50 Tahun Tanpa Pembalap Wanita di F1, Inisiatif Baru Coba Pecah Kebuntuan
Baca dalam 60 detik
- Tonggak sejarah kelam F1: sudah setengah abad sejak wanita terakhir turun di grand prix, dan CEO F1 memperkirakan tunggu minimal lima tahun lagi.
- Program More Than Equal, digagas David Coulthard dan Karel Komarek, menjaring bakat muda seperti Alexia Danielsson dengan pendekatan data dan dukungan ergonomis.
- F1 Academy dan meningkatnya performa pembalap wanita di seri junior dinilai sebagai fondasi, meski jalan menuju grid utama masih panjang.

LONDON, 10 Agustus โ Formula 1 kembali diingatkan pada sebuah ironi besar: sudah 50 tahun berlalu sejak seorang wanita terakhir kali duduk di grid grand prix, dan tanda-tanda perubahan masih samar. Di tengah euforia popularitas F1 yang meledak, pertanyaan tentang kesetaraan gender di ajang balap paling prestisius ini kembali mengemuka, terutama dengan lahirnya inisiatif-inisiatif baru yang berusaha memutus rantai sejarah panjang tersebut.
Momen ini terasa pahit ketika menyadari bahwa sejak tahun 1976, tidak ada satu pun wanita yang berhasil tampil dalam seri kejuaraan dunia F1. Padahal, jumlah pembalap wanita di level junior terus bertambah, seperti Alexia Danielsson, pembalap Swedia berusia 17 tahun yang kini berkompetisi di Central European F4. Danielsson, yang mulai gokar di usia enam tahun, adalah salah satu dari segelintir talenta yang mendapat dukungan dari More Than Equal, sebuah program nirlaba yang didirikan pada 2022 oleh mantan pembalap F1 David Coulthard dan miliarder asal Ceko, Karel Komarek. Ambisi program ini jelas: menjadi katalis bagi lahirnya juara dunia F1 wanita pertama.
Namun, jalan menuju mimpi itu terjal. Stefano Domenicali, CEO F1, pada 2024 lalu mengakui bahwa dalam lima tahun ke depan, kemungkinan besar belum akan ada wanita di grid. Pernyataan ini menjadi pengakuan pahit bahwa perubahan struktural di dunia balap membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan. Tom Stanton, CEO More Than Equal, menegaskan bahwa programnya bukan sekadar tim balap dengan mobil berstiker mencolok, melainkan fokus pada pembinaan pembalap secara menyeluruh. "Kami membangun pembalap, bukan sekadar tampil di sirkuit," ujarnya.
Salah satu terobosan yang dilakukan More Than Equal adalah menciptakan platform bernama FutureLap, yang menganalisis data dari kejuaraan gokar dan formula junior untuk menemukan talenta terpendam, baik pria maupun wanita. Selain itu, mereka juga menggandeng University of Portsmouth untuk meneliti ergonomi khusus wanita di mobil Formula 4, sebuah aspek yang sering diabaikan namun krusial. Stanton juga menyoroti masalah data yang bias gender: "Di Inggris, Andrea adalah nama perempuan, tapi di Italia itu nama laki-laki. Hasil balapan tidak menandai gender, sehingga banyak pembalap wanita yang 'tidak terlihat' oleh sistem."
Langkah ini sejalan dengan meningkatnya jumlah pembalap wanita yang tampil kompetitif di seri junior. Abbi Pulling dari Inggris, misalnya, sukses memenangkan F1 Academy 2024 dan juga balapan di British F4, sementara Doriane Pin, juara bertahan F1 Academy, telah mendapat kesempatan menguji mobil Mercedes F1. F1 Academy sendiri, yang didukung penuh oleh F1, menjadi wadah yang menggantikan W Series dan memberikan panggung bagi pembalap wanita di akhir pekan grand prix. Stanton menilai, semakin banyak wanita yang tampil di papan atas, semakin besar perhatian yang akan mereka dapatkanโsekaligus beban ekspektasi yang menyertainya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dengan upaya membangun ekosistem balap yang lebih inklusif. Meski belum ada pembalap wanita Indonesia yang menembus level internasional, inisiatif seperti More Than Equal bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan bakat muda di Tanah Air. Federasi Otomotif Indonesia (IMI) dan para promoter balap lokal dapat belajar dari pendekatan berbasis data dan dukungan ergonomis yang dilakukan program tersebut. Jika Indonesia serius melahirkan pembalap wanita berkelas dunia, investasi pada pembinaan usia dini dan penghapusan bias gender dalam sistem kompetisi menjadi langkah awal yang krusial.
Stanton optimistis bahwa perubahan akan datang, meski ia mengibaratkan perjalanan ini seperti mendaki Everestโsulit, tapi bukan mustahil. "Akan butuh desa untuk membesarkan anak ini," katanya, menekankan perlunya kolaborasi antara tim, sponsor, dan sistem pendukung lainnya. Pertanyaannya, apakah F1 dan seluruh ekosistemnya siap berubah lebih cepat dari setengah abad yang telah berlalu? Atau akankah kita masih menunggu 50 tahun lagi untuk melihat wanita di grid?



