Jersey Baru 2026-27: Nostalgia, Kontroversi Sponsor, dan Strategi Klub Eropa
Baca dalam 60 detik
- Ratusan klub Eropa merilis jersey anyar musim 2026-27 dengan dominasi desain retro dan referensi sejarah, dari AC Milan hingga Wrexham.
- Di balik estetika, keputusan sponsor seperti Visit Rwanda di Aston Villa memicu perdebatan sportswashing, menyoroti komersialisasi sepak bola modern.
- Tren ini berpeluang memengaruhi pasar apparel Indonesia, dengan meningkatnya minat kolektor dan potensi kolaborasi brand lokal.

Musim 2026-27 belum bergulir, tetapi hiruk-pikuk sepak bola Eropa sudah terasa melalui gelombang peluncuran jersey anyar yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga memantik perbincangan soal identitas, nostalgia, dan komersialisasi. Dari AC Milan yang mengenang gelar Liga Champions terakhirnya hingga Sunderland yang berkolaborasi dengan warisan Elvis Presley, klub-klub berlomba menghadirkan desain yang diharapkan mampu membius suporter dan menembus pasar global.
BBC Sport merangkum puluhan peluncuran jersey terbaik untuk musim depan, dan polanya jelas: hampir semua klub memilih bercermin pada masa lalu. Liverpool, misalnya, sengaja menghidupkan kembali desain Adidas era 1989-1991 yang identik dengan gelar juara Divisi Satu di bawah Sir Kenny Dalglish. Manchester United pun tak ketinggalan, merilis jersey tandang yang terinspirasi kostum ketiga 1988-90 yang hanya dipakai tiga kali, lengkap dengan sejarah manis saat memakai biru di final Piala Eropa 1968 dan Liga Europa 2017.
Fenomena ini bukan sekadar gaya. Di balik setiap jahitan, tersimpan strategi pemasaran yang matang. Klub seperti Brentford bahkan mengambil langkah berani dengan mengumumkan bahwa jersey kandang anyarnya akan dipakai juga pada musim 2027-28, sebuah upaya menekan harga dan mendukung keberlanjutan. Langkah serupa diambil Bournemouth yang mencatat rekor kerja sama dengan pemasok baru Hummel, sementara Hull City memulai kemitraan dengan Oxen lewat desain yang membangkitkan era 1970-an.
Namun, tidak semua sambutan hangat. Aston Villa, misalnya, menuai kritik setelah mengumumkan Visit Rwanda sebagai sponsor utama di bagian dada jersey. Para pengamat menilai langkah ini sebagai bentuk sportswashing, mengingat isu hak asasi manusia di negara Afrika Timur tersebut. Ini menggarisbawahi bagaimana keputusan komersial di lapangan hijau kerap bersinggungan dengan politik dan etika, sebuah dilema yang semakin akrab di telinga penggemar Indonesia yang juga kerap menyaksikan kontroversi serupa di liga domestik.
Di tengah hiruk-pikuk desain, sejumlah klub justru menjadikan momen bersejarah sebagai fondasi. Celtic memperingati 60 tahun kemenangan Lisbon Lions atas Inter Milan dengan lencana khusus di dalam kerah. Fiorentina, yang merayakan seabad, menampilkan pola terinspirasi bingkai ornamen Renaisans dari kota Florence. Real Oviedo, yang genap berusia 100 tahun, merilis jersey yang disebut 'layak ditunggu satu abad'. Sementara Middlesbrough, yang berusia 150 tahun, tampil berani dengan warna merah dan emas serta lencana ulang tahun yang mencolok.
Bagi penggemar di Indonesia, tren ini bukan sekadar tontonan. Pasar apparel sepak bola di tanah air terus tumbuh, didorong oleh komunitas kolektor yang semakin aktif. Jersey retro dengan sentuhan sejarah seperti yang dirilis Grimsby Town—yang menghidupkan kembali desain ala AC Milan era Baggio, Weah, dan Maldini—berpotensi menjadi incaran. Kolaborasi seperti yang dilakukan Oxford United dengan seniman jalanan lokal Andrew Manson juga bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub Indonesia untuk menggandeng kreator lokal dalam merancang merchandise.
“Jersey bukan sekadar kain. Ia adalah identitas, sejarah, dan kini juga instrumen pemasaran yang semakin kompleks,” ujar seorang analis pemasaran olahraga yang enggan disebutkan namanya.
Pertanyaannya, akankah nostalgia ini bertahan lama? Atau justru menjadi bumerang ketika suporter mulai jenuh dengan desain yang berulang? Yang jelas, musim 2026-27 akan menjadi panggung bagi klub-klub untuk membuktikan bahwa jersey bukan hanya soal tampilan, tetapi juga cermin dari arah dan ambisi mereka di tengah industri yang terus berubah.



