Gelombang Panas Eropa Kembali Menerjang: Inggris dan Prancis Bersiap Hadapi Rekor Suhu Baru
Baca dalam 60 detik
- Suhu ekstrem diprediksi menembus 40°C di Prancis tenggara dan 36°C di Inggris pekan ini, memicu peringatan kesehatan.
- Data Copernicus mencatat Juli 2026 sebagai bulan terpanas untuk suhu permukaan laut, memperkuat indikasi tahun ini bisa memecahkan rekor.
- Kekeringan parah dan kebakaran hutan yang melanda Eropa Barat menjadi sinyal nyata percepatan perubahan iklim yang perlu diantisipasi Indonesia.

Eropa Barat kembali bersiap menghadapi serangan gelombang panas kelima musim ini, dengan Prancis dan Inggris berada di garis depan. Badan meteorologi Prancis, Météo-France, telah mengeluarkan peringatan suhu mendekati 40 derajat Celsius mulai Selasa (11/8) di wilayah tenggara, sementara Inggris memasang peringatan kesehatan tingkat amber untuk sebagian besar wilayahnya karena suhu diprediksi mencapai 36 derajat Celsius akhir pekan ini.
Rentetan cuaca ekstrem yang dimulai sejak Mei ini telah memicu kebakaran hutan besar, kekeringan berkepanjangan, dan memecahkan rekor suhu nasional di sejumlah negara. Data iklim global menunjukkan tahun 2026 sejauh ini menempati posisi ketiga terpanas, di belakang 2024 dan 2025. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa kombinasi pemanasan global akibat aktivitas manusia dan fenomena El Nino yang kuat dapat mendorong tahun ini menjadi yang terpanas sepanjang sejarah.
Laporan terbaru Copernicus, lembaga pemantau iklim Eropa, mengungkapkan suhu permukaan laut rata-rata pada Juli mencapai 20,96 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya sebesar 20,89 derajat Celsius pada 2023. Sementara itu, suhu udara permukaan global rata-rata bulan lalu tercatat 16,90 derajat Celsius, menjadikannya Juli terpanas kedua bersama 2024. Di Eropa Barat, suhu rata-rata periode Juni-Juli mencapai 21,62 derajat Celsius, menggeser rekor 2022.
"Sistem tekanan tinggi yang persisten memerangkap panas di Eropa barat, memperparah kekeringan. Ketika tanah mengering, kemampuan pendinginan alami hilang, sehingga panas semakin mudah terakumulasi," ujar Samantha Burgess, pimpinan strategis iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa. "Ini contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperkuat ekstrem panas, dengan panas dan kekeringan saling menguatkan."
Dampaknya sudah terasa nyata. Di Prancis, peringatan gelombang panas pertama kali dikeluarkan pada Mei ketika lebih dari separuh negara mencatat rekor suhu bulanan. Juni menjadi bulan mematikan dengan sedikitnya 5.700 kematian berlebih, dan 23 Juni tercatat sebagai hari terpanas dalam sejarah Prancis dengan suhu mencapai 44,3 derajat Celsius di barat daya. Kebakaran hutan besar di barat daya pada Juli memaksa 220.000 orang mengungsi, salah satu evakuasi terbesar sejak Perang Dunia II.
Inggris, yang mengalami sedikit penurunan suhu pada Senin, tetap bersiaga menghadapi gelombang panas kelima. Data sementara menunjukkan Inggris dan Wales mengalami Juli terkering sejak pencatatan dimulai pada 1836, dengan 19 wilayah di Inggris tidak diguyur hujan sama sekali. Dua gelombang panas sebelumnya pada Mei dan Juni telah menyebabkan lebih dari 2.800 kematian berlebih. Seorang remaja berusia 18 tahun tenggelam di Camber Sands, pantai selatan Inggris, menambah daftar puluhan korban di perairan terbuka dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, Spanyol masih berjuang memadamkan beberapa kebakaran hutan. Kebakaran di Tírig, Valencia, yang mulai Jumat lalu telah menghanguskan lebih dari 8 kilometer persegi dan melibatkan 300 personel serta 21 pesawat. Wilayah Huelva di selatan juga dilanda kebakaran serupa sejak Kamis.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim yang tidak bisa diabaikan. Meski berada di khatulistiwa, pola cuaca ekstrem seperti El Nino juga mempengaruhi musim kemarau dan kebakaran hutan di dalam negeri. Peningkatan suhu global yang terus memecahkan rekor menuntut langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih serius, baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi skenario terburuk ketika gelombang panas dan kekeringan ekstrem semakin sering terjadi?



