Mathis Albert, Debutan 17 Tahun Dortmund yang Langsung Mengubah Laga AS
Baca dalam 60 detik
- Mathis Albert mencatat debut untuk timnas senior Amerika Serikat dan langsung memenangkan penalti dalam kemenangan 4-1 atas Peru.
- Pemain Borussia Dortmund berusia 17 tahun itu masuk sebagai pengganti Gio Reyna dan mengubah jalannya pertandingan dalam hitungan menit.
- Penampilan singkat ini memperkuat posisinya sebagai prospek yang patut diperhitungkan di level internasional maupun klub.

Mathis Albert tidak butuh waktu lama untuk memperkenalkan diri di panggung internasional. Dalam debutnya bersama tim nasional senior Amerika Serikat, penyerang Borussia Dortmund berusia 17 tahun itu masuk sebagai pengganti dan langsung memenangkan penalti yang mengubah arah pertandingan melawan Peru, Sabtu lalu, di Orlando. Hasil akhir 4-1 untuk kemenangan tuan rumah lahir dari momen singkat yang ia ciptakan.
Skor saat itu imbang 1-1 ketika pelatih Mauricio Pochettino menarik Gio Reyna—mantan pemain Dortmund dan Borussia Mönchengladbach—dan memasukkan Albert tak lama setelah menit ke-60. Keputusan itu terbukti tepat. Albert menusuk cepat dari sisi kiri, memaksa Jesús Pretell menjatuhkannya di tepi kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih, dan Malik Tillman dari Bayer Leverkusen mengeksekusi penalti pada menit ke-66 untuk mengembalikan keunggulan AS.
Kontribusi Albert bukan sekadar statistik. Ia langsung membuat lini belakang Peru kelimpungan, memperlihatkan kualitas yang membuatnya menembus tim utama Dortmund. Momen ini menandai tonggak lain dalam tahun yang sibuk bagi sang remaja. Pada April lalu, ia menjadi pemain Amerika termuda yang tampil di Bundesliga saat Dortmund menghadapi Freiburg pada usia 16 tahun, 11 bulan, dan lima hari—memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Reyna, pemain yang ia gantikan melawan Peru. Musim ini, ia juga mencatat debut di Piala DFB melawan HEBC Hamburg dan bermain penuh 90 menit dalam kemenangan 5-0.
Bagi Dortmund, kemunculan Albert menambah opsi di lini serang. Meski belum menjadi starter reguler, ia telah memberi alasan bagi pelatih Niko Kovač untuk mempertimbangkannya lebih sering. Pochettino pun mendapat sinyal bahwa AS memiliki talenta muda yang siap berkontribusi di level senior. Kombinasi antara kecepatan, keberanian, dan naluri di kotak penalti membuatnya menonjol di antara pemain seusianya.
Dari kacamata Indonesia, kisah Albert menjadi cermin bagaimana klub Eropa dan federasi sepak bola di negara maju berani memberi ruang kepada pemain belia. Bundesliga, misalnya, dikenal memiliki budaya promosi pemain muda ke tim utama sejak dini. Sementara di Tanah Air, pemain berbakat sering kali baru mendapat kesempatan di usia yang lebih matang. Keberhasilan Albert bisa menjadi bahan refleksi bagi pembinaan usia muda di Indonesia, terutama dalam hal transisi dari akademi ke tim senior dan keberanian pelatih mengambil risiko.
Albert masih akan menambah menit bermain dalam jeda internasional yang diperpanjang ini. AS dijadwalkan menghadapi Chile, Meksiko, dan Kanada dalam laga uji coba. Setelah itu, ia kembali ke Dortmund untuk menghadapi Werder Bremen di Westfalenstadion pada 9 Oktober, di mana Kovač berusaha mempertahankan posisi puncak klasemen. Jika ia terus menunjukkan performa seperti melawan Peru, bukan tidak mungkin ia segera menjadi nama tetap di skuad utama Dortmund dan timnas AS. Akankah Albert menjadi fenomena berikutnya dari Jerman bagi sepak bola Amerika, atau justru terhenti oleh ekspektasi yang membubung tinggi?



