Raye: Ketika Ketenaran Jadi Membingungkan, Keluarga Jadi Jangkar
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Inggris Raye mengaku ketenaran membawa tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat di panggung.
- Ia mengandalkan keluarga, kata 'tidak', dan pembatasan media sosial untuk menjaga kesehatan mentalnya.
- Kisah Raye menyoroti pentingnya batas diri di industri hiburan yang menuntut eksposur tanpa henti.

Penyanyi asal London, Raye, mengungkapkan bahwa lonjakan popularitas yang ia alami beberapa tahun terakhir tidak hanya membawa berkah, tetapi juga kebingungan batin. Dalam wawancara dengan majalah TIME, perempuan 28 tahun itu menyebut bahwa dunia hiburan menempatkan artis di atas pedestal—sebuah posisi yang, jika tidak dikelola, bisa membuat seseorang kehilangan arah.
Raye, yang namanya melesat lewat album My 21st Century Blues, menilai perjalanan kariernya sebagai sesuatu yang 'aneh' sekaligus menakjubkan. Ia merasa beruntung memiliki keluarga yang konsisten mengingatkannya pada realitas. Menurutnya, tanpa dukungan itu, ia bisa terjebak dalam citra 'Raye the artist' yang serba sempurna dan melupakan jati dirinya sebagai manusia biasa.
Salah satu pelajaran terpenting yang ia petik adalah keberanian mengatakan 'tidak'. Selama bertahun-tahun, Raye mengaku selalu mengiyakan permintaan orang lain karena takut dianggap egois atau tidak sopan. Kini ia memandang penolakan sebagai bentuk perlindungan diri yang sah. 'Kamu tidak jahat kalau bilang tidak. Kamu tidak egois. Itu butuh kerja keras untuk benar-benar memahaminya,' ujarnya.
Meski telah meraih berbagai penghargaan, Raye tidak luput dari demam panggung. Ia bercerita tentang sebuah pertunjukan berat di mana tenggorokannya tercekat bahkan sebelum ia melangkah ke atas panggung. 'Kamu tahu rasanya ketika ada benjolan dan hanya butuh satu hal kecil untuk membuatmu pecah?' tuturnya, menggambarkan kerentanan yang kerap disembunyikan di balik gemerlap industri musik.
Untuk menjaga keseimbangan jiwa, Raye memilih mengurangi konsumsi media sosial. Ia mengaku mudah terpancing untuk menggulir layar berjam-jam dan akhirnya menyelami konten yang tidak perlu dilihat. 'Itu lebih baik untuk kepala dan hatiku,' katanya. Langkah ini sejalan dengan kesadaran bahwa kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi siapa pun yang hidup di bawah sorotan publik.
"Dia benar-benar membuka jiwanya. Dia menceritakan apa yang dialaminya dengan begitu jelas sehingga kamu merasa terhubung. Kamu merasa diizinkan untuk memiliki kesulitan, masalah cinta, dan kebingunganmu. Itu memberi penghiburan," ujar Alicia Keys, idola masa kecil Raye, memuji kejujuran sang penyanyi.
Raye juga dikenal sebagai pengagum Taylor Swift. Ia mengaku tertarik pada artis yang mampu menari di antara perasaan-perasaan kontradiktif: lucu dan patah hati, cerdas dan tulus, tangguh dan terbuka. Kemampuan Swift berpindah dari satu emosi ke emosi lain itulah yang menurut Raye membuat karya-karyanya terasa hidup.
Kisah Raye bukan sekadar curhat seorang selebritas. Di Indonesia, industri musik tanah air juga menghadapi tantangan serupa. Banyak musisi muda yang tiba-tiba viral lalu kewalahan mengelola ekspektasi publik, tekanan label, dan komentar netizen. Kesadaran akan batas diri dan dukungan keluarga menjadi kunci agar karier tidak mengorbankan kesehatan jiwa. Fenomena ini menegaskan bahwa di balik panggung gemerlap, para artis tetap manusia yang rentan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah industri hiburan akan semakin menuntut eksposur, melainkan bagaimana ekosistem—label, manajemen, hingga penggemar—bisa menciptakan ruang aman bagi para musisi untuk berkarya tanpa harus kehilangan diri. Raye telah menunjukkan bahwa mengatakan 'tidak' bisa menjadi langkah pertama menuju kebebasan yang sesungguhnya.



