Dame Esther Rantzen Tutup Usia: Pewarta yang Mengubah Lanskap Perlindungan Anak
Baca dalam 60 detik
- Dame Esther Rantzen, legenda televisi Inggris dan pendiri Childline, meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah berjuang melawan kanker paru stadium IV.
- Warisan terbesarnya bukan sekadar acara That's Life!, melainkan dua organisasi amal yang menyelamatkan jutaan anak dan lansia dari kesepian.
- Kepergiannya memantik refleksi tentang peran media dalam advokasi sosial dan perlunya layanan serupa di Indonesia.

Dunia penyiaran Inggris berduka. Dame Esther Rantzen, jurnalis dan pembawa acara legendaris yang dikenal lewat program That's Life!, menghembuskan napas terakhir di kediamannya di New Forest pada usia 86 tahun. Ia mengidap kanker paru stadium IV sejak 2023 dan meninggal dikelilingi keluarganya.
Kabar tersebut disampaikan langsung oleh keluarga dalam pernyataan resmi. Mereka menyebut Rantzen sebagai "sinar matahari" yang telah beristirahat bersama suaminya, Desmond Wilcox. "Kami akan selalu mengingat kapasitasnya untuk bahagia, kemampuannya menghibur setiap luka, dan bimbingannya dalam segala hal," ujar keluarga. Rantzen meninggalkan tiga anak dan lima cucu.
Meski namanya melekat pada layar kaca, kontribusi Rantzen jauh melampaui dunia hiburan. Pada 1986, ia mendirikan Childline, saluran bantuan bagi anak-anak yang mengalami kekerasan atau masalah mental. Ia juga menggagas The Silver Line, layanan yang bertujuan memerangi kesepian di kalangan lansia. Kedua organisasi ini telah menjadi pilar penting dalam sistem perlindungan sosial Inggris.
Chris Sherwood, CEO NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children), menyampaikan penghormatan mendalam. Menurutnya, Rantzen adalah sosok unik yang tak pernah lelah memastikan anak-anak didengar. "Pendekatannya sangat praktis. Ia senang turun langsung ke basis dan berinteraksi dengan konselor relawan," kata Sherwood. Dedikasi Rantzen, tambahnya, telah membangun jaringan Childline yang luas di seluruh Inggris.
"Kami sangat sedih atas kepergian Dame Esther Rantzen. Ia adalah wanita luar biasa yang melakukan hal-hal hebat dan berjuang keras agar anak-anak di seluruh Inggris memiliki tempat berpaling saat membutuhkan bantuan." โ Chris Sherwood, CEO NSPCC.
Bagi publik Indonesia, kisah Rantzen menyoroti bagaimana figur media dapat menjadi katalis perubahan sosial. Di tanah air, layanan serupa seperti Telepon Pelayanan Sosial Anak (TePSA) dan layanan pengaduan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) masih menghadapi tantangan jangkauan dan kesadaran publik. Kesepian lansia juga menjadi isu yang kian relevan, terutama di kota-kota besar dengan struktur keluarga yang bergeser.
Rantzen membuktikan bahwa kekuatan televisi tidak berhenti pada rating. Ia menggunakan panggungnya untuk mengadvokasi kelompok rentan, sebuah pendekatan yang jarang ditemui di industri hiburan Tanah Air. Kepergiannya meninggalkan pertanyaan: siapa yang akan melanjutkan estafet kepedulian ini? Dan bagaimana media Indonesia dapat meniru jejaknya, bukan sekadar mengejar sensasi?



