Pemerintah Arahkan Riset Nuklir untuk Energi dan Medis: BRIN Pamer Kesiapan PLTN di Istana
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memfokuskan pengembangan riset nuklir pada sektor energi dan kesehatan, dengan target jangka panjang pembangunan PLTN.
- BRIN mengklaim memiliki potensi uranium 89.000 ton dan thorium 143.000 ton, serta telah memurnikan uranium hingga 60 persen.
- Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia untuk memanfaatkan teknologi nuklir secara damai, membuka peluang investasi dan transfer teknologi.

Pemerintah menegaskan bahwa riset nuklir yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga lain diarahkan untuk kepentingan energi dan kesehatan, dengan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai salah satu prioritas utama. Pernyataan ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Kepresidenan, Jumat, usai Presiden Prabowo Subianto meninjau pameran hasil riset nuklir BRIN.
Prasetyo menjelaskan bahwa fokus riset nuklir mencakup kemungkinan pembangunan PLTN di Indonesia, pengembangan peralatan alutsista berbahan nuklir, serta pemanfaatan untuk keperluan medis. "Kalau berkenaan dengan masalah nuklir, lebih fokus ke penelitian untuk kepentingan energi dan kesehatan," ujarnya, menegaskan arah kebijakan yang lebih luas dari sekadar energi.
Pameran yang digelar di Istana Kepresidenan pada Kamis (6/8) itu memamerkan kesiapan teknologi nuklir dalam negeri, termasuk kemampuan peneliti BRIN yang telah berhasil memurnikan uranium hingga 60 persen. Selain itu, Indonesia disebut memiliki potensi uranium mencapai 89.000 ton dan thorium sebanyak 143.000 ton, angka yang menjadi modal besar untuk pengembangan energi nuklir mandiri.
Presiden Prabowo, yang menerima penjelasan langsung dari para peneliti, juga memberikan pengarahan kepada 150 peneliti BRIN. Momen ini dinilai Prasetyo sebagai langkah penting untuk mengonsolidasikan sumber daya riset nasional. Sejak awal menjabat, Prabowo telah menginstruksikan penggabungan kemampuan riset lintas lembaga agar menghasilkan temuan yang berdampak langsung bagi bangsa.
Selain nuklir, BRIN juga memamerkan riset di bidang kedirgantaraan, ketahanan air, energi dan mineral, lingkungan, perumahan, serta kebencanaan. Sektor lain yang turut dipamerkan meliputi kesehatan, transportasi, pangan, pertanian, pendidikan, perikanan, pertahanan, dan pelestarian warisan budaya. Ini menunjukkan bahwa riset nuklir hanyalah salah satu bagian dari agenda besar inovasi nasional.
Bagi Indonesia, pengembangan nuklir untuk energi dan medis membuka peluang besar, namun juga menuntut kesiapan regulasi dan pengawasan. Keberhasilan BRIN memurnikan uranium merupakan sinyal positif bagi kemandirian teknologi, meski masih jauh dari kebutuhan bahan bakar reaktor komersial. Di sisi lain, pemanfaatan nuklir untuk medis—seperti radioisotop untuk diagnosis dan terapi—bisa mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan layanan kesehatan.
Pertanyaannya kini, seberapa cepat pemerintah dapat menerjemahkan potensi ini menjadi proyek nyata? Dengan dukungan politik yang kuat dan konsolidasi riset, Indonesia berpeluang mempercepat transisi energi dan modernisasi layanan kesehatan, asalkan transparansi dan keamanan tetap dijaga.



