Rangers Terpuruk: Tiga Laga Tanpa Kemenangan, McInnes Diambang Krisis
Baca dalam 60 detik
- Rangers gagal meraih kemenangan dalam tiga laga awal musim, termasuk kekalahan kandang dari Hibernian.
- Rotasi besar-besaran di lini belakang dan inkonsistensi performa menjadi sorotan utama para pengamat.
- Tekanan meningkat menjelang leg kedua kualifikasi Europa League melawan Jagiellonia Bialystok.

Hanya butuh sembilan hari bagi Rangers untuk berubah dari harapan besar menjadi kekhawatiran. Tiga pertandingan, tiga hasil buruk, dan lima gol kebobolan—awal musim yang diimpikan Derek McInnes berubah menjadi mimpi buruk. Kekalahan kandang 1-2 dari Hibernian pada akhir pekan lalu memperpanjang rentetan tanpa kemenangan, memicu pertanyaan serius tentang arah tim asal Glasgow itu.
Masalahnya bukan hanya soal hasil, tetapi juga cara bermain. Rangers tampil inkonsisten, kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan, dan yang lebih mengkhawatirkan, lini belakang mereka rapuh. Dalam tiga laga tersebut, McInnes sudah mencoba tiga komposisi bek yang berbeda, namun tak satupun mampu memberikan soliditas. Kesalahan individual, seperti pelanggaran Vanja Dragojevic yang berujung penalti untuk Hibernian, menjadi pemandangan yang sering terulang.
Scott Allan, mantan gelandang Hibernian yang kini menjadi pengamat, menyoroti kebingungan taktis McInnes. "Berdasarkan penampilan hari ini, saya sangat terkejut jika Derek McInnes tahu susunan pemain terbaiknya. Kita sudah memasuki laga-laga besar, dan ini masalah," ujarnya di BBC Radio Scotland. Kritik ini menegaskan bahwa masalah Rangers bukan hanya di atas kertas, tetapi juga di lapangan.
Krisis ini datang di saat yang tidak tepat. Rangers akan menghadapi leg kedua kualifikasi Europa League melawan Jagiellonia Bialystok pada Kamis mendatang. Setelah kalah di leg pertama, mereka wajib menang untuk menjaga asa lolos. Namun, dengan kepercayaan diri yang rendah dan masalah pertahanan yang belum tuntas, target itu tampak sulit dicapai. Apalagi, kabar cedera Youssef Chermiti yang ditarik keluar dengan tandu menambah daftar masalah.
McInnes sendiri menilai kekalahan dari Hibernian tidak adil. "Kami adalah tim yang lebih baik dan pantas mendapatkan lebih dari yang kami dapat," katanya. Ia menyebut penalti yang diberikan kepada Hibernian sebagai keputusan yang diperdebatkan. Meski demikian, ia mengakui bahwa hasil ini merupakan pukulan telak dan timnya harus segera bangkit. "Kami datang ke sini untuk menang dan kami berharap menang. Sekarang kami harus membuang kekecewaan ini," ujarnya.
Ryan Jack, mantan gelandang Rangers, mengingatkan bahwa tiga laga tanpa kemenangan biasanya sudah memasuki zona krisis. "Jika Anda tidak menang dalam satu laga, itu masalah. Dua laga, lebih buruk. Tiga laga, biasanya orang mulai bertanya-tanya," katanya. Namun, ia juga memahami bahwa McInnes butuh waktu untuk membangun tim dengan banyak pemain baru. "Ini masih awal, dan banyak pemain baru yang perlu beradaptasi. Tapi saat beradaptasi, Anda tetap harus meraih hasil karena klub ini menuntutnya," tambahnya.
Dengan sembilan pemain baru yang sudah didatangkan, McInnes masih ingin menambah amunisi. Ia mengakui ada beberapa tawaran yang sedang berjalan untuk pemain incaran. "Kami punya beberapa tawaran untuk beberapa pemain dan beberapa hal sedang berlangsung. Idealnya, semua ini bisa selesai lebih cepat," katanya. Namun, cedera Chermiti dan prioritas untuk mendatangkan winger serta bek tambahan membuat situasi semakin rumit.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Rangers ini menjadi pelajaran tentang pentingnya stabilitas. Klub-klub di Liga 1 yang sering berganti pelatih dan pemain bisa belajar dari kasus ini. Rotasi berlebihan tanpa fondasi yang jelas hanya akan menghasilkan performa buruk dan tekanan publik. Pertanyaan besarnya: mampukah McInnes keluar dari tekanan ini dan membawa Rangers kembali ke jalur kemenangan?



