Sugiono Serahkan Tongkat Diplomasi ke Arrmanatha: Wajah Baru, Arah Lama?
Baca dalam 60 detik
- Sugiono resmi meninggalkan kursi Menlu setelah dilantik sebagai Menko PMK dalam perombakan kabinet Prabowo.
- Arrmanatha Nasir, yang sebelumnya Wamenlu, kini memimpin Kementerian Luar Negeri dengan mandat melanjutkan politik bebas aktif.
- Transisi ini memunculkan pertanyaan soal kesinambungan prioritas diplomasi RI di tengah tekanan geopolitik global.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sugiono menyerahkan estafet kepemimpinan Kementerian Luar Negeri kepada Arrmanatha Nasir. Dalam perombakan kabinet yang diumumkan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), Sugiono dipindahkan ke posisi Menko PMK, sementara Arrmanatha yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Luar Negeri naik ke kursi menteri.
Sugiono menyatakan keyakinannya bahwa Arrmanatha akan membawa warna baru bagi diplomasi Indonesia. Menurutnya, mantan Wamenlu itu sudah memahami prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi politik luar negeri RI. "Saya yakin di bawah kepemimpinan beliau sebagai Menteri Luar Negeri wajah diplomasi kita akan semakin baik," ujarnya usai pelantikan.
Ia menambahkan tidak perlu banyak memberikan pengarahan karena arah kebijakan sudah jelas. Sugiono menggarisbawahi filosofi "seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak" yang selama ini menjadi pegangan. Baginya, Arrmanatha telah menginternalisasi pendekatan tersebut sehingga transisi dianggap tidak akan mengubah haluan besar.
Perombakan ini bukan sekadar rotasi jabatan. Kementerian Luar Negeri menghadapi tantangan berat: menjaga kedaulatan di tengah persaingan Amerika Serikat dan China, memperkuat posisi di ASEAN, serta mengelola isu-isu global seperti perubahan iklim dan transisi energi. Arrmanatha mewarisi sejumlah agenda yang sudah berjalan, termasuk upaya meningkatkan peran Indonesia di forum multilateral.
Pengamat hubungan internasional menilai kesinambungan kebijakan luar negeri akan sangat bergantung pada kemampuan Arrmanatha menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan, baik di dalam negeri maupun mitra internasional. Sebagai diplomat karier, ia dianggap memiliki jaringan yang mumpuni, tetapi tetap dituntut untuk bergerak cepat mengonsolidasikan tim di kementerian.
"Saya kira tidak banyak yang baru, karena dari awal juga kita berusaha untuk menjalankan suatu politik luar negeri yang seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak," kata Sugiono.
Di sisi lain, Sugiono kini mengemban tugas baru di Kementerian Koordinator PMK. Ia mengaku akan segera berkoordinasi dengan Pratik untuk mendalami pekerjaan rumah di kementerian tersebut. Fokus pembangunan manusia dan kebudayaan dinilai strategis dalam jangka panjang, terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Bagi publik, pertanyaan besarnya adalah apakah perubahan di kursi Menlu akan membawa terobosan konkret atau hanya melanjutkan pola yang ada. Dengan dinamika global yang cepat berubah, kepemimpinan Arrmanatha akan diuji dalam beberapa bulan pertama, terutama saat menghadapi forum-forum internasional penting. Apakah wajah baru diplomasi RI benar-benar akan terlihat, atau justru sebaliknya?



