Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Kolombia: 18 Tewas, Ratusan Bangunan Runtuh
Baca dalam 60 detik
- Getaran dahsyat bermagnitudo 7,4 melanda Kolombia barat dan terasa hingga Ekuador, Panama, serta Venezuela, menewaskan sedikitnya 18 orang.
- Kota Pereira dan Cali melaporkan kerusakan terparah dengan puluhan bangunan kolaps, sementara tim penyelamat masih memburu korban di reruntuhan.
- Gempa susulan berpotensi memperlambat evakuasi, sementara pemerintah Kolombia berjanji mempercepat penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia bagian barat pada Senin (10/8) dini hari, merenggut sedikitnya 18 nyawa dan meratakan sejumlah bangunan di beberapa kota. Guncangan yang berpusat di kedalaman 100 kilometer itu tidak hanya dirasakan warga Kolombia, tetapi juga menjalar ke Ekuador, Panama, dan Venezuela, memicu evakuasi massal di ibu kota Bogota.
Menurut laporan awal, korban tewas terbanyak tercatat di Pereira, kota di kawasan penghasil kopi, di mana Wali Kota Mauricio Salazar menyebut situasi "kritis". Sementara itu, di Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, sedikitnya 20 gedung dilaporkan ambruk dan sejumlah warga masih terjebak di bawah puing-puing. Gubernur provinsi Choco, yang menjadi episentrum gempa, mengonfirmasi kerusakan parah di ibu kota provinsi Quibdo, meski jumlah korban di wilayah itu belum dapat dipastikan.
Gempa ini menjadi ujian berat bagi infrastruktur Kolombia yang belum sepenuhnya pulih dari serangkaian bencana alam sebelumnya. Di Bogota, kerusakan dilaporkan terbatas pada retakan fasad bangunan, tetapi warga tetap panik dan berlarian ke jalan dalam keadaan setengah berpakaian saat sirene darurat berbunyi. Enam bandara kecil di barat Kolombia terpaksa menutup operasionalnya, mengganggu distribusi logistik bantuan.
Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, mengumumkan akan segera mengunjungi lokasi terdampak untuk memastikan respons darurat berjalan cepat. Tim penyelamat dari berbagai daerah dikerahkan, menggunakan drone untuk menilai kerusakan di area yang sulit dijangkau. Namun, putusnya aliran listrik dan jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah menghambat koordinasi di lapangan, seperti diungkapkan seorang warga Eje Cafetero, Martha Estrada (66), yang menggambarkan guncangan terasa sangat kuat hingga barang-barang di rumahnya berjatuhan.
Bencana ini kembali menyoroti kerentanan kawasan Andes terhadap aktivitas seismik. Venezuela, yang pada akhir Juni lalu dilanda dua gempa dahsyat berkekuatan 7,2 dan 7,5, masih dalam proses pemulihan ketika gempa baru ini terjadi. Para ahli geologi memperingatkan bahwa rangkaian gempa di sepanjang Cincin Api Pasifik menunjukkan peningkatan aktivitas tektonik yang perlu diantisipasi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia yang berada di jalur gempa serupa.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia memiliki karakteristik seismik yang mirip dengan Kolombia, sehingga mitigasi bencana harus terus diperkuat. Masyarakat diimbau untuk memahami prosedur evakuasi dan memastikan bangunan tahan gempa, terutama di daerah rawan.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih berjuang mencari korban selamat di antara reruntuhan. Pertanyaannya, apakah pemerintah Kolombia mampu mempercepat pemulihan di tengah keterbatasan logistik dan ancaman gempa susulan? Pengalaman negara-negara lain yang dilanda bencana serupa menunjukkan bahwa solidaritas internasional dan kesiapan lokal menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak jangka panjang.



