Bencana Himalaya: Tim Penyelamat Nepal Berjuang di Tengah Kondisi Ekstrem, Empat Korban Selamat Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Operasi pencarian korban banjir bandang di Nepal memasuki hari ke-12 dengan empat penyintas berhasil dievakuasi dari puing dan terowongan PLTA.
- Bencana yang dipicu gletser runtuh di perbatasan China-Nepal telah menewaskan sedikitnya 1.385 orang dan menyebabkan lebih dari 5.500 orang hilang di kedua negara.
- Pemerintah Nepal menyatakan masa berkabung nasional, sementara komunitas internasional meluncurkan dana darurat 50 juta dolar AS untuk membantu 84.000 korban yang membutuhkan.

Tim penyelamat Nepal masih bergulat dengan medan berat dan cuaca buruk pada hari Minggu (6/9) saat operasi pencarian korban banjir bandang akibat runtuhnya gletser di perbatasan China-Nepal memasuki hari ke-12. Meski kondisi sulit, muncul secercah harapan setelah empat orang berhasil ditemukan hidup dalam dua hari terakhir, termasuk seorang perempuan lanjut usia yang terjebak di rumahnya yang tertimbun lumpur.
Bencana yang terjadi pada 26 Agustus lalu ini telah menewaskan sedikitnya 1.385 orang dan membuat lebih dari 5.500 orang hilang di kedua negara. Gelombang air es dan puing-puing menghancurkan distrik-distrik pegunungan, merusak jalan, jembatan, serta infrastruktur penting lainnya. Menteri Energi Nepal, Biraj Bhakta Shrestha, mengungkapkan bahwa pencarian masih terus dilakukan di terowongan-terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) meskipun terkendala geografi, cuaca ekstrem, dan minimnya konektivitas.
Dari empat penyintas yang dievakuasi, tiga di antaranya ditemukan di terowongan PLTA. Pemerintah sebelumnya memperkirakan lebih dari 100 pekerja mungkin masih terperangkap di lokasi tersebut. Pada Sabtu (5/9), tim penyelamat berhasil menarik seorang pria asal China dari kedalaman terowongan PLTA, serta Chandrika Shrestha, perempuan Nepal berusia 64 tahun, dari rumahnya yang tertimbun lumpur. Perdana Menteri Balendra Shah menyebut penyelamatan Shrestha sebagai "harapan bagi seluruh negeri". Sehari sebelumnya, dua pekerja PLTA Nepal juga dievakuasi dari terowongan Trishuli 3A, sementara operasi serupa terus berlanjut di setidaknya 12 proyek PLTA yang terdampak.
Koordinator Residen PBB untuk Nepal, Lila Pieters Yahia, melontarkan permohonan bantuan yang emosional. Ia menggambarkan bagaimana para korban selamat kehilangan segalanya dalam hitungan menit. "Kau kehilangan rumah, mata pencaharian, orang yang kau cintai, dan tulang punggung keluarga," katanya di Kathmandu, Minggu. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa dahsyatnya dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan bencana tersebut, yang oleh Menteri Luar Negeri Shisir Khanal disebut sebagai "tsunami Himalaya". Khanal memperingatkan biaya rekonstruksi bisa mencapai miliaran dolar AS.
Di tengah duka, kisah heroik muncul dari kalangan warga biasa. Rajendra Dawadi, seorang kepala sekolah, dengan cepat memerintahkan evakuasi saat air bah mendekat, menyelamatkan ratusan siswa. "Jika informasinya salah, kami hanya kehilangan satu hari sekolah. Tapi jika benar, kami akan kehilangan nyawa," ujarnya. Keputusan cepat semacam ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di kawasan rawan seperti Indonesia yang juga memiliki banyak gunung berapi dan daerah aliran sungai yang rentan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan ancaman hidrometeorologi yang kian nyata di tengah perubahan iklim. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, fenomena cuaca ekstrem dan banjir bandang kerap melanda berbagai daerah. Sistem peringatan dini yang efektif, edukasi publik, serta infrastruktur tahan bencana menjadi krusial untuk meminimalkan korban jiwa. Selain itu, koordinasi lintas negara dalam penanganan bencana, seperti yang dilakukan Nepal dan China, juga relevan bagi Indonesia yang berbagi pulau dengan negara tetangga.
Operasi pencarian masih terus berlangsung, tetapi tantangan besar menanti. Kamar mayat penuh, dan ratusan jenazah telah dimakamkan di kuburan massal setelah sampel DNA diambil untuk identifikasi di masa depan. Hingga saat ini, baru sekitar 100 jenazah yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Nepal akan menggelar hari berkabung nasional pada Senin (7/9), hari ke-13 pasca-bencana, sesuai tradisi berkabung dalam ritual Hindu.
Penyebab pasti runtuhnya gletser masih belum jelas, tetapi para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim mempercepat pencairan gletser di seluruh dunia, meningkatkan risiko bencana serupa. Dengan jumlah korban asing mencapai sekitar 800 orang, termasuk turis dan peziarah, bencana ini memiliki dimensi internasional yang kompleks. Pertanyaannya kini, mampukah upaya pemulihan dan rekonstruksi berjalan efektif di tengah keterbatasan akses dan kondisi yang masih belum stabil? Atau apakah dunia perlu mengkaji ulang strategi mitigasi bencana di kawasan pegunungan tinggi yang semakin rentan akibat pemanasan global?



