Derry Scherhant: Dari Liga Kampung Berlin ke Ambang Debut Timnas Jerman
Baca dalam 60 detik
- Derry Scherhant, pemain sayap Freiburg berusia 23 tahun, mendapat panggilan pertama ke timnas senior Jerman untuk laga Nations League melawan Serbia dan Yunani.
- Perjalanan kariernya tidak biasa: ia baru bergabung dengan akademi Hertha Berlin pada usia 17 setelah bermain di klub-klub lokal Berlin, lalu menembus Bundesliga dan final Europa League.
- Penampilannya yang impresif di awal musim 2026/27 membuatnya diprediksi menjadi senjata baru Jerman di bawah asuhan Jürgen Klopp.

Nama Derry Scherhant mungkin belum familiar bagi penggemar sepak bola Indonesia, tetapi pemain sayap Freiburg ini sedang berada di ambang debut bersama timnas senior Jerman. Panggilan pertamanya ke skuad asuhan Jürgen Klopp untuk pertandingan UEFA Nations League melawan Serbia dan Yunani pada awal Oktober menjadi bukti bahwa kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil.
Perjalanan Scherhant menuju puncak sepak bola Jerman terbilang tidak konvensional. Berbeda dengan banyak pemain yang menempuh jalur akademi elit sejak usia dini, ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya bermain untuk klub-klub lokal Berlin seperti Viktoria Berlin, Tennis Borussia, dan Berliner SC. Baru pada usia 17 tahun ia bergabung dengan akademi Hertha Berlin, sebuah keterlambatan yang justru memacu semangatnya untuk mengejar ketertinggalan.
Keputusan Hertha merekrutnya terbukti tepat. Pada musim pertamanya bersama tim cadangan, Scherhant mencetak 16 gol dan 8 assist, yang mengantarkannya mendapat kontrak profesional pada Juni 2022. Debutnya di Bundesliga terjadi pada Agustus tahun yang sama melawan Eintracht Frankfurt. Setelah Hertha terdegradasi pada 2023, ia menjadi pemain reguler di Bundesliga 2 dan tampil di semua 34 pertandingan liga musim 2024/25 dengan koleksi tujuh gol. Freiburg kemudian membawanya kembali ke kasta tertinggi pada musim panas 2025.
Bersama Freiburg, Scherhant langsung menunjukkan kualitasnya. Pada musim pertamanya di Black Forest, ia mencetak lima gol dalam 31 penampilan Bundesliga dan tampil 12 kali di Europa League saat Freiburg melaju hingga final. Musim 2026/27 pun ia awali dengan gemilang: satu gol dan tiga assist dalam empat laga liga, membantu tim asuhan Julian Schuster mengumpulkan 10 poin dari 12 poin yang tersedia. Penampilan terbarunya kian mempertegas kelasnya—dua hari setelah panggilan pertamanya ke timnas Jerman, ia mencetak gol dan memberikan assist untuk gol penyeimbang Yuito Suzuki dalam laga 2-2 melawan Frankfurt, sekaligus meraih gelar Man of the Match.
Gaya bermain Scherhant sering dibandingkan dengan Karim Adeyemi, mantan penyerang Borussia Dortmund. Kecepatan, dribel langsung, dan keberanian menghadapi pemain bertahan menjadi ciri khasnya. Ia sangat lihai dalam situasi satu lawan satu, memanfaatkan perubahan kecepatan dan kelincahan kaki untuk menciptakan ruang tembak atau umpan. Fleksibel di sayap maupun tengah, Scherhant juga memiliki insting penyerang dalam menyelesaikan peluang. Kelebihannya yang paling menonjol adalah serangan balik cepat, di mana ia mampu membaca celah di lini pertahanan lawan dan melakukan pergerakan tanpa bola yang tepat.
"Derry memiliki kekuatan fisik, kecepatan yang baik, dan tahu di mana gawang berada. Ia juga menunjukkan sikap positif di lapangan. Jalur tidak biasa menuju sepak bola profesional telah membentuk gaya bermainnya yang energik dan bebas," ujar Direktur Olahraga Freiburg, Klemens Hartenbach, pada Mei 2025.
Mantan pelatih Hertha, Sandro Schwarz, juga memuji Scherhant: "Ia punya kecepatan, melakukan pergerakan bagus di belakang pertahanan, dan mau bekerja keras tanpa bola." Sementara Scherhant sendiri mengakui bahwa masa-masa di tim U19 dan U23 sangat krusial. "Saya mengandalkan kecepatan, dribel, feints, dan penyelesaian akhir. Bermain sebagai striker membuat saya lebih serbaguna," tuturnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Scherhant menawarkan perspektif menarik tentang pengembangan pemain muda. Di saat banyak negara mengandalkan akademi usia dini, ia justru membuktikan bahwa jalur non-linear bisa tetap berujung pada level tertinggi. Hal ini relevan dengan diskusi tentang pembinaan sepak bola Indonesia yang kerap mengandalkan kompetisi usia muda, namun belum tentu memberi ruang bagi pemain yang berkembang terlambat. Ketekunan dan kemauan belajar—seperti yang ditunjukkan Scherhant saat membaca autobiografi Memphis Depay dalam bahasa Inggris dan mencatat kosakata baru—menjadi contoh bahwa faktor mental dan intelektual sama pentingnya dengan bakat teknis.
Ke depan, debut Scherhant bersama timnas Jerman di Nations League akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika ia mampu tampil impresif melawan Serbia dan Yunani, bukan tidak mungkin namanya masuk dalam rencana Klopp untuk turnamen-turnamen besar berikutnya. Akankah ia menjadi senjata rahasia Jerman di sayap? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: perjalanan dari liga kampung Berlin ke panggung internasional adalah bukti bahwa sepak bola masih menyimpan cerita-cerita inspiratif bagi mereka yang gigih.



