Chota House: 17 Tahun Melawan Arus Fast Fashion, dari Singapura ke Panggung Paris
Baca dalam 60 detik
- Merek fesyen lambat asal Singapura, Chota House, bertahan 17 tahun dengan produksi lokal dan detail buatan tangan, namun kini menghadapi tantangan penjualan yang turun 20-40 persen.
- Pendiri Andrew Tay menolak tren massal, memilih bahan Jepang premium dan teknik tradisional, serta baru-baru ini menembus pasar internasional lewat showcase di Paris Fashion Week.
- Di tengah krisis, dukungan pelanggan setia menjadi penyelamat, mendorong rencana ekspansi global tanpa meninggalkan akar lokal.

Di tengah hiruk-pikuk industri fesyen yang berlomba mengejar tren kilat, Chota House justru memilih jalan sunyi: memproduksi pakaian secara lambat, lokal, dan penuh detail. Selama 17 tahun, label unisex asal Singapura ini membuktikan bahwa kesetiaan pada kerajinan tangan tetap punya tempat, bahkan ketika pasar diguncang gelombang fast fashion. Namun, perjalanan itu tidak pernah mulus—terutama ketika biaya operasional naik dan daya beli masyarakat menurun drastis.
Didirikan oleh Andrew Tay pada 2009, Chota House lahir dari keberanian untuk mandiri setelah ia bekerja di Saint Laurent dan sebuah butik pria di Queensway Shopping Centre. Kini, butiknya yang hangat di lantai empat 313@somerset menjadi saksi bisu filosofi "chota"—kata Hindi yang berarti kecil—yang merujuk pada perhatian pada detail jahitan, kancing, dan kain. Tay mendeskripsikan estetikanya sebagai "gaya warisan dengan sentuhan modern", terinspirasi dari seragam militer vintage dan denim yang ia kumpulkan sejak muda.
Keputusan untuk tetap memproduksi lokal bukan tanpa alasan. Tay mengaku bahwa minimum order untuk manufaktur luar negeri terlalu tinggi, sehingga ia memilih fleksibilitas produksi skala kecil. Dengan tim tujuh perajin lepas di studio Ubi, Chota House mampu bereksperimen dengan teknik seperti pewarnaan indigo, jahitan sashiko, dan finishing patina yang sulit ditiru produksi massal. Sebanyak 90 persen kainnya didatangkan dari Jepang melalui hubungan panjang dengan pemasok tekstil generasi kedua.
Karya ikonik seperti celana Gurkha dan jaket noragi menjadi bukti dedikasi Tay pada fungsionalitas. Celana Gurkha, yang terinspirasi dari seragam tentara Nepal abad ke-19, memiliki pinggang berikat ganda yang nyaman. Jaket noragi, yang awalnya adalah pakaian kerja petani Jepang, diinterpretasi ulang dengan bahan premium dan detail warisan. Yang paling menonjol adalah jaket Levi's daur ulang yang dijahit ulang dengan panel tambal—proses yang memakan waktu lebih dari seminggu untuk satu potong, karena setiap jahitan harus dibuka dengan tangan.
Kiprah Chota House tidak hanya di ranah fesyen. Tay juga merancang seragam untuk berbagai bisnis lokal, seperti kafe Waga Waga Den, barbershop Hounds of the Baskervilles, dan terbaru untuk Singtel. Menurutnya, seragam yang baik adalah keseimbangan antara fungsi, kenyamanan, dan identitas. Kolaborasi ini mengajarkannya bahwa pakaian bukan hanya soal estetika, tetapi juga bercerita tentang nilai perusahaan dan memenuhi tuntutan pemakaian sehari-hari.
Pencapaian terbesar datang tahun lalu ketika Chota House diundang untuk tampil di Paris Fashion Week oleh Dors, dalam showcase yang menampilkan desainer Singapura. Presentasi jalanan di Le Marais bersama kolektif Tricking Paris mendapat sambutan hangat. Tay mengaku pengalaman itu membuka matanya: "Pelanggan saya tidak pernah bercerita bagaimana mereka melihat merek ini. Pers dan pembeli Prancis sangat terbuka memberi umpan balik." Lebih penting lagi, ia belajar bahwa menembus pasar internasional membutuhkan waktu—pembeli mungkin baru membeli pada pertemuan ketiga, setelah mereka familiar dengan merek tersebut.
Namun, tahun ini menjadi ujian terberat. Penjualan merosot 20-40 persen karena wisatawan dan warga lokal mengetatkan pengeluaran, ditambah biaya sewa yang meningkat. Tay sempat goyah: "Ada momen gelap di mana kami serius mempertanyakan apakah bisa bertahan." Dalam unggahan media sosial yang jujur, Chota House mengungkapkan kemungkinan untuk tutup. Responsnya di luar dugaan—kotak masuk dibanjiri pesan dukungan, dan selama sebulan toko penuh sesak. "Melihat semua orang datang mengingatkan saya mengapa kami memulai. Dukungan itu membuktikan bahwa Chota House bukan hanya impian saya lagi," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Chota House relevan dengan ekosistem fesyen lokal yang juga bergulat antara mempertahankan kearifan lokal dan tekanan pasar global. Banyak jenama Tanah Air yang mulai melirik produksi kecil, bahan alami, dan cerita di balik produk sebagai pembeda. Namun, tantangan serupa—harga yang dianggap mahal untuk merek independen—sering kali menjadi batu sandungan. Pelajaran dari Chota House adalah pentingnya membangun komunitas dan narasi yang kuat, bukan sekadar menjual pakaian.
"Saya berharap tetap setia pada kerajinan kami sambil perlahan memperluas jangkauan. Membangun dari showcase Paris, tujuan saya adalah menampilkan koleksi di berbagai negara dan terhubung dengan audiens internasional, tanpa meninggalkan akar kami di Singapura." — Andrew Tay, Pendiri Chota House
Ke depan, Tay berencana untuk terus bercerita lebih baik, bukan mengubah produk. Ia ingin menapaki panggung internasional secara bertahap, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia—dengan kecintaannya pada fesyen cepat—akan memberi ruang bagi merek lambat seperti Chota House? Atau justru kisah ini menjadi inspirasi bagi perajin lokal untuk berani melawan arus?



