Prabowo Pimpin Doa Bersama untuk Korban Gempa NTT di Tengah Perayaan HUT ke-81 RI
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat mendoakan korban bencana alam, terutama gempa NTT, saat upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin doa khusus, memohon agar Indonesia dijauhkan dari bencana dan perpecahan, serta doa pemimpin negeri dikabulkan.
- Pemerintah belum memastikan kunjungan presiden ke NTT, namun sejumlah menteri telah dikerahkan untuk memantau penanganan bencana di lapangan.

Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memanjatkan doa bagi para korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan bencana alam lainnya yang melanda sejumlah wilayah, di sela-sela Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026). Momen sakral tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan kemerdekaan, tetapi juga refleksi kebangsaan di tengah duka yang masih menyelimuti sebagian saudara di tanah air.
Dalam upacara yang berlangsung khidmat itu, Prabowo memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan, sekaligus menyisipkan ajakan agar peserta upacara dan masyarakat luas turut mendoakan keselamatan serta ketabahan bagi mereka yang terdampak bencana. "Saudara-saudara sekalian, marilah kita mengheningkan cipta untuk mengenang arwah dan jasa para pahlawan kemerdekaan bangsa yang telah berkorban jiwa dan raga untuk kemerdekaan dan kehormatan bangsa Indonesia serta mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam di Sumatera, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan di wilayah-wilayah Indonesia lainnya," ujar Prabowo dalam sambutannya.
Selanjutnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin pembacaan doa yang tidak hanya memohon perlindungan dari fitnah dan bencana, tetapi juga menyiratkan harapan besar agar doa seorang pemimpin bangsa dikabulkan. "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kukabulkan bagimu. Kami mohon kepada-Mu, jauhkanlah kami dari berbagai fitnah, bencana, dan perpecahan yang dapat melemahkan sendi-sendi kekuatan bangsa kami," kata Nasaruddin. Ia menambahkan, "Seandainya hari ini Engkau hanya akan menerima satu doa, maka kabulkanlah doa pemimpin negeri kami, karena doanya pasti akan berdampak pada segenap dan seluruh warga, bangsa dan negerinya." Doa tersebut dipanjatkan mengingat Indonesia masih menghadapi perjalanan panjang serta tantangan besar yang harus diemban bersama.
Di luar agenda seremonial, pemerintah memastikan penanganan bencana di NTT terus berjalan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa sejumlah menteri telah dikerahkan ke lokasi gempa untuk memantau dan memastikan proses evakuasi serta pemulihan berjalan optimal. "Nanti kita lihat situasinya, ya. Para menteri juga sudah di sana. Kita lihat seperti apa, lalu kita putuskan," ujarnya kepada awak media di Istana Merdeka. Prasetyo merinci para pejabat yang masih bertugas di NTT, antara lain Menko PMK Pratikno, Mendagri Tito Karnavian, Menteri PU Dody Hanggodo, Wamenkes Benjamin Paulus Oktavianus, dan Wamensos Agus Jabo.
Kehadiran para pejabat tinggi di tengah wilayah bencana menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak setengah hati dalam menangani dampak gempa. "Jadi, di tengah-tengah kita merayakan kemerdekaan, tentu saja di satu sisi kita tetap harus memastikan bahwa saudara-saudara kita yang kemarin terkena bencana itu semua tertangani dengan baik," tegas Prasetyo. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa perayaan kemerdekaan tidak mengalihkan perhatian dari kewajiban kemanusiaan yang lebih mendesak.
Bencana gempa yang melanda NTT menjadi pengingat akan kerentanan geografis Indonesia yang berada di cincin api Pasifik. Setiap perayaan kemerdekaan, tantangan kebangsaan selalu hadir dalam berbagai bentuk, dan kali ini ujiannya datang dari alam. Meski pemerintah telah bergerak cepat, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana memastikan pemulihan jangka panjang bagi para korban, terutama di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur di daerah terpencil.
Ke depan, publik akan menanti keputusan presiden mengenai kemungkinan kunjungan langsung ke lokasi bencana. Langkah tersebut, jika terealisasi, akan menjadi simbol solidaritas yang kuat dari pemimpin tertinggi. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa bantuan dan rehabilitasi tidak berhenti pada momentum awal, melainkan berlanjut hingga masyarakat benar-benar pulih. Akankah pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara perayaan dan tanggung jawab kemanusiaan ini?



