Singapura Setujui Impor Listrik Tenaga Surya 900 MW dari Malaysia: Langkah Menuju Dekarbonisasi
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Energi Singapura memberikan lampu hijau bersyarat kepada dua perusahaan untuk mengimpor listrik surya dari Johor, Malaysia, dengan total kapasitas 900 MW.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Singapura untuk memangkas emisi karbon di sektor kelistrikan yang menyumbang 40 persen dari total emisi nasional.
- Jika terealisasi, proyek ini akan memperkuat konektivitas energi regional dan menjadi preseden bagi negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, dalam transisi energi.

Singapura kembali menunjukkan komitmennya dalam transisi energi dengan memberikan persetujuan bersyarat kepada dua perusahaan untuk mengimpor 900 megawatt (MW) listrik dari Malaysia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya negara tersebut untuk mengurangi emisi karbon di sektor kelistrikan yang selama ini menjadi penyumbang terbesar polusi udara.
Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura mengumumkan pada Jumat (7/8) bahwa persetujuan diberikan kepada Sembcorp Utilities dengan kapasitas 300 MW dan Southern Solar Alliance, anak perusahaan pengembang Malaysia Ditrolic Energy Holdings, dengan kapasitas 600 MW. Kedua proyek ini akan memanfaatkan energi surya dan sistem penyimpanan baterai di Johor, Malaysia, dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar tahun 2029.
Namun, sebelum mencapai tahap operasional, kedua perusahaan masih harus melewati serangkaian proses yang tidak mudah. Mereka perlu mendapatkan persetujuan regulasi dari berbagai yurisdiksi, menyelesaikan perjanjian jual beli listrik, mengamankan pendanaan, dan memenuhi tonggak pengembangan kunci untuk mencapai penutupan finansial. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada dukungan pemerintah, realisasi proyek energi lintas batas tetap membutuhkan waktu dan koordinasi yang matang.
Dalam siaran pers terpisah, Sembcorp mengungkapkan bahwa listrik akan dihasilkan dari proyek surya terapung dan penyimpanan baterai di Waduk Linggiu, Johor. Perusahaan tersebut menekankan bahwa proyek ini akan memanfaatkan infrastruktur interkoneksi bawah laut yang ada dan masa depan antara kedua negara untuk memfasilitasi aliran listrik lintas batas dan memperkuat konektivitas energi regional.
Persetujuan ini datang di tengah meningkatnya momentum kerja sama energi antara Singapura dan Malaysia. Sebelumnya, Singapura telah memberikan persetujuan bersyarat untuk mengimpor 1 gigawatt (GW) listrik rendah karbon dari Sarawak, serta menandatangani perjanjian pengembangan bersama antara Singapore Energy Interconnections, SP Group, dan Tenaga Nasional Berhad untuk mempelajari interkoneksi listrik kedua hingga 2 GW antara Singapura dan Malaysia Barat. Hingga saat ini, EMA telah memberikan persetujuan bersyarat dan lisensi bersyarat untuk 13 proyek impor listrik dari Australia, Kamboja, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Sebagai negara dengan potensi energi surya yang sangat besar, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi pemain kunci dalam perdagangan listrik lintas batas di ASEAN. Namun, hingga kini, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih terkendala oleh regulasi yang belum sepenuhnya mendukung dan infrastruktur yang terbatas. Langkah Singapura yang agresif dalam mengimpor listrik hijau bisa menjadi dorongan bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan memperkuat kerja sama energi regional.
EMA menyatakan akan terus berkomunikasi dengan perusahaan yang memiliki proposal impor yang kredibel dan layak secara komersial untuk berkontribusi pada dekarbonisasi sektor kelistrikan. Ini menunjukkan bahwa Singapura tidak hanya berhenti pada proyek ini, tetapi akan terus mencari peluang lain untuk mencapai target ambisiusnya.
Dengan target mengimpor sekitar 6 GW listrik rendah karbon pada 2035, Singapura tampaknya serius dalam mewujudkan transisi energi. Namun, pertanyaannya adalah apakah proyek-proyek ini dapat berjalan sesuai jadwal mengingat kompleksitas regulasi dan pendanaan yang harus dilalui. Apakah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak Singapura dalam membuka pasar listrik lintas batas? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Singapura ini jelas menjadi katalis bagi integrasi energi di kawasan.



