Konsorsium Jeff Bezos Kian Dekat Kuasai Liverpool: Nilai Klub Tembus Rp96 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium yang digawangi Jeff Bezos, Amit Bhatia, dan Eduardo Saverin dikabarkan akan segera mengakuisisi sepertiga saham Liverpool, mendorong valuasi klub ke angka fantastis.
- Kekhawatiran muncul terkait potensi benturan kepentingan jika Amazon berniat merebut hak siar Premier League dari Sky dan TNT Sport, mengingat status Bezos sebagai pendiri raksasa e-commerce itu.
- Regulasi Premier League saat ini tidak melarang kepemilikan silang antara klub dan broadcaster, sehingga peluang akuisisi ini tetap terbuka lebar dan diprediksi rampung pekan depan.

Kabar mengejutkan datang dari Anfield: konsorsium yang melibatkan pendiri Amazon, Jeff Bezos, dikabarkan hanya selangkah lagi menguasai sepertiga saham Liverpool. Kesepakatan yang dipimpin oleh Amit Bhatia, menantu miliarder baja Lakshmi Mittal, ini diproyeksikan melambungkan nilai klub hingga USD 6 miliar atau setara Rp96 triliun, menjadikannya salah satu transaksi terbesar dalam sejarah olahraga dunia.
Selain Bezos dan Bhatia, grup investor ini juga menggandeng Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook. Fenway Sports Group (FSG), pemilik mayoritas Liverpool saat ini, dikabarkan akan segera merilis pernyataan resmi. Sumber internal menyebutkan pengumuman final bisa terjadi paling lambat pekan depan, menandai babak baru kepemilikan klub yang bermarkas di Merseyside tersebut.
Meski nilai investasi yang ditawarkan terbilang raksasa, langkah ini tidak lepas dari sorotan tajam. Darragh MacAnthony, pemilik Peterborough United, melontarkan peringatan keras. Menurutnya, ada satu hal yang berpotensi menghadang jalan Bezos: ambisi Amazon untuk bersaing memperebutkan hak siar Premier League. Jika Amazon berniat menyaingi Sky Sports dan TNT Sport, MacAnthony meragukan hal itu bisa terjadi setelah Bezos resmi menjadi pemilik saham Liverpool.
Kekhawatiran MacAnthony memang beralasan, mengingat Amazon selama ini telah beberapa kali memegang paket siaran Premier League. Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut mungkin berlebihan. Bezos bertindak sebagai individu, bukan mewakili Amazon. Ia bukan lagi CEO perusahaan tersebut, sehingga secara hukum dan etika bisnis, investasi pribadinya tidak serta-merta terikat dengan kepentingan korporasi Amazon.
Hingga saat ini, Premier League tidak memiliki aturan yang melarang seorang pemilik klub memiliki kepentingan di perusahaan penyiaran. Masalah baru akan muncul jika Amazon, sebagai entitas korporasi, yang mengambil alih kendali Liverpool. Namun, skenario itu dinilai masih jauh dari kenyataan. Dengan demikian, peluang Bezos untuk duduk di kursi pemilik Liverpool tetap terbuka lebar.
"Satu hal yang saya pertanyakan, jika Amazon suatu saat ingin menyaingi Sky untuk hak siar Premier League, itu bisa menjadi masalah. Itu mungkin tidak diizinkan karena mereka adalah pemegang saham utama Liverpool," ujar MacAnthony di talkSPORT.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menjadi sinyal bahwa industri sepak bola global semakin menarik minat investor kelas kakap. Masuknya figur seperti Bezos dan Saverin tidak hanya mengubah lanskap kepemilikan klub, tetapi juga berpotensi mendongkrak daya saing Liverpool di kancah Eropa. Suntikan dana segar itu diyakini akan memperkuat posisi The Reds dalam perburuan gelar, sekaligus menjadi pembanding bagi klub-klub Asia Tenggara yang mulai melirik investor asing.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah kesepakatan ini akan batal, melainkan seberapa jauh FSG bersedia melepas kendali. Apakah langkah ini hanya awal dari ambisi Bezos untuk memiliki klub secara penuh? Atau justru menjadi pintu masuk bagi Amazon untuk menguasai hak siar Premier League secara menyeluruh? Jawabannya akan menentukan arah masa depan salah satu klub paling bersejarah di Inggris.



