IBM dan Together AI Bangun Klaster AI Senilai US$240 Juta: Dampaknya bagi Pasar Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- IBM dan Together AI menandatangani kontrak multi-tahun senilai US$240 juta untuk membangun klaster inferensi AI di IBM Cloud dengan perangkat keras Nvidia.
- Langkah ini menyoroti meningkatnya permintaan komputasi untuk inferensi model AI, seiring perusahaan mencari cara yang lebih hemat biaya dan aman.
- Bagi Indonesia, inisiatif ini dapat mendorong adopsi AI terbuka di sektor korporasi dan pemerintahan, sekaligus memperkuat posisi regional dalam ekosistem AI.

IBM dan perusahaan rintisan Together AI mengumumkan kemitraan senilai US$240 juta untuk membangun klaster kecerdasan buatan (AI) berskala besar di IBM Cloud. Kesepakatan yang berlangsung beberapa tahun ini akan memanfaatkan sistem Nvidia, termasuk prosesor Blackwell terbaru, untuk melayani kebutuhan inferensi model AI sumber terbuka. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan infrastruktur AI global semakin memanas, dengan fokus pada efisiensi biaya dan keamanan.
Inferensi, proses menjalankan model AI yang telah dilatih untuk menghasilkan respons, kini menjadi pendorong utama permintaan kapasitas komputasi. Perusahaan cloud dan produsen chip berlomba menggelontorkan miliaran dolar untuk memperluas infrastruktur. Kesepakatan IBM-Together AI menegaskan tren ini, sekaligus menjawab kekhawatiran perusahaan akan biaya tinggi dan risiko keamanan siber yang melekat pada model tertutup seperti milik Anthropic, OpenAI, dan Meta.
Klaster yang dibangun akan menggunakan sistem HGX B300 dari Nvidia, yang menggabungkan prosesor Blackwell yang dioptimalkan untuk inferensi, serta perangkat jaringan Spectrum-X Ethernet. Dengan spesifikasi ini, klaster diharapkan mampu memberikan performa tinggi untuk model-model terbuka seperti DeepSeek, MiniMax, dan Kimi. Together AI, yang berbasis di San Francisco dan terakhir dinilai US$8,3 miliar pada Juli lalu, menawarkan platform bagi perusahaan untuk melatih dan menjalankan beban kerja AI pada model terbuka dengan biaya lebih rendah dibanding sistem tertutup.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, adopsi model AI terbuka dapat membantu perusahaan lokal mengurangi ketergantungan pada penyedia asing dan menekan biaya operasional. Di sisi lain, infrastruktur AI dalam negeri masih terbatas, sehingga perusahaan Indonesia mungkin perlu bermitra dengan penyedia cloud global seperti IBM untuk mengakses teknologi ini. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mendorong transformasi digital, termasuk pengembangan ekosistem AI, namun regulasi dan kesiapan sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah.
Menurut analis industri, langkah IBM dan Together AI mencerminkan pergeseran strategis dari sekadar membangun model AI menjadi menyediakan infrastruktur inferensi yang efisien. "Inferensi adalah medan pertempuran berikutnya dalam AI," ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya. "Perusahaan tidak lagi hanya ingin melatih model, tetapi juga menjalankannya secara ekonomis dan aman." Pernyataan ini menegaskan bahwa persaingan tidak lagi semata-mata pada kecanggihan model, melainkan pada kemampuan menyediakan layanan yang terjangkau dan dapat diandalkan.
Ke depan, kesepakatan ini dapat memicu gelombang kemitraan serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pertanyaannya, apakah penyedia cloud lokal seperti Telkom Sigma atau Alibaba Cloud akan merespons dengan menawarkan solusi serupa? Atau justru perusahaan Indonesia akan semakin bergantung pada raksasa global? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta persaingan AI regional, sekaligus memengaruhi daya saing industri digital nasional.



