Bezos Masuk Liverpool: Investasi Rp 28 Triliun dan Pertaruhan Kepercayaan Suporter
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium yang melibatkan Jeff Bezos dikabarkan memasuki tahap akhir negosiasi untuk mengakuisisi 30% saham Liverpool, dengan nilai klub ditaksir mencapai £4,5 miliar.
- Kesepakatan ini diproyeksikan memberi keuntungan besar bagi Fenway Sports Group (FSG) yang diperkirakan meraup £1,35 miliar, namun tidak serta-merta menambah daya beli klub di bursa transfer karena regulasi keuangan Premier League.
- Kekhawatiran suporter terkait rekam jejak ketenagakerjaan Amazon dan motif investasi 'tropi' menjadi sorotan, sementara potensi akuisisi penuh di masa depan tetap terbuka jika investasi awal berjalan mulus.

Jeff Bezos, pendiri Amazon yang tercatat sebagai orang terkaya keempat dunia versi Forbes dengan kekayaan sekitar £190 miliar, dikabarkan tengah berada di balik konsorsium yang mengincar 30% saham Liverpool. Jika terealisasi, nilai klub asal Merseyside itu akan melonjak hingga £4,5 miliar, sebuah angka yang 13 kali lipat dari valuasi saat FSG mengambil alih klub pada 2010.
Bagi Fenway Sports Group (FSG), pemilik mayoritas sejak 2010, tawaran ini adalah skenario terbaik. Dengan investasi awal sekitar £518 juta—termasuk utang intra-grup—FSG berpotensi meraup £1,35 miliar dari penjualan saham minoritas ini, sambil tetap memegang kendali penuh. Analis keuangan sepak bola Kieran Maguire menyebutnya sebagai "yang terbaik dari kedua dunia", karena FSG bisa memulihkan modal besar tanpa kehilangan kendali.
Namun, di balik gemerlap angka, suporter Liverpool masih dihantui trauma kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett yang nyaris membawa klub ke jurang kebangkrutan. Kelompok suporter Spirit of Shankly (SOS) telah menyuarakan keberatan, menuntut transparansi mengenai peran konsorsium dalam pengambilan keputusan dan due diligence yang dilakukan. Mereka juga mempertanyakan apakah investasi ini murni bisnis atau sekadar "tropi" bagi para miliarder.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh catatan ketenagakerjaan Amazon. Laporan Trades Union Congress pada 2020 menyoroti kondisi kerja yang berat di gudang-gudang Amazon, dan aksi mogok kerja 200 karyawan di Birmingham pada 2024 masih menjadi perdebatan. Gareth Roberts, pemegang tiket musiman Liverpool, mengungkapkan kegelisahannya: "Bagaimana Amazon memperlakukan serikat pekerja dan karyawan tidaklah menyenangkan. Apakah dia hanya akan memanfaatkan nama Liverpool untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya?"
Di sisi lain, masuknya Bezos menegaskan tren investasi Amerika di Premier League. Sebelas dari 20 klub musim ini dimiliki mayoritas oleh pengusaha AS, termasuk Liverpool. Bezos sendiri sebelumnya dikaitkan dengan Seattle Seahawks dan Washington Commanders, tetapi Liverpool akan menjadi kepemilikan pertamanya di sepak bola Inggris. Dengan basis penggemar yang tumbuh pesat di AS—26 juta pendukung menurut GWI—investasi ini tampaknya sejalan dengan strategi ekspansi global.
Bagi Indonesia, kabar ini menarik karena Liga Inggris memiliki basis penggemar yang besar. Investasi asing seperti ini kerap menjadi tolok ukur daya tarik kompetisi, tetapi juga memicu perdebatan tentang komersialisasi dan dampaknya terhadap identitas klub. Jika kesepakatan ini terwujud, Liverpool akan memiliki pemilik dengan sumber daya finansial luar biasa, namun suporter tetap menjadi penjaga gawang terakhir nilai-nilai klub.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah apakah ini hanya langkah awal. Maguire memperkirakan, jika investasi awal berjalan baik, bukan tidak mungkin Bezos dan konsorsiumnya akan memperbesar kepemilikan hingga akuisisi penuh. "Jika Bezos dan kawan-kawan menyukai gengsi dan perhatian yang didapat dari memiliki sebagian merek sebesar Liverpool, maka akuisisi penuh menjadi kemungkinan jika harganya tepat," ujarnya. Namun, apakah suporter akan menerima kenyataan itu dengan lapang dada? Hanya waktu yang bisa menjawab.



