Mourinho Yakin Trio Mbappe-Vinicius-Bellingham Bisa Harmonis, tapi Akui Rumus Taktik Belum Ketemu
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menegaskan Kylian Mbappe, Vinicius Jr, dan Jude Bellingham tidak saling bertabrakan, meski mengakui sulit meramu ketiganya dalam satu starting XI.
- Musim lalu, ketiganya kesulitan menemukan ritme bersama; Bellingham bahkan mengalami penurunan produktivitas drastis karena harus turun lebih dalam.
- Mourinho membawa rekor 121 gol di La Liga 2011-12 sebagai bukti kapasitasnya, namun tantangan musim ini adalah memberi struktur pada kualitas individu yang melimpah.

Jose Mourinho, pelatih Real Madrid, mengakui bahwa menyatukan Kylian Mbappe, Vinicius Jr, dan Jude Bellingham dalam satu tim bukan perkara mudah, tetapi ia menepis anggapan bahwa ketiganya mustahil bermain bersama. Menjelang laga pembuka La Liga melawan Espanyol, Mourinho menegaskan bahwa para pemain bintang justru saling membutuhkan, meski penyesuaian taktik menjadi pekerjaan rumah terbesarnya.
Musim lalu, Real Madrid gagal mempertahankan gelar dan ditinggalkan tanpa trofi, sementara Barcelona tampil dominan. Kondisi internal pun sempat memanas, dengan insiden antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde yang berujung denda masing-masing 500 ribu euro. Mourinho, yang kembali menukangi Los Blancos untuk periode kedua, harus segera menemukan formula agar tiga penyerang terbaiknya bisa selaras.
Secara individu, produktivitas Mbappe dan Vinicius tidak perlu diragukan. Mbappe mencetak 42 gol di semua kompetisi, sementara Vinicius menyumbang 22 gol. Namun, masalahnya justru terletak pada bagaimana mereka berbagi ruang di lapangan. Musim lalu, Mbappe kerap beroperasi di tengah, sedangkan Vinicius lebih nyaman dari sisi kiri, tetapi keduanya sering kali menempati area yang sama. Bellingham, yang awalnya diharapkan menjadi penghubung, justru harus turun lebih dalam sehingga pengaruhnya di lini depan berkurang drastis.
Data menunjukkan penurunan signifikan pada performa Bellingham. Pada musim pertamanya di Bernabeu, ia mencetak 23 gol dan 13 assist. Musim lalu, kontribusinya merosot menjadi hanya 8 gol dan 5 assist dalam 40 penampilan. Sebaliknya, saat membela Inggris di Piala Dunia, Bellingham tampil impresif dengan 7 gol dalam 8 laga, berkat peran sebagai second striker di belakang Harry Kane. Mourinho pun menyadari bahwa menempatkan Bellingham di posisi yang lebih maju bisa menjadi kunci.
Mourinho bukan pelatih yang asing dengan tantangan meramu banyak bintang. Pada 2011-12, ia sukses membawa Real Madrid mencetak rekor 121 gol di La Liga dengan trio Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gonzalo Higuain. Kini, ia memiliki opsi tambahan: pemain muda Yan Diomande yang baru direkrut dari RB Leipzig. Diomande, yang hanya kalah dari Lamine Yamal dalam jumlah dribel di lima liga top Eropa musim lalu, bisa menjadi pembeda dengan kemampuannya melebar dan merebut bola di sepertiga akhir lapangan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, persoalan Real Madrid ini menarik karena menggambarkan dilema klasik pelatih: bagaimana menyeimbangkan bakat individu dengan kebutuhan tim. Di level klub Asia, termasuk di Liga 1, masalah serupa sering muncul ketika tim merekrut banyak pemain asing bintang. Pelajaran dari Mourinho adalah bahwa kualitas individu tidak akan berarti tanpa struktur yang jelas.
"Mereka adalah pemain luar biasa, dan pemain luar biasa ingin bermain dengan pemain luar biasa. Pemain top frustrasi ketika bermain dengan rekan yang tidak setara," ujar Mourinho dalam konferensi pers.
Mourinho juga harus mengelola hubungan internal yang sempat renggang. Ia mengaku sudah mengetahui banyak hal sebelum datang, termasuk insiden Tchouameni-Valverde, tetapi memilih memulai dari nol. "Yang saya lihat sekarang bukan soal damai, tapi normalitas, persahabatan, dan kerja sama. Seolah tidak terjadi apa-apa," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa komitmen adalah harga mati.
Mourinho punya sejarah membuktikan diri di Bernabeu. Ia memenangkan La Liga, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol pada periode pertamanya. Kini, dengan tekanan besar setelah dua musim tanpa gelar, ia dituntut untuk segera menemukan solusi. Pertanyaannya, akankah ia mampu mengulang kesuksesan 2011-12 dengan materi pemain yang berbeda? Atau justru trio Mbappe-Vinicius-Bellingham akan menjadi teka-teki yang tak terpecahkan?



