Dakota Ditcheva Kembali Cedera: Dua Tangan Patah Usai Kemenangan, Petarung Inggris Ini Menangis dan Siap Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Petarung MMA Inggris, Dakota Ditcheva, mengaku menangis terus-menerus setelah mengalami patah tulang di kedua tangannya saat mengalahkan Denise Kielholtz di PFL New York.
- Cedera ini merupakan kemunduran kedua dalam setahun; sebelumnya ia sempat absen karena patah tulang tangan kiri, dan kini tangan kanannya juga bermasalah.
- Ditcheva, yang belum terkalahkan dalam 16 pertarungan, optimistis bisa kembali lebih cepat dan menegaskan kariernya belum berakhir.

Petarung MMA asal Inggris, Dakota Ditcheva, kembali harus menepi setelah mengalami patah tulang di kedua tangannya. Cedera ini terjadi saat ia meraih kemenangan mutlak atas Denise Kielholtz di ajang PFL New York, awal bulan ini. Ditcheva mengaku telah menangis tanpa henti selama sepekan terakhir, tetapi ia menegaskan kariernya belum berakhir.
Kemenangan atas Kielholtz seharusnya menjadi momentum kebangkitan bagi Ditcheva setelah absen lebih dari setahun. Namun, di balik kemenangan tersebut, ia menyimpan rasa sakit yang luar biasa. Dalam wawancara di kanal YouTube-nya, Ditcheva mengungkapkan bahwa ia merasakan patah tulang sejak ronde kedua, tetapi memilih menyembunyikannya dari tim dan penonton. "Saya tidak memberi tahu corner saya. Saya tidak memberi tahu siapa pun. Saya tidak menunjukkannya kali ini, dan saya baru memberi tahu setelah keluar dari kandang," ujarnya.
Cedera ini merupakan pukulan telak bagi petarung berusia 28 tahun yang sebelumnya juga mengalami patah tulang tangan kiri pada Juli 2025. Saat itu, ia memilih tidak menjalani operasi dengan harapan tulangnya bisa pulih dengan sendirinya. Namun, keputusan itu justru memperparah kondisinya. "Saya diberi tahu bahwa jika tidak operasi, ada kemungkinan patah lagi. Saya mengambil risiko, tetapi ternyata tidak bertahan," katanya. Kini, ia harus kembali memakai bidai dan menunggu keputusan dokter mengenai langkah selanjutnya.
Ditcheva adalah salah satu bintang terbesar PFL dan petarung Inggris paling berbakat. Pada 2024, ia memenangkan turnamen kelas terbang PFL, menjadi wanita Inggris pertama yang meraih gelar juara dunia MMA besar, sekaligus membawa pulang hadiah US$1 juta (sekitar Rp15,6 miliar). Prestasi ini menempatkannya di jajaran elit MMA dunia, dan cedera beruntun menjadi ujian terbesar dalam kariernya.
Kabar ini tentu menjadi perhatian bagi penggemar MMA di Indonesia, yang semakin antusias mengikuti perkembangan olahraga ini. Meski belum ada petarung Indonesia yang berlaga di PFL, kesuksesan Ditcheva menjadi inspirasi bahwa atlet dari negara non-tradisional bisa bersaing di level tertinggi. Selain itu, PFL sendiri terus berekspansi ke Asia, dan Indonesia berpotensi menjadi pasar menarik bagi ajang ini.
Ditcheva sendiri tetap optimistis. Meski harus menjalani masa pemulihan, ia yakin bisa kembali lebih cepat dari sebelumnya. "Saya akan kembali. Ini tidak akan menghentikan saya. Karier saya belum selesai," tegasnya. Ia juga mengakui bahwa ia menangis terus-menerus, tetapi itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk pelepasan emosi setelah melewati masa sulit.
Pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana Ditcheva mengelola cedera ini agar tidak menggerogoti mental dan performanya. Dengan usia yang masih 28 tahun, ia masih punya banyak waktu untuk bangkit. Namun, cedera beruntun seperti ini bisa menjadi sinyal bahwa tubuhnya perlu perhatian ekstra. Apakah ia akan mengubah gaya bertarungnya atau justru semakin agresif? Publik MMA dunia, termasuk Indonesia, akan menantikan kembalinya petarung tangguh ini.



