Kontrak Fabio Vieira di Arsenal Kian Terpinggirkan: Performa Buruk di Laga Uji Coba Jadi Penentu Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Penampilan mengecewakan Fabio Vieira saat Arsenal melawan Como mempertegas posisinya sebagai pemain cadangan yang sulit bersaing.
- Dengan biaya transfer ยฃ34 juta, Vieira dinilai sebagai salah satu pembelian paling tidak menguntungkan di era Mikel Arteta.
- Masa depan Vieira di Arsenal semakin tidak jelas, dengan spekulasi hengkang dan kebutuhan klub akan pemain yang lebih produktif.

Laga uji coba pramusim Arsenal melawan Como menjadi panggung yang memalukan bagi Fabio Vieira. Gelandang asal Portugal itu hanya bermain sekitar 30 menit, mencatatkan 12 sentuhan bola, dan lima operan sukses sebelum ditarik keluar pada menit ke-62. Penampilan ini kembali memicu pertanyaan besar: apakah Vieira masih punya tempat di skuad The Gunners?
Sejak diboyong dari Porto dengan mahar ยฃ34 juta pada 2022, ekspektasi terhadap Vieira cukup tinggi. Namun, kontribusinya di lapangan jauh dari kata memadai. Satu-satunya momen yang dikenang adalah gol indahnya ke gawang Brentford. Di luar itu, ia lebih sering menghilang, bahkan sempat dipinjamkan ke Hamburg musim lalu. Meski sempat dipuji sebagai salah satu rekrutan terbaik Bundesliga, performa konsisten tidak pernah ia tunjukkan di Emirates Stadium.
Keputusan Mikel Arteta untuk terus memberikan menit bermain kepada Vieira di pramusim justru menjadi sorotan. Di saat para pemain muda seperti Myles Lewis-Skelly dan Marli Salmon tampil menonjol, Vieira justru gagal memanfaatkan kesempatan. Lewis-Skelly bahkan mencetak gol dan menunjukkan komitmennya di tengah rumor ketertarikan klub lain. Sementara itu, Salmon yang masih berusia 16 tahun tampil solid dengan akurasi operan 98 persen dan delapan duel bertahan dimenangkan.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemain yang haus akan menit bermain dan mereka yang sekadar mengisi skuad. Vieira, yang kini berusia 26 tahun, seharusnya berada di puncak kariernya. Namun, statistiknya justru menurun drastis. Dalam laga melawan Como, ia hanya melepaskan satu umpan kunci dan gagal memanfaatkan peluang emas. Arteta tentu berharap lebih dari seorang pemain yang dibanderol mahal.
Dari perspektif finansial, pembelian Vieira menjadi salah satu yang paling boros di era Arteta. Dibandingkan dengan rekrutan lain seperti Albert Sambi Lokonga, Pablo Mari, atau Cedric Soares, Vieira dinilai paling tidak memberikan nilai balik. Jika Arsenal serius bersaing di Premier League dan Liga Champions, mereka membutuhkan pemain yang siap bersaing, bukan sekadar penghangat bangku cadangan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Vieira menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi dan adaptasi. Di tengah gempuran pemain muda berbakat, senior yang gagal menunjukkan progres akan tersingkir dengan sendirinya. Arsenal, yang tengah membangun skuad muda, tampaknya lebih memilih memberi ruang kepada pemain akademi daripada mempertahankan pemain yang tidak berkembang.
Ke depannya, Arsenal harus segera mengambil keputusan tegas. Menjual Vieira di bursa transfer musim panas ini bisa menjadi langkah terbaik, baik bagi klub maupun pemain. Dengan begitu, Arsenal bisa mendapatkan dana segar untuk memburu target lain, sementara Vieira bisa mencari klub yang lebih cocok untuk menghidupkan kembali kariernya. Pertanyaannya, akankah Arteta berani melepasnya, atau justru memberinya satu kesempatan terakhir?



