Susanna Reid Peringatkan AI Ancam Jurnalisme TV, Soroti Masa Depan Berita Pagi
Baca dalam 60 detik
- Presenter Good Morning Britain, Susanna Reid, mengungkapkan kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan peran manusia dalam industri televisi, terutama berita pagi.
- Ia menilai AI berpotensi menghilangkan elemen kejutan dan keragaman informasi yang menjadi ciri khas acara berita pagi.
- Meski demikian, Reid tetap fokus pada kariernya saat ini dan tidak memikirkan opsi lain di luar GMB.

Presenter Good Morning Britain, Susanna Reid, menyuarakan keprihatinannya tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap jurnalisme televisi. Dalam wawancara dengan majalah Woman and Home, ia menyatakan bahwa AI dapat mengikis esensi acara berita pagi yang selama ini menjadi sumber informasi dan hiburan bagi jutaan penonton.
Reid, yang telah menjadi presenter utama GMB sejak 2014 setelah 13 tahun di BBC Breakfast, mengaku tengah menikmati setiap momen kariernya di layar kaca. Namun, ia tidak menutup mata terhadap kemungkinan bahwa suatu saat ia akan digantikan oleh versi AI. "Saya menikmati setiap momen di televisi karena siapa yang tahu kapan saya akan digantikan oleh versi AI?" ujarnya.
Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin terjebak dalam algoritma masing-masing. Menurut Reid, orang cenderung hanya ingin mengonsumsi informasi yang sesuai dengan minat pribadi mereka. Hal ini dinilainya mengkhawatirkan, terutama dalam konteks berita pagi yang harus menjangkau audiens dengan beragam kepentingan. "Ketika Anda berada di dunia berita, urusan terkini, dan jurnalisme seperti saya, Anda berbicara kepada audiens sarapan yang memiliki sejuta minat berbeda. Anda menjaga semangat orang dengan hiburan, tetapi pada saat yang sama menyampaikan berita sulit dan menantang tentang ekonomi dan peristiwa dunia," jelasnya.
Reid menambahkan bahwa jika AI mengambil alih dan menyajikan berita yang sangat tersegmentasi, maka akan hilang momen di mana penonton menemukan informasi yang tidak mereka sadari mereka butuhkan. "Anda akan kehilangan rasa 'Saya tidak menyadari saya ingin tahu tentang itu' atau 'Itu tidak terpikir oleh saya'," tuturnya.
Meskipun memiliki kekhawatiran tersebut, Reid menegaskan bahwa ia tidak memikirkan peran di luar GMB. "Saya tidak berpikir melampaui GMB. Saya tidak akan melakukannya sampai seseorang berkata, 'Terima kasih banyak. Anda bisa tidur lebih lama besok!'" ucapnya. Ia juga menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang abadi. "Sangat penting untuk menerima bahwa Anda tidak akan bekerja selamanya di pekerjaan tertentu. Apa pun alasannya, things change. Akan selalu ada hal lain. Mungkin saya akan memiliki podcast sendiri - saya penggemar berat podcast," tambahnya.
Di balik kehidupan publiknya selama sekitar tiga dekade, Reid mengaku masih bisa menjaga beberapa aspek kehidupannya tetap privat. "Saya memiliki area yang publik dan orang tahu tentang itu, dan kemudian ada bagian dari hidup saya yang tidak," katanya. Ketika ditanya apakah publik bisa mengetahui bahwa ia diam-diam menikah suatu hari nanti, ia tertawa dan berkata, "Itu akan menjadi penemuan bagi saya juga."
Kekhawatiran Reid ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di industri media tentang peran AI. Di Indonesia, industri televisi juga menghadapi tantangan serupa. Stasiun televisi nasional mulai mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi produksi, seperti pembuatan naskah otomatis dan penyuntingan video. Namun, para praktisi media mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan sentuhan manusia dalam menyampaikan berita yang mendalam dan berimbang. "AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan empati dan nalar kritis jurnalis," ujar seorang pengamat media di Jakarta.
Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, pertanyaan tentang sejauh mana teknologi ini akan mengubah lanskap jurnalisme televisi masih menjadi perdebatan. Apakah AI akan menjadi alat bantu atau justru menggeser peran manusia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi bagi Reid, yang jelas ia akan terus menikmati setiap detik di depan kamera.



