Pieter Huistra Soroti Tujuh Gol Bersarang di Awal Musim PSS Sleman
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman menelan tiga kekalahan beruntun di awal BRI Super League 2026/2027 dan terpuruk di posisi ke-15 tanpa poin.
- Pelatih Pieter Huistra menegaskan pertahanan adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya lini belakang, sambil menyoroti situasi kurang beruntung yang memperburuk catatan kebobolan.
- Jeda kompetisi tiga pekan menjadi momen krusial bagi Super Elang Jawa untuk membenahi pertahanan dan meningkatkan produktivitas sebelum menjamu PSM Makassar pada 11 Oktober 2026.

PSS Sleman mengawali BRI Super League 2026/2027 dengan catatan yang mengkhawatirkan: tujuh gol bersarang dalam tiga pertandingan, tanpa satu pun poin, dan terpuruk di posisi ke-15 klasemen sementara. Tiga kekalahan beruntun โ dari Bali United (1-2), Madura United (1-3), dan Dewa United (1-2) โ menjadi pukulan telak bagi tim berjuluk Super Elang Jawa tersebut.
Pelatih Pieter Huistra menolak menyalahkan lini pertahanan secara spesifik. Menurutnya, masalah kebobolan adalah tanggung jawab seluruh pemain. "Bertahan adalah pekerjaan 11 pemain. Saya tidak menyalahkan pemain belakang mana pun, juga tidak menyalahkan penyerang," ujarnya dalam sesi konferensi pers.
Huistra mengakui tidak semua gol yang bersarang ke gawang PSS lahir dari pola yang sama. Beberapa di antaranya berasal dari situasi kurang menguntungkan, seperti gol dari tengah lapangan, kesalahan individu, dan penalti yang dinilainya cukup ringan. Meski demikian, ia tetap kritis terhadap jumlah kebobolan yang dianggap terlalu banyak.
"Kebobolan tujuh gol dalam tiga pertandingan terlalu banyak. Kami harus memperbaikinya. Itu sudah sangat jelas," tegas pelatih asal Belanda tersebut.
Selain membenahi pertahanan, PSS juga perlu meningkatkan produktivitas di depan gawang. Sejauh ini, Super Elja baru mencetak tiga gol melalui Matheus Fornazari, Melvyn Lorenzen, dan Christophe Nduwarugira. Ketajaman lini serang menjadi sorotan mengingat tim ini memiliki waktu panjang untuk evaluasi selama jeda kompetisi.
BRI Super League memasuki jeda sekitar tiga pekan karena agenda FIFA Matchday. Setelah duel kontra Dewa United pada Minggu (20/9/2026), skuad PSS hanya mendapatkan libur singkat dua hari. Tim kemudian kembali berlatih di Lapangan Pakembinangun, Sleman, Rabu (23/9/2026). Momen ini dimanfaatkan Huistra untuk membenahi organisasi pertahanan dan efektivitas serangan.
PSS akan kembali berlaga pada 11 Oktober 2026 menjamu PSM Makassar di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Pertandingan pekan keempat ini menjadi ujian bagi perbaikan yang dilakukan selama jeda. Jika tidak segera bangkit, posisi Huistra sebagai pelatih bisa berada dalam tekanan, mengingat manajemen dan suporter tentu mengharapkan hasil positif.
Dalam konteks kompetisi domestik, awal musim yang buruk sering kali menjadi penentu arah tim. PSS Sleman memiliki modal waktu dan kesempatan untuk berbenah, tetapi tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Akankah Super Elang Jawa mampu mengubah catatan kebobolan menjadi fondasi kebangkitan, atau justru semakin terpuruk di papan bawah?



