Dolar Menguat Jelang Rilis CPI AS, Yen Tertekan: Apa Dampaknya bagi Rupiah?
Baca dalam 60 detik
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 48% setelah data tenaga kerja AS yang lemah, memicu pergerakan dolar.
- Yen melemah 0,75% ke level 158,97 per dolar, terbesar dalam lima bulan, meski ada intervensi Jepang-AS.
- Data inflasi CPI yang akan dirilis Rabu menjadi penentu arah kebijakan moneter global, berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin (10/8) di tengah meningkatnya harga minyak, menjelang rilis data inflasi konsumen (CPI) Juli yang akan menjadi sorotan pasar. Penguatan ini terjadi setelah laporan tenaga kerja AS yang jauh di bawah ekspektasi pada Jumat lalu memicu keraguan akan kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Berdasarkan data fed funds futures, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini hanya 48%, turun dari 55% sebelum rilis data tenaga kerja. Para analis menilai perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dan penurunan harga minyak menjadi dua faktor utama yang meredam ekspektasi kenaikan suku bunga. Adam Button, kepala analis mata uang di investingLive, mengungkapkan bahwa laporan tenaga kerja yang buruk disertai revisi yang mengerikan membuat skenario kenaikan suku bunga September semakin tidak pasti.
Data CPI yang akan dirilis Rabu berpotensi mengubah kembali ekspektasi pasar jika menunjukkan adanya akselerasi tekanan harga. Selain itu, data harga produsen pada Kamis dan penjualan ritel pada Jumat akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah inflasi. Pergerakan ini tidak hanya berdampak pada pasar keuangan global, tetapi juga berimplikasi pada nilai tukar rupiah dan kebijakan Bank Indonesia.
Harga minyak sendiri telah turun dari level tertingginya seiring harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran. Namun, volatilitas masih tinggi setelah Iran menuntut AS memenuhi sejumlah syarat sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Harga minyak melonjak hampir 2% pada Senin menyusul pernyataan tersebut.
- Indeks dolar AS naik 0,15% ke 99,76; euro melemah 0,1% ke $1,1546.
- Yen Jepang melemah 0,75% ke 158,97 per dolar, penurunan harian terbesar dalam hampir lima bulan.
- Posisi jual bersih spekulan terhadap yen turun $8,865 miliar menjadi $3,604 miliar, penurunan terbesar sejak Maret 2014.
- Spekulan meningkatkan posisi beli bersih dolar ke level tertinggi sejak Desember 2022.
Yen Jepang menjadi sorotan utama setelah melemah 0,75% terhadap dolar ke level 158,97, penurunan harian terbesar dalam hampir lima bulan. Meskipun sempat menguat akibat intervensi, yen masih jauh dari level terendah multi-dekade di kisaran 164 yang sempat disentuh akhir bulan lalu. Data dari Commodity Futures Trading Commission menunjukkan spekulan memangkas posisi jual yen dalam jumlah terbesar dalam 12 tahun terakhir, mencerminkan upaya terkoordinasi otoritas Jepang dan AS untuk memperkuat mata uang tersebut.
Sementara itu, dolar Australia melemah 0,13% ke $0,7058 menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa. Bank sentral Australia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 4,35% hingga akhir tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa bank sentral di berbagai negara masih berhati-hati dalam merespons ketidakpastian global.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar yang kuat dan ketidakpastian kebijakan The Fed menjadi perhatian serius. Nilai tukar rupiah berpotensi tertekan jika dolar terus menguat, terutama jika data CPI AS menunjukkan inflasi yang masih tinggi. Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan kebijakan suku bunga yang hati-hati. Namun, keputusan The Fed pada September akan menjadi penentu utama arah aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis data CPI AS sebagai katalis utama. Jika inflasi menunjukkan penurunan signifikan, The Fed mungkin menahan suku bunga lebih lama, yang dapat melemahkan dolar dan memberi ruang bagi penguatan rupiah. Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, dolar akan semakin perkasa dan tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah, akan meningkat. Pertanyaannya, apakah BI memiliki ruang yang cukup untuk menahan gejolak nilai tukar di tengah dinamika global yang tidak menentu?



