Investor Ritel Mulai Lepas Saham SpaceX: Sinyal Jenuh atau Ambil Untung?
Baca dalam 60 detik
- Pada 7 Agustus, investor ritel mencatat penjualan bersih pertama saham SpaceX sejak IPO, dengan nilai jual bersih mencapai US$4,5 juta.
- Aksi jual terjadi saat harga saham memantul mendekati harga IPO, mengindikasikan investor memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan.
- Pelonggaran lockup yang melipatgandakan jumlah saham beredar berpotensi menambah tekanan jual dalam beberapa pekan ke depan.

Setelah berminggu-minggu menjadi pendukung setia, investor ritel akhirnya berbalik arah menjadi penjual bersih saham SpaceX untuk pertama kalinya sejak perusahaan roket milik Elon Musk melantai di bursa pada Juni lalu. Data dari Vanda Research menunjukkan, pada 7 Agustus, para pedagang individu melepas saham senilai US$4,5 juta secara bersih โ sebuah angka yang mungkin kecil, tetapi menjadi sinyal psikologis yang signifikan bagi pasar.
Perubahan sentimen ini terjadi di tengah gejolak harga saham yang cukup liar. Sejak debut pada 12 Juni dengan harga US$135 per saham, saham SpaceX sempat melonjak hingga 67 persen sebelum akhirnya terkoreksi tajam dan sempat jatuh lebih dari 22 persen di bawah harga IPO. Pada 5 Agustus, saham sempat merosot 13,6 persen dalam sehari, dan saat itulah investor ritel justru gencar membeli โ mencatatkan aksi beli harian tertinggi keempat sejak IPO. Namun, hanya dua hari kemudian, arah berbalik.
Menurut Sam North, analis pasar di eToro, pergeseran dari pembelian konsisten menjadi penjualan jarang disebabkan oleh satu pemicu tunggal. "Biasanya ini kombinasi dari aksi ambil untung, kelelahan posisi, dan investor yang menilai ulang rasio risiko-imbalan," ujarnya. Ia menyoroti bahwa aksi jual pada Jumat lalu terjadi justru saat saham sedang memantul kuat dan kembali mendekati harga IPO. "Itu terlihat seperti investor memanfaatkan kekuatan untuk menguangkan sebagian posisi, bukan aksi jual panik," tambah North.
Meski demikian, skala penjualan ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan rekor pembelian harian tertinggi SpaceX yang mencapai US$144,6 juta pada 16 Juni. Namun, yang perlu dicermati adalah konteks yang lebih luas: saham SpaceX telah ditutup di bawah harga IPO setiap hari sejak 16 Juli, dan tekanan jual diperkirakan akan bertambah seiring berakhirnya masa lockup secara bertahap. Pekan lalu, jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik meningkat lebih dari dua kali lipat setelah lockup pertama berakhir, dan masih ada beberapa tahap lockup berikutnya yang akan datang.
Faktor lain yang ikut membebani adalah laporan keuangan kuartalan pertama SpaceX sebagai perusahaan publik. Meskipun manajemen memamerkan pengembalian investasi yang lebih cepat dari belanja AI, kekhawatiran tetap muncul mengenai apakah bisnis Starlink yang menguntungkan akan mampu terus mendanai investasi AI yang mahal dalam jangka panjang. Ketidakpastian ini membuat sebagian investor, terutama ritel, mulai menahan diri.
Di Indonesia, fenomena ini menarik untuk disimak mengingat meningkatnya minat investor ritel terhadap saham-saham teknologi global, termasuk melalui platform perdagangan internasional. Meskipun akses langsung ke saham SpaceX masih terbatas, sentimen pasar AS sering kali menjadi acuan bagi pergerakan saham teknologi di dalam negeri. Jika tren penjualan ritel ini berlanjut, bisa jadi ada efek rambatan ke pasar saham domestik, terutama pada saham-saham yang terkait dengan eksplorasi antariksa atau teknologi tinggi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah aksi jual ini hanya koreksi sesaat atau awal dari tren yang lebih panjang. Dengan masih adanya lockup berikutnya dan laporan keuangan yang akan terus dievaluasi, investor ritel di seluruh dunia โ termasuk Indonesia โ perlu mencermati apakah SpaceX masih layak dipertahankan dalam portofolio mereka. Satu hal yang pasti: era "hype" pasca-IPO telah berakhir, dan kini pasar sedang menguji fundamental perusahaan.



