Bank Sentral Sri Lanka Pilih Tahan Suku Bunga, Inflasi Diprediksi Puncak di Level Saat Ini
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Bank Sentral Sri Lanka menyatakan tidak ada kenaikan suku bunga tambahan tahun ini setelah lonjakan 100 basis poin pada Mei.
- Inflasi diperkirakan mencapai puncaknya di sekitar level saat ini dan kembali ke target 5% pada paruh pertama tahun depan.
- Kebijakan ini bertujuan menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas harga, dengan dukungan IMF.

Bank Sentral Sri Lanka (CBSL) menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga lagi tahun ini, setelah langkah agresif menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei lalu. Gubernur P. Nandalal Weerasinghe mengatakan inflasi diperkirakan akan mencapai puncaknya di sekitar level saat ini sebelum berangsur turun menuju target 5 persen pada tahun depan.
Keputusan untuk menahan laju pengetatan moneter ini menjadi sinyal bahwa otoritas moneter ingin menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pemulihan ekonomi yang masih rapuh. Langkah Mei lalu, yang merupakan kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun, sempat mengejutkan pasar dan memicu kekhawatiran analis bahwa pemulihan ekonomi yang didukung IMF bisa terganggu.
Weerasinghe menyebut kenaikan Mei sebagai langkah "proaktif" karena bank sentral memperkirakan inflasi akan naik ke 7 persen. Realisasi inflasi saat ini, yang mencapai 7,3 persen pada Juli, dinilai masih sesuai dengan perkiraan. "Kami perlu memantau apakah akan ada penyimpangan dari yang kami perkirakan," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters.
Ia menambahkan, keputusan untuk mengetatkan atau melonggarkan kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada apakah inflasi menyimpang dari jalur yang diharapkan. "Sejauh ini, kami belum melihat hal itu," tegasnya.
Dampak penuh dari kenaikan suku bunga Mei diperkirakan baru akan terasa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Weerasinghe optimistis inflasi dapat kembali ke target 5 persen pada paruh pertama tahun depan. Dengan demikian, suku bunga acuan diperkirakan tetap bertahan di level 8,75 persen setidaknya hingga akhir tahun. Pengumuman suku bunga berikutnya dijadwalkan pada 30 September.
Tekanan inflasi di Sri Lanka sebagian besar dipicu oleh melonjaknya harga energi global, terutama akibat konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran yang dimulai pada 28 Februari. Konflik ini telah mengganggu jalur pasokan minyak dan gas alam cair, mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Pemerintah Sri Lanka pun telah menaikkan harga bahan bakar lebih dari 35 persen, memberlakukan penjatahan, dan menetapkan Rabu sebagai hari libur nasional untuk meringankan beban anggaran negara.
Ekonomi Sri Lanka sendiri tumbuh 5 persen pada 2024 dan 2025, setelah mengalami kontraksi 7,3 persen pada 2022 akibat krisis keuangan. Namun, langkah-langkah defensif untuk menghadapi gejolak global berpotensi menurunkan pertumbuhan. Weerasinghe tetap mempertahankan sikap hawkish dengan alasan "inflasi rendah adalah prasyarat untuk pertumbuhan masa depan", dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4-5 persen.
Dukungan datang dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyetujui pelepasan dana sebesar $695 juta dari program pinjaman $2,9 miliar. IMF juga memproyeksikan ekonomi Sri Lanka masih bisa tumbuh 3 persen tahun ini. Prioritas utama lainnya adalah menjaga akumulasi cadangan devisa, mengingat biaya impor bahan bakar yang meningkat dapat kembali menekan neraca eksternal.
Bagi Indonesia, kebijakan moneter Sri Lanka menjadi pengingat akan tantangan serupa dalam menghadapi tekanan inflasi global. Bank Indonesia juga menghadapi dilema antara menstabilkan nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Keputusan Sri Lanka untuk menahan suku bunga meskipun inflasi masih tinggi menunjukkan adanya ruang untuk mengelola ekspektasi inflasi tanpa harus selalu merespons secara berlebihan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Sri Lanka mampu mempertahankan stabilitas harga tanpa mengorbankan momentum pemulihan ekonomi. Dengan inflasi yang diperkirakan memuncak dan dukungan IMF, langkah bank sentral ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas kebijakan moneter dalam menghadapi tekanan eksternal.



