Kekalahan di China Open Mengancam Tahta Judd Trump di Puncak Ranking
Baca dalam 60 detik
- Judd Trump tersingkir di babak pertama China Open oleh Noppon Saengkham, membuka peluang pergeseran ranking dunia.
- Kekalahan ini memperpanjang paceklik gelar ranking Trump, yang terakhir diraih di German Masters awal tahun ini.
- Zhao Xintong, Neil Robertson, dan Wu Yize menjadi kandidat kuat untuk menggusur Trump dari posisi nomor satu.

Judd Trump harus menerima kenyataan pahit setelah tersingkir di babak pertama China Open, Minggu (24/3). Kekalahan 3-6 dari pemain Thailand, Noppon Saengkham, tidak hanya menghentikan langkahnya di turnamen, tetapi juga mengancam posisinya sebagai pemain nomor satu dunia yang telah dipegangnya sejak Agustus 2024.
Saengkham, yang menempati peringkat 45 dunia, tampil impresif dengan memenangkan tiga frame beruntun setelah Trump sempat menyamakan kedudukan. Break tertinggi 120 poin menjadi momentum kunci yang membawanya unggul 5-2, sebelum menutup pertandingan dengan kemenangan telak 78-0 di frame penentu. Kemenangan ini mengantarkan Saengkham ke babak kedua untuk berhadapan dengan pemenang antara Ronnie O'Sullivan dan Jackson Page.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Trump, yang baru saja menjuarai Shanghai Masters pekan lalu. Namun, gelar tersebut bersifat undangan, bukan turnamen ranking. Dalam dua tahun terakhir, pemain berusia 36 tahun itu hanya mampu memenangkan satu turnamen ranking, yaitu German Masters pada Februari lalu. Catatan ini menunjukkan tren penurunan performa yang mengkhawatirkan bagi sang juara dunia 2019.
China Open sendiri kembali digelar setelah vakum sejak 2019, dengan pindah lokasi dari Beijing ke Taiyuan, sekitar 500 kilometer barat daya ibu kota. Kembalinya turnamen ini ke kalender World Snooker Tour menjadi ajang pembuktian bagi para pemain, sekaligus memperketat persaingan di puncak ranking.
Untuk mempertahankan posisi nomor satu, Trump harus tampil sempurna di Wuhan Open akhir bulan ini dan berharap hasil pertandingan lain berpihak padanya. Saat ini, Zhao Xintong menjadi ancaman terdekat, diikuti Neil Robertson dan Wu Yize. Situasi ini menempatkan Trump dalam tekanan besar untuk segera bangkit.
Kekalahan ini juga menjadi peringatan bagi para penggemar snooker di Indonesia yang selama ini mengagumi permainan agresif Trump. Meski popularitas snooker di tanah air tidak sebesar bulu tangkis atau sepak bola, turnamen seperti China Open tetap menarik perhatian penggemar yang mengikuti perkembangan ranking dunia. Momentum ini bisa menjadi peluang bagi federasi snooker nasional untuk meningkatkan minat masyarakat, terutama dengan munculnya nama-nama baru di papan atas.
Selain Trump, beberapa pemain unggulan lainnya juga tumbang di babak pertama. Barry Hawkins dikalahkan Liu Hongyu, Mark Williams takluk dari Zhou Yuelong, dan Ding Junhui dihancurkan David Gilbert dengan skor 1-6. Kejutan demi kejutan ini menunjukkan bahwa persaingan di snooker profesional semakin ketat, di mana pemain non-unggulan mampu tampil percaya diri dan mengalahkan nama-nama besar.
Dengan hadiah juara sebesar ยฃ250.000, turnamen ini tentu menjadi incaran semua peserta. Namun, bagi Trump, target utamanya bukan hanya uang, melainkan mempertahankan statusnya sebagai pemain terbaik dunia. Pertanyaannya, mampukah ia bangkit di Wuhan Open dan membuktikan bahwa kekalahan ini hanya sebuah kebetulan? Atau justru ini awal dari pergeseran kekuasaan di dunia snooker?



