Sam Smith Rilis Album Baru, tapi Pikiran Sudah Melompat ke Proyek Elektro yang Lebih Intens
Baca dalam 60 detik
- Sam Smith mengonfirmasi sedang menggarap album baru yang lebih elektro dan intens, bahkan sebelum album 'Hazel Eyes' resmi beredar.
- Materi anyar ini terinspirasi dari hubungannya dengan Christian Cowan, namun dieksplorasi dengan nuansa lebih nakal dan playful.
- Pelantun 'Unholy' itu juga mengungkap perubahan vokalnya setelah ribuan pertunjukan, yang memengaruhi rentang nada dan kualitas suaranya.

Sam Smith kembali mengejutkan penggemar. Di tengah euforia perilisan album terbaru bertajuk Hazel Eyes yang dijadwalkan meluncur pekan ini, pelantun Unholy itu diam-diam sudah menggarap proyek musik berikutnya. Dalam wawancara dengan The New Yorker Radio Hour, Smith mengungkapkan bahwa album yang sedang ia kerjakan akan membawa warna berbeda: lebih elektro, lebih intens, dan jauh dari nuansa romantis yang mendominasi Hazel Eyes.
Bagi Smith, proses kreatif kali ini terasa lebih membebaskan. Ia menggambarkan eksplorasi suara yang tidak biasa, mulai dari meracik aneka bunyi aneh hingga berteriak di depan mikrofon sebagai bentuk pelepasan. "Terkadang hal-hal liar itu berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah Anda bayangkan," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa ia tidak ingin berhenti pada zona nyaman, melainkan terus mendorong batas-batas musikalitasnya.
Menariknya, album baru ini tetap lahir dari sumber inspirasi yang sama dengan Hazel Eyes, yaitu kebahagiaan yang ia temukan bersama kekasihnya, desainer asal Skotlandia, Christian Cowan. Namun, pendekatannya berbeda. Jika Hazel Eyes ia sebut sebagai "kisah cinta queer tradisional", materi anyar ini justru mengeksplorasi sisi nakal dan playful dari hubungan tersebut. "Saya masih 34 tahun, saya suka menari, saya bebas, dan saya masih terinspirasi oleh suara elektro hyperpop yang intens," jelas Smith.
Keputusan Smith untuk merilis dua album dengan nuansa kontras dalam waktu berdekatan menunjukkan keberaniannya untuk tidak terkotak dalam satu genre. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa industri musik global tengah bergeser ke arah eksperimentasi yang lebih berani, di mana artis tidak lagi terikat pada satu identitas sonik. Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin bagaimana musisi lokal pun mulai berani keluar dari pakem—meski tentu dengan skala dan pasar yang berbeda.
Selain membahas karya terbaru, Smith juga terbuka mengenai perubahan vokalnya selama bertahun-tahun. Ia mengakui bahwa suaranya kini lebih rendah dan lebih penuh dibandingkan saat masih di usia 20-an. "Saya bisa bernyanyi lebih rendah dari sebelumnya, dan meski masih bisa mencapai nada tinggi, warnanya berbeda—lebih penuh," tuturnya. Smith menyebut beban kerja menjadi faktor utama, bukan kebiasaan merokok yang pernah dilakukannya secara tidak konsisten.
Lebih dari seribu pertunjukan dengan intensitas vokal penuh selama dua jam setiap kali manggung, menurut Smith, telah mengorbankan beberapa nada di rentang vokalnya. Pengakuan ini membuka diskusi tentang kesehatan vokal para penyanyi profesional, terutama di tengah tuntutan industri yang kerap mengabaikan aspek keberlanjutan karier. Bagi musisi Indonesia yang kerap tampil di berbagai panggung, pernyataan Smith bisa menjadi pengingat pentingnya manajemen vokal dan istirahat yang cukup.
"Saya pikir dampak terbesar pada suara saya adalah beban kerja menyanyi. Saya mungkin sudah tampil hampir seribu kali, dan saya bernyanyi penuh sepanjang waktu selama dua jam. Itu memengaruhi instrumen Anda setelah beberapa saat." — Sam Smith
Dengan segala ambisi dan energi kreatif yang menggebu, publik tentu menantikan seperti apa wujud final album elektro tersebut. Apakah akan menjadi titik balik dalam karier Smith atau sekadar pelengkap diskografi? Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa Smith tidak pernah berhenti berevolusi. Bagi para penggemar setianya, termasuk di Indonesia, ini adalah kabar yang patut dinantikan—apalagi jika nantinya membuka peluang tur dunia yang lebih luas.



