Serve Robotics Ganti Uber Eats dengan Grubhub: Ekspansi Robot Antarkan Makanan ke Pasar Baru
Baca dalam 60 detik
- Serve Robotics mengumumkan kemitraan dengan Grubhub untuk pengiriman makanan menggunakan robot trotoar, menyusul berakhirnya kerja sama dengan Uber Eats.
- Ekspansi ini mencakup tiga kota besar AS dan peluncuran 'micro depots' untuk efisiensi biaya, sekaligus diversifikasi ke robot rumah sakit.
- Langkah ini menandai pergeseran strategis di industri food delivery yang semakin mengandalkan otomatisasi untuk menekan biaya operasional.

Serve Robotics, perusahaan robotika asal San Francisco, mengumumkan kemitraan baru dengan Grubhub untuk mengantarkan pesanan makanan menggunakan robot trotoar. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah kerja sama jangka panjangnya dengan Uber Eats berakhir, menandai perubahan arah strategis yang signifikan bagi perusahaan yang dikenal dengan robot kotak beroda empatnya itu.
Kemitraan dengan Grubhub akan dimulai di Chicago, Los Angeles, dan Alexandria. Ini merupakan pasar baru bagi Serve yang sebelumnya hanya melayani Uber Eats dan DoorDash. Keputusan ini muncul di tengah ketidakpastian masa depan aliansi dengan Uber, yang diperkirakan akan berakhir pada awal tahun depan. Uber telah menjual sahamnya di Serve, dan perusahaan tersebut menyatakan tidak berencana memperbarui perjanjian karena volume pesanan yang menurun dan perbedaan pandangan.
CEO Serve Robotics, Ali Kashani, menegaskan bahwa kehilangan volume dari Uber akan lebih dari tergantikan melalui kemitraan dengan Grubhub dan inisiatif lainnya. "Kami yakin ini adalah jalur untuk tumbuh lebih cepat, dan itulah alasan utama kami melakukan ini," ujarnya. Optimisme ini didasarkan pada potensi perluasan jangkauan pasar dan peningkatan efisiensi operasional.
Selain Grubhub, Serve juga meluncurkan layanan di San Jose, California, dan Washington, D.C., bersama DoorDash, menjadikan total delapan pasar utama di Amerika Serikat. Perusahaan juga memperkenalkan "micro depots" di Miami, yaitu fasilitas kecil untuk penempatan, pengisian daya, dan perawatan robot. Inisiatif ini dirancang untuk mengurangi biaya dan mempercepat waktu masuk ke pasar baru, karena tidak memerlukan infrastruktur besar seperti fasilitas skala penuh.
Langkah ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri food delivery, di mana perusahaan berlomba-lomba mengadopsi otomatisasi untuk menekan biaya tenaga kerja. Wonder, perusahaan induk Grubhub, telah menggandakan investasi di bidang otomatisasi, termasuk rencana meluncurkan pengiriman drone di Texas mulai Januari. Sementara itu, Serve juga mulai meluncurkan generasi terbaru robot rumah sakit Moxi, memanfaatkan akuisisi perusahaan AI fisik Diligent Robotics untuk memasuki pasar otomasi kesehatan dan mendiversifikasi pendapatan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa persaingan di sektor pengiriman makanan semakin kompetitif dan teknologi robotik mulai menjadi pembeda utama. Meskipun adopsi robot pengantar di Indonesia masih terbatas, beberapa perusahaan logistik dan layanan pengiriman telah mulai bereksperimen dengan drone dan robot darat. Kehadiran pemain global seperti Serve dan Grubhub dapat menjadi katalis bagi adopsi teknologi serupa di pasar Asia Tenggara, yang memiliki karakteristik geografis dan infrastruktur yang berbeda.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat robot pengantar dapat menggantikan kurir manusia secara signifikan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang mengandalkan tenaga kerja murah. Apakah model bisnis seperti yang dijalankan Serve akan diadopsi di sini, atau justru menciptakan model hibrida yang menggabungkan teknologi dan sumber daya manusia? Jawabannya akan menentukan arah industri pengiriman makanan dalam beberapa tahun ke depan.



