Bella Ramsey Malu Punya Rumah di Usia 22: 'Seperti Glitch di Sistem'
Baca dalam 60 detik
- Aktor The Last of Us, Bella Ramsey, mengaku canggung memiliki apartemen di London di usia 22 tahun, merasa itu anomali di tengah krisis properti.
- Karier akting sejak usia 11 tahun memungkinkan Ramsey membeli rumah, namun ia menyadari privilege tersebut tidak dimiliki kebanyakan anak muda.
- Pengakuan Ramsey memicu diskusi tentang kesenjangan kepemilikan rumah antargenerasi, relevan dengan kondisi milenial dan Gen Z di Indonesia.

Bella Ramsey, bintang serial The Last of Us, mengaku merasa malu dan canggung setelah berhasil membeli apartemen satu kamar di London di usia 22 tahun. Baginya, kemampuan memiliki rumah di usia semuda itu terasa seperti 'glitch di sistem' โ sebuah anomali yang justru memicu rasa bersalah di tengah krisis keterjangkauan properti yang melanda banyak negara.
Aktor yang menggunakan pronoun they/them ini melontarkan pengakuan tersebut dalam wawancara dengan The Guardian. Ramsey, yang mulai berkarier sejak usia 11 tahun lewat peran di Game of Thrones dan The Worst Witch, mengakui bahwa pendapatan dari industri hiburan โ yang menurutnya 'membayar terlalu mahal' โ menjadi satu-satunya alasan ia bisa membeli rumah. Padahal, bagi kebanyakan orang seusianya, memiliki hunian pribadi hanyalah mimpi yang semakin jauh.
Fenomena ini bukan sekadar kisah pribadi seorang selebritas. Di Inggris, harga properti rata-rata telah melonjak jauh melampaui pertumbuhan upah, membuat kepemilikan rumah pertama semakin sulit dijangkau generasi muda. Ramsey, yang sadar akan privilege-nya, menyebut situasi ini terasa 'sangat salah' dan mengaku 'merasa malu' karena bisa melakukan sesuatu yang di luar jangkauan banyak orang.
Di sisi lain, Ramsey tidak menyesali keputusannya. Hidup sendiri memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus 'melebur' dengan orang lain. Ia mengaku bahwa tinggal bersama orang lain membuatnya kehilangan sebagian identitasnya, dan memiliki rumah sendiri memberinya kebebasan untuk 'pulang dan menjadi diriku sendiri'. Ini menjadi alasan kuat mengapa ia memilih membeli hunian meski merasa bersalah.
Kisah Ramsey mencerminkan dilema yang lebih luas: ketika generasi muda di berbagai negara, termasuk Indonesia, berjuang menghadapi harga properti yang melambung, sebagian kecil yang beruntung justru merasa bersalah atas privilege mereka. Di Indonesia, fenomena serupa terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana harga rumah di kawasan strategis sering kali hanya terjangkau oleh mereka yang bekerja di sektor tertentu atau memiliki dukungan finansial keluarga.
Setelah sempat mengambil jeda karena kelelahan, Ramsey kini siap kembali syuting musim terbaru The Last of Us. Ia mengaku sempat kehilangan inspirasi dan merasa jenuh, namun kini justru merindukan pekerjaannya. Keputusan untuk beristirahat, menurutnya, adalah bentuk penghormatan pada dirinya yang berusia 11 tahun, yang dulu sangat mencintai akting.
Ke depan, pengakuan Ramsey membuka ruang diskusi tentang bagaimana industri hiburan dan kebijakan perumahan dapat lebih adil. Apakah akan ada perubahan dalam cara generasi muda memandang kepemilikan rumah, atau justru semakin banyak yang memilih untuk tidak membeli? Pertanyaan ini relevan tidak hanya bagi para penggemar, tetapi juga bagi para pembuat kebijakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.



