KPop Demon Hunters: Tatapan Leonardo DiCaprio Bikin Penyanyi Ejae Gagal di BAFTA
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi di balik karakter Rumi mengaku salah nada saat tampil di BAFTA karena tatapan dingin DiCaprio.
- Kesuksesan film animasi Netflix itu melampaui ekspektasi, namun di balik layar industri K-pop menyimpan praktik ketat.
- Ejae juga menyoroti isu rasisme dan stereotip yang masih menghantui industri musik global.

Momen panggung yang seharusnya menjadi puncak karier justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Ejae, penyanyi yang mengisi suara karakter Rumi dalam film animasi Netflix KPop Demon Hunters. Saat membawakan lagu Golden di ajang BAFTA Film Awards di London awal tahun ini, ia mengaku kehilangan fokus setelah bertatapan langsung dengan Leonardo DiCaprio yang duduk di barisan depan. Alih-alih tersenyum, aktor peraih Oscar itu justru menatapnya dengan ekspresi datar, membuat Ejae salah nada di bagian high notes.
Dalam wawancara dengan The Sunday Times, pelantun berusia 34 tahun itu mengungkapkan bahwa kejadian tersebut masih membekas. "BAFTA menghantuiku," ujarnya. "Aku membuat kesalahan. Suaraku pecah di nada tinggi. Leonardo DiCaprio ada tepat di depanku dan dia tidak tersenyum. Itu yang membuatku gugup." Ia menambahkan bahwa tampil di depan puluhan selebritas saja sudah menegangkan, apalagi harus beradu pandang dengan salah satu bintang terbesar Hollywood.
Di balik kegugupannya, kesuksesan KPop Demon Hunters sendiri diakui Ejae di luar perkiraan. Film yang dirilis musim panas lalu itu mencetak rekor sebagai judul original paling banyak ditonton dalam sejarah Netflix. "Aku tahu hal seperti ini bisa terjadi, tapi aku tidak pernah menyangka akan menimpaku," katanya. "Aku sempat berpikir film ini mungkin besar karena ceritanya keren, tapi kita tidak pernah tahu." Ia menggambarkan setahun terakhir sebagai periode yang luar biasa padat, "Aku sudah menjalani lima kehidupan dalam satu tahun."
Namun, di balik gemerlap panggung, Ejae juga membuka tabir kelam industri K-pop yang melatihnya. Ia menceritakan aturan ketat yang diberlakukan agensi, mulai dari larangan mengunyah permen karet karena dianggap memperbesar rahang, hingga kewajiban berlatih tersenyum di depan cermin dengan bibir yang diposisikan tertentu demi membentuk otot wajah. "Kami tidak boleh memakai anting. Juga dilarang minum soda dan makan makanan berminyak. Semua demi menjaga tubuh tetap ramping dan tidak kembung," ungkapnya. "Menurutku itu tidak sehat. Sangat ambisius untuk ukuran remaja."
Lebih jauh, Ejae menyoroti isu representasi dan diskriminasi yang masih mengakar di industri musik. Ia menegaskan bahwa rasisme dan stereotip masih nyata, terutama terhadap perempuan. "Aku tidak melihat representasi yang cukup. Sejujurnya, pasti ada level rasisme tertentu. Juga stereotip, terutama untuk wanita. Aku benar-benar penasaran kenapa," tuturnya. Menurutnya, kehadiran satu sosok yang mirip dengan kita di industri itu bisa menjadi pintu masuk yang lebih mudah bagi orang lain.
Pernyataan Ejae ini relevan bagi industri hiburan Indonesia yang tengah berkembang pesat. Fenomena K-pop dan animasi global seperti KPop Demon Hunters menunjukkan bahwa pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah audiens potensial yang besar. Namun, di sisi lain, praktik ketat dan isu diskriminasi yang diungkapkan Ejae menjadi pengingat bahwa industri kreatif perlu berbenah, terutama dalam hal kesejahteraan artis dan kesetaraan kesempatan. Apakah industri hiburan Tanah Air akan belajar dari pengalaman ini untuk membangun ekosistem yang lebih sehat dan inklusif?



