Uber Gandeng Zipline, Targetkan 1 Juta Pengiriman Drone per Hari pada 2029
Baca dalam 60 detik
- Uber dan Zipline mengumumkan kemitraan untuk layanan pengiriman drone bagi pelanggan Uber Eats di AS, dengan target ambisius 1 juta pengiriman per hari pada akhir 2029.
- Uber melakukan investasi strategis di Zipline, yang telah mengantongi valuasi US$7,6 miliar dan melakukan 2 juta pengiriman di empat benua.
- Layanan ini akan dimulai di pasar AS yang sudah ada, kemudian meluas ke puluhan kota lain, menandai langkah besar dalam komersialisasi drone untuk logistik makanan.

Uber Technologies dan Zipline, perusahaan pengiriman drone, resmi menjalin kemitraan strategis untuk menghadirkan layanan pengiriman otomatis berbasis drone bagi pengguna Uber Eats di Amerika Serikat. Kesepakatan ini diumumkan pada Senin (17/8) dan langsung diiringi dengan investasi dari Uber ke Zipline, meski nilai pastinya tidak diungkap ke publik.
Kemitraan ini menandai langkah berani Uber dalam merambah logistik udara, sejalan dengan tren global adopsi drone untuk layanan antar makanan yang semakin masif. Kedua perusahaan menargetkan 1 juta pengiriman per hari pada akhir 2029, dengan operasi perdana dijadwalkan mulai tahun ini. Zipline, yang telah beroperasi di empat benua, akan memanfaatkan jaringan dan infrastruktur yang sudah ada untuk mempercepat ekspansi.
Layanan ini akan diluncurkan pertama kali di pasar AS yang sudah menjadi basis Zipline, seperti di beberapa negara bagian yang telah bekerja sama dengan Walmart dan lebih dari belasan merek restoran ternama, termasuk Panera, Chipotle, dan Wendy's. Setelah itu, ekspansi akan menyasar puluhan kota tambahan, menjadikan layanan ini salah satu yang terluas di AS.
Langkah Uber ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada tahun lalu, Uber juga menjalin kemitraan serupa dengan Flytrex, perusahaan drone asal Israel, yang juga disertai investasi. Hal ini menunjukkan komitmen Uber untuk mengintegrasikan drone ke dalam ekosistem pengiriman makanannya, seiring dengan meningkatnya permintaan akan layanan yang lebih cepat dan efisien.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa industri drone untuk logistik bukan lagi sekadar wacana. Meski regulasi penerbangan drone di Indonesia masih ketat, beberapa perusahaan rintisan lokal mulai menjajaki pengiriman medis dan barang dengan drone. Jika model bisnis Uber-Zipline terbukti sukses, bukan tidak mungkin perusahaan logistik Indonesia akan mengadopsi teknologi serupa, terutama untuk daerah terpencil yang sulit dijangkau transportasi darat.
Menurut analis industri, kemitraan ini juga menyoroti potensi ekonomi drone yang diprediksi mencapai triliunan dolar dalam dekade mendatang. Dengan pengalaman Zipline dalam pengiriman medis di Afrika, perusahaan ini memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengatasi tantangan logistik di berbagai kondisi geografis. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Uber yang ingin memperluas jangkauan layanannya tanpa harus membangun infrastruktur darat yang mahal.
Namun, tantangan regulasi tetap menjadi hambatan utama. Di AS, Federal Aviation Administration (FAA) masih membatasi operasi drone di luar garis pandang pilot, meski ada pengecualian untuk beberapa perusahaan. Zipline sendiri telah mendapatkan izin khusus untuk beroperasi di beberapa wilayah, namun perluasan ke puluhan kota akan membutuhkan persetujuan yang lebih luas. Pertanyaannya, apakah regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan cukup adaptif untuk mengakomodasi ledakan layanan drone ini?
Ke depan, keberhasilan kemitraan ini akan menjadi ujian nyata bagi komersialisasi drone di sektor makanan. Jika target 1 juta pengiriman per hari tercapai, bukan tidak mungkin Uber akan memperluas layanan ini ke pasar internasional, termasuk Asia Tenggara. Namun, semua itu masih bergantung pada regulasi, infrastruktur, dan penerimaan publik terhadap teknologi baru ini.



