Banjir Nan Tak Ganggu Operasional Bandara, Otoritas Terbitkan Imbauan Perjalanan
Baca dalam 60 detik
- Bandara Nan Nakhon tetap beroperasi normal meski banjir melanda sejumlah distrik di Provinsi Nan, Thailand.
- Otoritas penerbangan Thailand meminta penumpang menyisihkan waktu 3-4 jam perjalanan darat dan memantau status penerbangan secara berkala.
- Satu penerbangan AirAsia sempat dialihkan ke Chiang Mai karena visibilitas rendah, namun kemudian mendarat selamat di Nan.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Nan, Thailand utara, tidak sampai melumpuhkan Bandara Nan Nakhon. Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) memastikan bandara tetap beroperasi dan jadwal penerbangan berjalan sesuai rencana, meski akses darat menuju bandara terganggu di beberapa titik. Imbauan pun dikeluarkan bagi calon penumpang agar memperhitungkan waktu tempuh lebih panjang dan terus memantau informasi terkini dari maskapai.
Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan deras, angin kencang, dan jarak pandang rendah berpotensi menyebabkan keterlambatan, pengalihan, atau pembatalan penerbangan. Pada Rabu pagi (19/8), penerbangan Thai AirAsia FD3354 dari Don Mueang yang dijadwalkan tiba pukul 08.30 terpaksa dialihkan ke Bandara Chiang Mai karena visibilitas di Nan menurun drastis. Namun, Direktur Jenderal Departemen Bandara (DOA) Danai Ruangsorn mengonfirmasi pesawat tersebut kemudian kembali dan mendarat dengan selamat di Nan Nakhon pada pukul 11.15.
Wakil Menteri Perhubungan Thailand, Phattharaphong Phattharaprasit, telah memerintahkan DOA untuk melakukan pengawasan ketat selama 24 jam setelah banjir bandang di Distrik Pua berdampak pada 12 subdistrik dan 107 desa. Bandara Nan Nakhon dan bandara di sekitarnya diminta menyiapkan rencana tanggap darurat dan mematuhi prosedur penanggulangan bencana secara ketat. Staf bandara terus memantau ketinggian air di dalam dan luar area bandara, serta memeriksa saluran drainase untuk memastikan aliran air lancar.
Langkah antisipasi juga mencakup penyiapan generator cadangan jika pasokan listrik dari Otoritas Listrik Provinsi terganggu. Koordinasi dengan pengatur lalu lintas udara, otoritas meteorologi, kantor penanggulangan bencana, dan perusahaan listrik diperkuat untuk merespons cepat keadaan darurat. Selain itu, DOA diminta memfasilitasi penerbangan dari instansi pemerintah dan organisasi swasta yang membawa bantuan bagi warga terdampak banjir.
Bagi calon penumpang, CAAT mengingatkan adanya hak atas bantuan berdasarkan Peraturan Dewan Penerbangan Sipil No. 101, yang mengatur tanggung jawab maskapai saat terjadi penundaan, pembatalan, atau penolakan boarding. Besaran kompensasi bergantung pada penyebab gangguan dan ketentuan yang berlaku. Penumpang disarankan untuk terus memeriksa kondisi rute darat dan status penerbangan sebelum berangkat.
Bagi pelancong asal Indonesia yang berencana ke Thailand utara, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya fleksibilitas jadwal dan asuransi perjalanan. Meski bandara tetap beroperasi, kondisi cuaca ekstrem dapat berubah cepat. Memantau prakiraan cuaca dan berkomunikasi dengan maskapai secara langsung adalah langkah bijak sebelum berangkat.
Ke depan, pemerintah Thailand perlu memastikan infrastruktur bandara dan akses daratnya tangguh menghadapi banjir yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Pertanyaannya, apakah langkah antisipasi seperti pemantauan 24 jam dan koordinasi antarlembaga cukup untuk mencegah gangguan total di masa mendatang? Atau justru diperlukan investasi jangka panjang untuk meninggikan landasan pacu dan memperbaiki sistem drainase?



