Insentif Ibu Rumah Tangga: Viktor Laiskodat Dorong Pengakuan Negara atas Peran Pengasuhan
Baca dalam 60 detik
- Anggota DPR Viktor Laiskodat mengusulkan insentif dan perlindungan bagi ibu rumah tangga yang menjalankan fungsi pengasuhan, menempatkannya sebagai investasi sumber daya manusia.
- Usulan ini menyoroti kesenjangan antara kontribusi ekonomi dan sosial pekerjaan pengasuhan yang belum diakui dalam kebijakan fiskal dan perlindungan sosial di Indonesia.
- Jika direalisasikan, kebijakan ini dapat menjadi preseden bagi pengakuan ekonomi perawatan (care economy) dan memperkuat fondasi pembangunan manusia dari tingkat keluarga.

Anggota DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat mendesak pemerintah untuk memberikan insentif dan jaminan perlindungan bagi ibu rumah tangga yang menjalankan peran pengasuhan, sebuah langkah yang dinilai sebagai investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Usulan ini muncul di tengah diskusi yang semakin menguat tentang perlunya mengakui kontribusi ekonomi dari pekerjaan domestik yang selama ini tidak terlihat dalam statistik resmi.
Menurut Viktor, pekerjaan pengasuhan yang dilakukan setiap hari oleh para ibu memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas generasi penerus. Ia menekankan bahwa pengorbanan waktu, tenaga, dan perhatian yang diberikan para ibu seringkali tidak sebanding dengan dukungan yang mereka terima. โPara ibu rela mengorbankan segala yang mereka miliki, waktu, tenaga, perhatian, bahkan kenyamanan diri untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan baik,โ ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Viktor menilai keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai seperti keberanian, tanggung jawab, kepedulian, dan cinta tanah air, menurutnya, mulai ditanamkan melalui kehidupan sehari-hari di rumah. โDi tangan seorang ibu, nilai-nilai kehidupan paling banyak ditanamkan. Keberanian, tanggung jawab, kepedulian, dan cinta tanah air mulai dibentuk dari rumah,โ tegasnya. Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, melainkan juga pada peran sentral keluarga.
Lebih jauh, Viktor menyoroti bahwa nasionalisme juga dapat dipupuk sejak dini melalui pengajaran tentang keberagaman, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama. โNasionalisme pun tumbuh dari rumah. Dari cerita seorang ibu tentang Indonesia, dari ajaran untuk menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menghormati sesama, dan berani melakukan sesuatu yang baik bagi bangsa,โ katanya. Dengan demikian, pengakuan terhadap peran ibu bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga soal masa depan ideologi bangsa.
Dalam konteks Indonesia, usulan ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana negara menghargai pekerjaan yang tidak terukur secara ekonomi konvensional. Data menunjukkan bahwa partisipasi ekonomi perempuan di Indonesia masih rendah, salah satunya karena beban kerja domestik yang tidak terbagi rata. Memberikan insentif kepada ibu rumah tangga dapat menjadi langkah awal untuk mengakui kontribusi mereka, meskipun implementasinya akan menghadapi tantangan fiskal dan birokrasi.
Viktor menegaskan bahwa dukungan terhadap pengasuhan bukan sekadar bentuk penghargaan simbolis, melainkan upaya nyata menyiapkan generasi yang berkarakter. โKetika seorang ibu mengajarkan anaknya untuk berani, bertanggung jawab, peduli kepada sesama, dan mencintai Indonesia, sesungguhnya ia sedang menanam benih masa depan bangsa,โ ucapnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kebijakan yang berpihak pada ibu rumah tangga adalah kebijakan yang berpihak pada masa depan Indonesia.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah bagaimana mekanisme insentif ini akan dirancang. Apakah akan berbentuk bantuan langsung tunai, jaminan sosial, atau pengakuan dalam bentuk lain? Belum ada detail teknis dari usulan ini, namun wacana ini telah memicu diskusi di kalangan pembuat kebijakan tentang perlunya mereformasi sistem perlindungan sosial agar lebih inklusif terhadap pekerjaan perawatan yang selama ini tidak terlihat. Ke depan, langkah konkret pemerintah dalam merespons usulan ini akan menjadi indikator keseriusan dalam membangun fondasi pembangunan manusia dari unit terkecil, yaitu keluarga.



