China Peringatkan Eskalasi Yaman, Serangan Houthi Guncang Infrastruktur Energi Arab Saudi
Baca dalam 60 detik
- Beijing menuntut penghentian serangan terhadap fasilitas sipil setelah Houthi melukai 73 warga dan merusak infrastruktur energi Arab Saudi.
- Meningkatnya ketegangan di Laut Merah mengancam jalur pelayaran global dan memicu kekhawatiran konflik skala penuh di Yaman.
- Indonesia perlu mewaspadai lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok yang dapat menekan ekonomi domestik.

China menyuarakan keprihatinan mendalam atas serangan terbaru kelompok Houthi yang menghantam sejumlah kota dan fasilitas energi di Arab Saudi, seraya mendesak semua pihak menghentikan eskalasi dan memilih jalur dialog. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil yang menopang kehidupan masyarakat tidak dapat dibenarkan.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Beijing, Senin (14/9/2026), Guo mengungkapkan bahwa Beijing mengikuti perkembangan di Yaman dan Laut Merah dengan sangat cemas. Menurutnya, jatuhnya korban di kalangan warga sipil tak bersalah serta kerusakan pada fasilitas energi dan infrastruktur sipil lainnya merupakan akibat langsung dari eskalasi yang terus memburuk. Ia menekankan bahwa kedaulatan dan keamanan setiap negara harus dihormati, dan satu-satunya solusi adalah penyelesaian sengketa melalui cara-cara politik dan diplomatik.
Serangan yang dilancarkan Houthiโkelompok yang didukung Iranโdengan rudal dan drone itu telah melukai sedikitnya 73 warga sipil, menurut koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman. Insiden ini memicu kekhawatiran bahwa Yaman akan kembali terseret ke dalam perang berskala penuh, mengancam ketenangan relatif yang bertahan sejak April 2022. Konflik di negara itu sendiri telah berlangsung hampir 12 tahun, dimulai ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014.
Selain menyerang daratan Arab Saudi, Houthi memperluas sasaran ke kapal-kapal komersial yang melintasi Laut Merah. Arab Saudi, sebagai pendukung utama pemerintahan Yaman yang diakui internasional, pada Juli lalu mengumumkan pembentukan aliansi maritim internasional untuk melindungi pelayaran. Langkah ini menandai keterlibatan militer yang lebih luas di kawasan, berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam pusaran konflik.
"Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati, dan satu-satunya jalan keluar adalah menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik," ujar Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut Merah bukan sekadar peristiwa jauh. Jalur pelayaran tersebut merupakan urat nadi perdagangan global, termasuk ekspor-impor Indonesia ke Eropa dan Timur Tengah. Gangguan di sana dapat memicu lonjakan biaya logistik, memperlambat pengiriman, dan pada akhirnya menekan harga komoditas serta inflasi domestik. Ketika ketegangan meningkat, premi asuransi pelayaran dan harga minyak mentah cenderung naik, yang akan berdampak langsung pada APBN melalui subsidi energi dan daya beli masyarakat.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dengan saksama. Sebagai negara non-blok yang aktif mendorong perdamaian, Jakarta memiliki peluang untuk mendesak penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik, seraya memperkuat kerja sama maritim dengan negara-negara ASEAN. Ketergantungan pada jalur Laut Merah juga menjadi pengingat untuk mempercepat diversifikasi rute perdagangan dan memperkuat cadangan energi nasional.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah China akan bertindak lebih dari sekadar imbauan retoris, dan apakah aliansi maritim bentukan Arab Saudi mampu menstabilkan Laut Merah. Tanpa de-eskalasi nyata, Yaman berisiko kembali ke medan perang penuh, dengan konsekuensi yang akan terasa hingga ke pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara.



