Jesy Nelson Bernapas Lega: Anak Kembarnya Sukses Jalani Operasi Lepas Selang Makan
Baca dalam 60 detik
- Mantan personel Little Mix, Jesy Nelson, mengumumkan bahwa putri kembarnya, Ocean dan Story, telah berhasil melepas selang nasogastrik (NG) setelah menjalani prosedur medis.
- Kedua balita tersebut mengidap Spinal Muscular Atrophy (SMA) tipe 1, kondisi genetik langka yang memengaruhi kekuatan otot dan kemampuan menelan, sehingga memerlukan selang makan sejak dini.
- Kabar ini menjadi titik terang di tengah perjuangan panjang keluarga, sekaligus menyoroti pentingnya skrining dini SMA yang kini akan diterapkan secara nasional di Inggris pada 2027.

Jakarta, LyndHub โ Penyanyi Jesy Nelson akhirnya bisa bernapas lega setelah kedua putri kembarnya, Ocean dan Story, sukses menjalani prosedur pelepasan selang nasogastrik (NG) yang selama ini menempel di wajah mereka. Momen haru itu dibagikan langsung oleh mantan personel Little Mix melalui unggahan Instagram, di mana ia mengaku sempat diliputi rasa cemas luar biasa sebelum operasi berlangsung.
Ocean dan Story, yang kini berusia 14 bulan, mengidap Spinal Muscular Atrophy (SMA) tipe 1, sebuah kelainan genetik langka yang menyebabkan kelemahan otot progresif dan gangguan menelan. Selang NG selama ini menjadi jalur utama pemenuhan nutrisi bagi keduanya, mengingat kondisi mereka yang rentan mengalami kesulitan saat menelan makanan atau minuman secara oral. Prosedur pelepasan selang ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan terapi mereka, menandakan adanya perbaikan fungsi menelan yang signifikan.
Dalam unggahan sebelum operasi, Jesy mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. Ia mengaku sudah lupa bagaimana rasanya memeluk anak-anaknya tanpa rasa khawatir selang atau plester di wajah mereka akan terlepas. "Hari ini adalah hari terakhir anak-anakku menggunakan selang NG di wajah mereka," tulisnya. "Aku benar-benar lupa bagaimana rasanya memeluk mereka tanpa khawatir selangnya tertarik atau plesternya terkelupas." Ia juga tak sabar untuk melihat lesung pipit kecil putrinya yang selama ini tertutup plester medis, seraya menambahkan bahwa hal-hal kecil seperti itu sering kali dianggap remeh oleh orang tua pada umumnya.
Kabar baik pun datang setelah operasi. Jesy kembali membagikan video Ocean dan Story yang tertidur pulas tanpa selang dan plester di wajah mereka. Ia menyebut kedua putrinya sebagai "gadis-gadis kecil pemberani" yang pernah ia kenal, dan mengaku rasanya seperti mimpi bisa melihat wajah mereka tanpa alat bantu tersebut. Momen ini tentu menjadi pelipur lara bagi Jesy yang sebelumnya harus melalui masa-masa sulit sejak diagnosis SMA diumumkan pada Januari 2026. Perjalanan emosional keluarga ini pun terekam dalam serial dokumenter Amazon Prime bertajuk "Jesy Nelson: Life Changing".
Di luar kebahagiaan pribadi, kisah Jesy Nelson ini membawa sorotan pada isu yang lebih luas: pentingnya deteksi dini SMA. Jesy sendiri telah menjadi advokat vokal untuk skrining SMA pada bayi baru lahir. Sebelumnya, ia bahkan mendatangi Houses of Parliament di London untuk menyaksikan debat mengenai topik tersebut, setelah petisinya berhasil mengumpulkan lebih dari 150.000 tanda tangan. Perjuangannya membuahkan hasil ketika pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa skrining SMA untuk bayi baru lahir akan diterapkan secara nasional melalui NHS pada tahun 2027. Jesy menyebut kabar itu sebagai "hari penuh harapan" dalam unggahan emosionalnya.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran dan deteksi dini penyakit langka seperti SMA. Meskipun skrining nasional belum tersedia, beberapa rumah sakit di Indonesia telah mulai menawarkan tes genetik untuk SMA. Namun, biaya yang masih tinggi dan kurangnya sosialisasi menjadi kendala utama. Organisasi pasien dan tenaga medis terus mendorong pemerintah untuk memasukkan SMA ke dalam program skrining bayi baru lahir, mengingat penanganan dini dapat secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien. Kisah Jesy Nelson diharapkan dapat menginspirasi para orang tua di Indonesia untuk lebih proaktif dalam memantau tumbuh kembang anak dan tidak ragu berkonsultasi dengan dokter jika ada gejala yang mencurigakan.
Keberhasilan operasi Ocean dan Story menandai babak baru dalam perjuangan keluarga kecil ini. Namun, perjalanan mereka masih panjang. Terapi dan perawatan intensif akan terus dibutuhkan untuk memastikan tumbuh kembang yang optimal. Pertanyaannya kini, akankah kisah inspiratif ini mampu mendorong perubahan kebijakan kesehatan yang lebih inklusif bagi anak-anak dengan penyakit langka di berbagai negara, termasuk Indonesia?



