Mourinho Menangis di Telepon Ferguson: Kisah di Balik Batalnya Suksesi Manchester United
Baca dalam 60 detik
- Dokumenter Netflix mengungkap Mourinho sempat sepakat menggantikan Ferguson pada 2013, tapi membatalkannya dalam hitungan hari demi menepati janji ke Chelsea.
- Keputusan itu membuat United beralih ke David Moyes, yang gagal mempertahankan kejayaan tim, dan menjadi titik balik kemunduran klub.
- Andai Mourinho langsung menggantikan Ferguson, transfer Thiago Alcantara dan penanganan skuat senior disebut-sebut akan jauh berbeda.

Sebuah pengakuan yang telah lama menjadi spekulasi akhirnya terungkap: Jose Mourinho sebenarnya hampir saja menjadi penerus Sir Alex Ferguson di Manchester United pada 2013. Namun, dalam hitungan hari setelah kesepakatan lisan tercapai, pelatih asal Portugal itu justru menarik diri dengan alasan keluarga. Kisah ini kini didokumentasikan dalam serial Netflix tentang karier Mourinho yang tayang mulai 11 Agustus, membuka kembali luka lama di Old Trafford.
Menurut sumber BBC Sport, proses negosiasi sebenarnya telah berlangsung berminggu-minggu, dengan pertemuan di Madrid dan London. Ferguson, yang mengagumi Mourinho, secara mengejutkan memberi tahu pelatih berusia 63 tahun itu bahwa ia akan pensiun setelah musim 2012-13. Tawaran itu diterima dengan antusias, dan negosiasi bergerak cepat menuju kesepakatan. Namun, keputusan itu tiba-tiba berubah. Ferguson mengenang momen ketika Mourinho meneleponnya sambil menangis, mengatakan bahwa ia tidak bisa mengingkari janji kepada Chelsea.
Keputusan Mourinho menjadi titik balik besar bagi Manchester United. Saat itu, klub tidak hanya kehilangan Ferguson, tetapi juga direktur eksekutif David Gill yang sangat dihormati. Manajemen klub merasa perlu restrukturisasi besar-besaran, dan sosok sekelas Mourinho dianggap mampu memikul beban transisi tersebut. Namun, dengan mundurnya Mourinho dan Pep Guardiola yang sudah berkomitmen ke Bayern Munich, United beralih ke David Moyes. Manajer Everton itu dijuluki "The Chosen One", tetapi kenyataannya jauh dari harapan. Kegagalan Moyes membawa United ke posisi ketujuh menjadi awal dari periode kemunduran yang panjang.
Mourinho akhirnya tetap menjadi manajer United pada 2016, menggantikan Louis van Gaal. Namun, situasinya jauh berbeda dari tiga tahun sebelumnya. Skuat yang diwarisinya tidak lagi sama, dan Mourinho sendiri telah berubah setelah pengalaman pahit di Chelsea. Meski meraih sukses di musim pertama dengan memenangkan Liga Europa dan Piala EFL, serta dua kali lolos ke Liga Champions, hubungannya dengan pemain kunci seperti Paul Pogba memburuk. Ia juga mengkritik manajemen karena tidak mendukung keinginannya menjual Anthony Martial. Kontroversi demi kontroversi membuat masa jabatannya berakhir dengan kekacauan.
Andai Mourinho langsung menggantikan Ferguson pada 2013, banyak yang percaya hasilnya akan berbeda. Kepribadiannya yang percaya diri mungkin akan membuatnya berani mengambil keputusan besar di bursa transfer. Sumber menyebutkan bahwa kesepakatan dengan Thiago Alcantara dari Barcelona akan dieksekusi, dan kekacauan transfer Marouane Fellaini yang akhirnya dibeli seharga ยฃ27,5 juta di hari terakhir bursa bisa dihindari. Mourinho bahkan sempat memberikan rekomendasi pemain, termasuk gelandang Italia Daniele de Rossi. Selain itu, ia dianggap mampu memaksimalkan performa pemain senior yang diwariskan Ferguson, sesuatu yang gagal dilakukan Moyes.
"Dia menelepon saya suatu malam dan menangis. Dia berkata: 'Alex, saya tidak tahan. Saya sudah berjanji kepada Chelsea dan saya tidak akan mengingkari janji saya'," kenang Ferguson dalam dokumenter tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kontinuitas kepemimpinan. Klub-klub besar di Indonesia sering kali menghadapi masalah serupa ketika terjadi pergantian pelatih atau manajemen. Keputusan yang diambil dalam momen transisi bisa menentukan arah klub selama bertahun-tahun. Manchester United, yang hingga kini masih mencari konsistensi pasca-Ferguson, adalah contoh nyata bagaimana satu keputusan yang salah dapat membawa dampak jangka panjang.
Kini, dengan dokumenter yang mengungkap detail di balik layar, pertanyaan besarnya adalah: apakah Manchester United akan pernah benar-benar pulih dari keputusan Mourinho pada 2013? Atau justru kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, momen-momen kecil sering kali menentukan nasib besar sebuah klub?



