakni tanggung jawab mengingat, merencanakan, dan mengantisipasi kebutuhan seluruh anggota keluarga—yang kerap jatuh pada satu orang, umumnya perempuan. Para pakar memperingatkan bahwa beban ini bisa berujung pada kelelahan ekstrem, depresi, bahkan perpisahan.
Kate Mangino, penulis Equal Partners: Improving Gender Equality at Home, mengklasifikasikan pekerjaan rumah tangga ke dalam tiga kategori: fisik (mencuci, membersihkan), kognitif (menjadwalkan, mengingat), dan emosional (menenangkan, mendukung). Beban mental adalah akumulasi ketiganya. “Saya mendengar dari mereka yang menanggung beban terbesar bahwa mereka merasa terperangkap, seperti sesak napas. Kurang tidur, tidak merawat tubuh, hingga depresi. Beberapa pasangan bahkan mempertimbangkan pisah,” ujarnya.
Leah Ruppanner, profesor sosiologi dari University of Melbourne, menambahkan bahwa kelelahan mental adalah pintu masuk menuju kelelahan fisik. “Jika Anda mengatur segalanya, Anda tidak bisa menikmati hidup karena terus memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya,” jelasnya. Ia mengembangkan situs lightenlab.com untuk mengukur tingkat beban mental dan memberikan saran penanganan.
Ana Catalano Weeks, ilmuwan politik dari University of Bath, menyoroti peran kebijakan negara. “Cuti ayah yang minim sejak awal membentuk pola pikir bahwa ibu yang tinggal di rumah. Kita butuh kebijakan yang mendorong ayah mengambil cuti agar mereka menyadari kaus kaki anak sudah kekecilan atau susu habis,” tegasnya. Mangino menambahkan bahwa di AS, akses asuransi kesehatan sering memaksa satu pihak bekerja penuh waktu, menciptakan ketimpangan. “Kita tidak bisa menunggu kebijakan menyelamatkan kita. Advokasi tetap jalan, tapi perubahan rumah tangga harus dimulai sekarang,” katanya.
Eve Rodsky, pendiri Fair Play Policy Institute, mengalami sendiri titik terendah saat cuti melahirkan anak kedua. Suaminya mengirim pesan, “Aku heran kamu tidak beli blueberry,” yang membuatnya menepi dan menangis. “Saya merasa ditinggalkan secara psikologis. Tidak ada yang menyarankan percakapan tentang pembagian kerja domestik,” kenangnya. Pengalaman itu mendorongnya menulis Fair Play (2019), sebuah sistem berbasis kartu untuk membagi tugas rumah tangga secara adil. “Dalam semua patriarki, waktu perempuan dianggap pasir, tak terbatas; waktu laki-laki dianggap berlian, dilindungi. Fair Play ingin mengoreksi itu,” ujarnya.
Brian Page, fasilitator Fair Play dari Atlanta, mengamati kesalahan umum pasangan. “Dinamika tersulit adalah ketika satu pihak menjadi orang tua dan manajer rumah default, sementara pasangan tidak mengakui kerja kerasnya. Ketika yang default meminta bantuan, yang lain merasa sedang dinasihati,” paparnya. Helen Mason, pelatih kepemimpinan perempuan di Milton Keynes, menambahkan bahwa banyak orang percaya waktu seseorang lebih berharga jika bayarannya lebih tinggi. “Kita semua punya 24 jam. Waktu untuk rumah dan keluarga sama berharganya dengan waktu untuk pekerjaan,” tegasnya.
“Tujuan utamanya bukan 50-50, melainkan adil. Jika salah satu merasa kesal, keseimbangannya perlu ditinjau ulang.” — Helen Mason, fasilitator Fair Play
Sistem Fair Play menggunakan 100 kartu yang mewakili tugas domestik, termasuk perawatan diri, pertemanan, dan ruang kreatif. Pasangan diminta menyaring kartu sesuai kebutuhan, lalu membaginya berdasarkan kekuatan masing-masing. “Sekitar 40 kartu hanya relevan untuk rumah tangga dengan anak. Kartu bisa dibagi ulang kapan saja,” jelas Mason. Penelitian USC 2024 menunjukkan sistem ini efektif menurunkan burnout.
Komunikasi menjadi kunci. Mason menyarankan berbicara saat tenang, bukan saat emosi memuncak. Mangino merekomendasikan teknik Gottman Institute: masing-masing bicara 10 menit tanpa interupsi. “Sering kali pasangan terkejut betapa banyak yang dipikirkan pasangannya. Ketimpangan akan terlihat jelas,” ujarnya. Ruppanner menambahkan, mulailah dengan membicarakan tujuan dan impian, bukan sekadar siapa mengerjakan apa.
Standar “selesai” pun perlu disepakati. Mason memberi contoh tugas mencuci piring: apakah cukup dicuci, atau harus dikeringkan dan disimpan? Siapa yang mengosongkan mesin pencuci piring? Page menyarankan rapat mingguan 15-20 menit untuk membagi tanggung jawab A, B, C, sehingga saat sibuk tidak ada saling tuduh. Teknologi seperti kalender digital bersama atau aplikasi Nipto dapat membantu, terutama bagi yang kesulitan mengorganisir.
Di Indonesia, beban mental rumah tangga masih kental dipengaruhi norma budaya yang menempatkan perempuan sebagai pengelola utama rumah. Data Susenas 2023 menunjukkan perempuan menghabiskan rata-rata 3,5 jam per hari untuk pekerjaan domestik, sementara laki-laki hanya 1,5 jam. Ketimpangan ini diperparah minimnya cuti ayah—hanya 2 hari berdasarkan UU Ketenagakerjaan—sehingga mendorong pola serupa. Padahal, perubahan kecil di rumah bisa berdampak besar: mulai dari membagi tugas secara eksplisit, menggunakan kalender bersama, hingga melibatkan anak dalam pekerjaan rumah. Mason bahkan mengajak anaknya yang berusia enam tahun memberi makan anjing dan merapikan meja. “Kami berharap beban mental yang terlihat membuatnya tumbuh dengan kesadaran bahwa rumah berjalan karena usaha bersama,” tutupnya.
Pertanyaannya, apakah pasangan di Indonesia siap membongkar pola lama dan mulai berbicara tentang pembagian beban mental—sebelum kelelahan mengubahnya menjadi krisis hubungan?



